Sedikit yang Mencukupi, Banyak yang Menjadi Beban
Kita sering mendengar doa Barakallahu lakuma, semoga Allah melimpahkan keberkahan kepada kalian. Doa ini lazim diucapkan kepada pasangan yang menikah.
Ketika seseorang memperoleh rezeki, kita pun berharap rezeki itu membawa keberkahan. Ketika memiliki anak, kita memohon agar anak tersebut tumbuh menjadi pribadi yang saleh. Ketika menuntut ilmu, kita berharap ilmu itu bermanfaat dan menjadi jalan kebaikan.
Mengapa bukan sekadar meminta lebih banyak?
Karena seorang Muslim memahami bahwa banyak saja tidak cukup. Harta yang melimpah bisa menjadi sumber pertengkaran jika tidak disertai tanggung jawab.
Ilmu yang tinggi bisa melahirkan kesombongan jika tidak disertai kerendahan hati. Jabatan yang besar bisa menjauhkan seseorang dari sesama jika tidak disertai amanah.
Sebaliknya, penghasilan yang terbatas bisa mencukupi kebutuhan keluarga, mengantarkan anak-anak menuju pendidikan yang baik, dan menyisakan sebagian untuk membantu orang lain.
Itulah salah satu wajah barakah. Barakah bukan berarti seseorang harus hidup miskin atau menolak kekayaan. Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya, berpendidikan tinggi, menguasai teknologi, ataupun meraih kedudukan yang terhormat.
Yang perlu dijaga ialah jangan sampai semua itu membuat kita kehilangan arah.
Kekayaan seharusnya memperluas manfaat. Ilmu semestinya menumbuhkan kebijaksanaan. Jabatan seyogianya membuka jalan pengabdian.
Sesuatu menjadi bernilai bukan hanya karena jumlahnya, melainkan juga karena kebaikan yang dihasilkannya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS Al-A’raf: 96)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa iman dan takwa memiliki hubungan erat dengan keberkahan kehidupan.
Kemajuan yang hakiki tidak cukup dibangun melalui pertumbuhan ekonomi dan kecanggihan teknologi. Keduanya perlu disertai nilai-nilai ketuhanan, keadilan, dan tanggung jawab moral.
Sebuah negeri tidak hanya membutuhkan kekayaan, tetapi juga kejujuran. Tidak hanya memerlukan orang-orang pintar, tetapi juga manusia yang berintegritas.
Tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga memastikan bahwa hasilnya membawa kebaikan bagi masyarakat.
Sebab, kemajuan yang kehilangan nilai-nilai kemanusiaan bisa membuat kehidupan tampak gemerlap dari luar, tetapi rapuh di dalam.
Enam Tanda Barakah dalam Kehidupan
Lantas, bagaimana mengenali kehidupan yang diberkahi?
Barakah memang tidak selalu bisa diukur dengan alat ukur manusia. Namun, ada sejumlah tanda yang dapat kita renungkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, hati yang merasa cukup.
Rasulullah saw bersabda: “Kekayaan itu bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (HR Bukhari dan Muslim)
Orang yang memiliki kekayaan jiwa bukan berarti berhenti berusaha. Ia tetap bekerja keras, memperbaiki keadaan, dan berikhtiar meraih kehidupan yang lebih baik.
Namun, ia tidak membiarkan keinginannya menguasai seluruh hidup. Ia mampu bersyukur ketika memperoleh rezeki, bersabar ketika menghadapi keterbatasan, dan tetap menjaga harga diri tanpa harus membandingkan kehidupannya dengan orang lain.
Ia tidak mengukur kebahagiaan berdasarkan apa yang dimiliki tetangganya. Ia belajar menikmati apa yang ada di tangannya sembari terus berusaha memperbaiki masa depan.
Inilah qanaah: hati yang merasa cukup tanpa kehilangan semangat untuk berikhtiar.






0 Tanggapan
Empty Comments