Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Bahasa Inggris Wajib di SD pada 2027, PBI Umsida Siapkan Calon Guru yang Adaptif

Iklan Landscape Smamda
Bahasa Inggris Wajib di SD pada 2027, PBI Umsida Siapkan Calon Guru yang Adaptif
Kesiapan implementasi kebijakan mapel wajib bahasa Inggris di SD
pwmu.co -

Kebijakan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) yang akan menjadikan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di tingkat SD sederajat mulai tahun ajaran 2027/2028 mendapat perhatian dari kalangan akademisi.

Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (PBI Umsida), Dr. Fika Megawati, menilai kebijakan tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat kompetensi global peserta didik sejak usia dini.

Menurutnya, Bahasa Inggris penting dikenalkan sejak sekolah dasar karena masa anak-anak merupakan fase yang tepat untuk membangun keberanian, kebiasaan, dan sikap positif terhadap bahasa asing.

“Tujuannya bukan membuat anak langsung fasih, tetapi membangun fondasi komunikasi sejak dini,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (20/5/2026).

Dr. Fika menjelaskan bahwa kemampuan siswa saat ini cukup beragam. Sebagian anak sebenarnya sudah akrab dengan kosakata Bahasa Inggris melalui gim, media sosial, lagu, film pendek, hingga aplikasi digital.

Namun, menurutnya, siswa tetap memerlukan pendampingan agar mampu menggunakan Bahasa Inggris secara tepat.

“Tetapi mereka masih perlu dibimbing dalam pengucapan, penyusunan kalimat, keberanian berbicara, dan penggunaan bahasa sesuai konteks,” jelasnya.

Karena itu, tantangan pendidikan saat ini bukan sekadar mengenalkan Bahasa Inggris, tetapi mengubah paparan digital yang diterima anak menjadi kemampuan komunikasi yang lebih terarah.

Dr. Fika menuturkan bahwa kebijakan Bahasa Inggris wajib di SD merujuk pada Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 tentang perubahan atas Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024.

Menurutnya, kebijakan tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari penguatan kompetensi global generasi muda Indonesia.

“Anak-anak perlu disiapkan agar mampu berkomunikasi, mengakses informasi, dan beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” katanya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa penguatan Bahasa Inggris tidak boleh menggeser posisi Bahasa Indonesia sebagai identitas nasional dan bahasa utama dalam pendidikan.

“Saya setuju bahwa Bahasa Indonesia harus tetap menjadi prioritas utama. Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional, bahasa akademik, dan identitas kebangsaan,” tuturnya.

Ia menilai kedua bahasa dapat berjalan berdampingan dengan proporsi yang tepat.

Bahasa Indonesia tetap menjadi fondasi literasi utama, sementara Bahasa Inggris dikenalkan sebagai bahasa tambahan secara bertahap dan menyenangkan.

“Anak yang kuat dalam bahasa pertama biasanya lebih siap belajar bahasa lain karena sudah memiliki dasar berpikir, membaca, memahami makna, dan menyusun gagasan,” tutur Dr. Fika.

Dalam proses pembelajaran di tingkat SD, Dr. Fika menjelaskan bahwa anak-anak lebih mudah belajar melalui tahapan mendengar (listening), berbicara sederhana (speaking), penguasaan kosakata (vocabulary), dan pengucapan (pronunciation) sebelum mempelajari tata bahasa (grammar) yang lebih kompleks.

Menurutnya, metode pembelajaran yang efektif harus bersifat visual, konkret, interaktif, dan dekat dengan kehidupan anak.

SMPM 5 Pucang SBY

“Guru dapat memanfaatkan lagu, role-play, flashcard, storytelling, permainan kosakata, hingga media digital,” terangnya.

Ia mencontohkan, materi tentang profesi akan lebih mudah dipahami siswa jika dipadukan dengan gambar, praktik pengucapan, dan penggunaan dalam kalimat sederhana.

“Jadi, urutannya adalah mendengar, meniru, memahami kosakata, berbicara sederhana, lalu secara bertahap masuk ke membaca, menulis, dan grammar sederhana,” ujarnya.

Dr. Fika menilai keberhasilan kebijakan Bahasa Inggris wajib di SD sangat bergantung pada empat aspek utama, yakni kesiapan guru, pelatihan guru, kurikulum dan bahan ajar, serta media pembelajaran.

Ia menjelaskan pemerintah telah merespons hal tersebut melalui Program Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI).

Pada tahap awal, sebanyak 5.777 guru dari 177 kabupaten/kota di 34 provinsi telah mengikuti pelatihan tersebut.

Menurutnya, materi pembelajaran awal sebaiknya fokus pada kosakata sehari-hari, instruksi kelas, lagu, cerita, dan percakapan sederhana.

“Anak SD tidak boleh dibebani dengan pendekatan grammar yang terlalu abstrak,” tuturnya.

Ia juga menegaskan bahwa sekolah tidak harus memiliki fasilitas mahal untuk memulai pembelajaran Bahasa Inggris yang efektif.

“Kartu gambar, audio, video pendek, buku cerita, permainan bahasa, dan perangkat digital sederhana sudah dapat mendukung pembelajaran,” katanya.

PBI Umsida, lanjut Dr. Fika, telah mempersiapkan mahasiswa agar mampu menjawab kebutuhan kebijakan tersebut.

Persiapan dilakukan melalui penguatan kompetensi English for Young Learners, pengelolaan kelas, pengembangan media pembelajaran, serta praktik mengajar sesuai karakteristik anak usia sekolah dasar.

Mahasiswa juga diarahkan memahami bahwa mengajar Bahasa Inggris bagi anak tidak cukup hanya menguasai bahasa, tetapi juga harus mampu menciptakan pembelajaran yang konkret, komunikatif, dan menyenangkan.

“Kami juga merancang pembelajaran yang konkret, komunikatif, dan menyenangkan karena siswa bisa belajar lebih efektif melalui aktivitas yang dekat dengan kehidupan mereka,” jelasnya.

Selain itu, praktik microteaching dan pengembangan media pembelajaran menjadi bagian penting dalam proses pendidikan calon guru di PBI Umsida.

“Kami sangat mendukung kebijakan ini dengan menyiapkan calon guru yang menguasai Bahasa Inggris, memahami karakter anak, mampu mengembangkan media pembelajaran, memiliki jiwa edupreneurship, dan siap beradaptasi dengan kebutuhan pendidikan masa depan,” tandasnya.

Revisi Oleh:
  • Satria - 20/05/2026 15:22
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡