Rektor UMSurabaya Dr dr Sukadiono: Shalat Tahajud secara Rutin Mengurangi Risiko Serangan Jantung

2643
Pasang Iklan Murah
Dr dr Sukadiono MM (kanan) saat menjelaskan relasi shalat Tahajud dengan kesehatan. (Nasafi/PWMU.CO)

PWMU.CO – Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya) Dr dr Sukadiono MM mengupas tuntas shalat Tahajud dari aspek kesehatan dalam Pengajian Ramadhan V 1440 yang diselenggarakan Tim Al Islam Sinergi Majelis Dikdasmen Pimpinan Cabang Muhammadiyah GKB, di Cordoba Convention Hall SMAM 10 GKB, Gresik, Jumat (10/5/19).

Menurutnya, ada empat keistimewaan Tahajud. Disukseskan karirnya dan dimudahkan pekerjaannya; dimudahkan dan dibimbing kesehariannya oleh Allah; diberikan solusi terbaik ketika ada masalah; dan ditolong langsung oleh Allah tanpa perantara.

Dokter Suko, sapaannya, menyampaikan, berdasarkan penelitian yang dilakukan Prof Dr Mohammad Sholeh MPd PNI, terhadap 41 siswa SMU Luqman Al Hakim Surabaya, hanya 19 siswa yang bisa konsisten melakukan shalat Tahajud selama dua bulan penuh.

iklan

“Selanjutnya, hormon kortisol 19 siswa itu diukur di tiga laboratorium di Surabaya,” jelasnya serius.

Hasil dari penelitian menyebutkan siswa yang istiqamah bertahajud memiliki ketahanan tubuh dan kemampuan individual untuk menyelesaikan masalah dengan tenang dan stabil.

“Jadi shalat Tahajud bukan hanya sebatas menggugurkan status shalat, tapi menitikberatkan pada keistiqamahan, ketepatan gerakan, kekhusyukan, dan keikhlasan dalam bertahajud,” terang dr Suko.

Dia menjelaskan orang yang istiqamah bertahajud bisa mendatangkan ketenangan dalam dirinya. Sementara ketenangan mampu meningkatkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi risiko terkena penyakit jantung, dan meningkatkan usia harapan hidup.

“Shalat Tahajud itu meditasi tingkat tinggi, sehingga dapat digunakan sebagai coping mechanism atau pereda stres secara alami,” ungkap Sukadiono sambil tersenyum.

Keikhlasan shalat Tahajud, lanjutnya, dapat dimonitor melalui ritme sirkadian, terutama pada sekresi hormon kortisolnya yaitu proses biologis yang menunjukkan osilasi endogen dan berulang setiap sekitar 24 jam.

“Jika seseorang merasakan sakit-sakitan setelah melakukan Tahajud, besar kemungkinan orang tersebut tidak ikhlas mendirikannya. Ketidakikhlasan melakukan sesuatu menyebabkan orang selalu merasa tertekan dan rentan stres,” paparnya.

Orang yang ikhlas dan istiqamah bertahajud, menurutnya, bisa merangsang pertumbuhan selnya secara normal. Hal ini bisa menghindarkan pelaku Tahajud dari berbagai penyakit dan kanker atau tumor ganas.

“Lalu bagaimana Tahajud bisa menyehatkan orang?” tanyanya kepada peserta.

Sukadiono menjelaskan, ketika shalat Tahajud otak melepaskan seritonin, beta endorphin, dan melatonin secara berlebih yang menimbulkan perasaan kita menjadi tenang. Karena ketenangan itulah homeostasis terjaga, yaitu proses kontinuitas dan dinamis yang mencoba menjaga tubuh tetap normal pada semua kondisi.

Sukadiono juga memaparkan penyebab kita merasa pusing. Ternyata, pusing terjadi karena homeostasisnya terganggu, bisa hipertensi atau hipotensi. “Ketika shalat Tahajud relaksasi homeostasis terjaga secara normal, sehingga tidak akan ada hipertensi dan hipotensi,” (Nasafi)