Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Barakah, Kekayaan yang Tak Bisa Dihitung dengan Angka

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Barakah, Kekayaan yang Tak Bisa Dihitung dengan Angka
Ilustrasi: OpenAI
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Keenam, kebaikan yang tetap hidup setelah kita tiada.

Ada orang yang meninggalkan banyak harta, tetapi tidak banyak kebaikan yang diingat orang setelah kematiannya. Ada pula orang yang hartanya tidak seberapa, tetapi ilmunya terus dipelajari, amalnya terus dirasakan, dan namanya dikenang karena manfaat yang pernah diberikan.

Rasulullah saw bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR Muslim)

Hadis ini mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak hanya tentang apa yang kita nikmati hari ini, tetapi juga tentang apa yang bisa terus memberi manfaat setelah kita pergi.

Orang tua yang mendidik anak-anaknya dengan baik sedang menanam sesuatu yang melampaui usianya. Guru yang membagikan ilmu sedang membuka jalan bagi kebaikan yang mungkin tidak pernah disaksikannya.

Seseorang yang membantu membangun fasilitas umum, mendukung pendidikan, atau mengajarkan ilmu yang bermanfaat sedang menyiapkan kemungkinan lahirnya kebaikan yang berkelanjutan.

Kita mungkin tidak mampu mewariskan kekayaan besar. Namun, kita selalu memiliki kesempatan untuk mewariskan nilai-nilai yang baik.

Sebab, umur manusia terbatas, sedangkan manfaat sebuah kebaikan bisa melampaui batas umur itu sendiri.

Jangan Sampai Angka Mengalahkan Makna

Pada akhirnya, barakah mengajak kita mengubah cara memandang kehidupan. Bukan berarti kita harus berhenti mengejar prestasi, mengurangi penghasilan, atau meninggalkan cita-cita.

Kita tetap perlu bekerja keras, menuntut ilmu, mengembangkan usaha, membangun keluarga, dan berkontribusi bagi masyarakat.

Namun, di tengah semua ikhtiar itu, jangan sampai kita kehilangan arah.

Jangan sampai kesibukan mencari uang membuat kita lupa kepada orang-orang yang membutuhkan perhatian.

Jangan sampai gelar akademik membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain. Jangan sampai jabatan membuat kita kehilangan kesediaan untuk mendengarkan.

Jangan sampai keinginan untuk terlihat berhasil membuat kita lupa menikmati kehidupan yang sesungguhnya.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Sesekali, berhentilah sejenak dari perlombaan yang tidak pernah selesai itu.

Lihatlah keluarga yang masih bisa kita peluk. Syukurilah tubuh yang masih memungkinkan kita bekerja. Ingatlah orang-orang yang pernah membantu kita ketika kesulitan. Perhatikan pula mereka yang mungkin sedang menunggu uluran tangan kita.

Barangkali, selama ini kita terlalu sibuk menghitung apa yang belum dimiliki sehingga lupa mensyukuri apa yang sudah ada.

Kita menginginkan penghasilan lebih besar, padahal penghasilan yang sekarang sudah cukup untuk berbagi.

Kita ingin rumah lebih megah, padahal rumah yang ada masih menyediakan tempat bagi keluarga untuk berkumpul.

Kita ingin dikenal lebih banyak orang, padahal ada orang-orang terdekat yang belum sungguh-sungguh kita perhatikan.

Hidup memang perlu diperjuangkan. Tetapi hidup juga perlu dimaknai. Sebab, pada akhirnya, yang membuat kehidupan berharga bukan hanya berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan seberapa baik kita menggunakannya.

Jangan sampai kita meninggalkan dunia dengan rekening yang penuh, tetapi hati yang kosong. Jangan sampai kita dikenang sebagai orang sukses, tetapi dilupakan oleh orang-orang yang pernah membutuhkan kebaikan kita.

Kekayaan bisa dihitung. Jabatan bisa dicatat. Prestasi bisa dipajang. Namun, barakah tidak selalu tampak di mata manusia.

Ia hadir ketika sedikit terasa mencukupi, ilmu melahirkan manfaat, waktu menghasilkan kebaikan, rumah menjadi tempat berteduh, dan amal terus mengalir meski pemiliknya telah tiada.

Mungkin, itulah kekayaan yang sesungguhnya: bukan sekadar memiliki banyak hal, melainkan ketika apa yang kita miliki menjadi jalan untuk semakin dekat kepada Allah dan semakin bermanfaat bagi sesama.

Sebab, hidup yang berhasil belum tentu hidup yang berkah. Tetapi hidup yang berkah selalu menyimpan kebaikan yang layak disyukuri. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 28/10/2026 05:06
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu