Pernahkah kita bertanya, mengapa ada orang yang hartanya tidak seberapa, tetapi hidupnya terasa lapang? Sementara itu, ada orang yang memiliki rumah besar, kendaraan mewah, dan penghasilan berlimpah, tetapi hatinya selalu gelisah?
Yang satu hidup dalam keterbatasan, tetapi masih bisa berbagi. Yang lain memiliki hampir segala-galanya, tetapi selalu merasa kekurangan.
Barangkali, kita sedang menyaksikan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan angka. Sesuatu yang tidak tercantum dalam rekening bank, tidak tertera pada sertifikat rumah, dan tidak bisa dipamerkan di media sosial.
Namanya barakah.
Allah memberikan hidayah kepada manusia agar mampu memahami hakikat kehidupan. Bahwa hidup bukan semata-mata tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan seberapa besar kebaikan yang tumbuh dari apa yang kita miliki.
Sayangnya, dunia modern mengajari kita menghitung hampir segala sesuatu. Penghasilan, kekayaan, jabatan, gelar akademik, jumlah pengikut, hingga tanda suka di media sosial.
Kita sibuk menambah angka, tetapi kadang lupa menumbuhkan makna.
Padahal, satu juta dolar tidak otomatis menghadirkan ketenangan. Rumah kecil bisa terasa seperti istana jika penghuninya saling menyayangi. Sebaliknya, rumah megah bisa terasa seperti ruang pengadilan ketika setiap hari dipenuhi pertengkaran.
Kita mungkin berhasil memperbesar kekayaan, tetapi belum tentu berhasil memperluas kebahagiaan.
Di situlah persoalannya.
Kaya, tetapi Mengapa Gelisah?
Zaman ini menghadirkan banyak paradoks.bTeknologi berkembang begitu cepat. Informasi tersedia dalam genggaman. Obat-obatan semakin maju.
Komunikasi semakin mudah. Kita bisa berbicara dengan seseorang yang tinggal ribuan kilometer jauhnya hanya melalui layar ponsel. Namun, kemudahan itu tidak selalu membuat hidup lebih tenang.
Kita bisa memiliki ratusan teman di media sosial, tetapi merasa sendirian ketika menghadapi kesulitan. Kita bisa menerima puluhan pesan setiap hari, tetapi tidak menemukan satu orang pun yang benar-benar bersedia mendengarkan kegelisahan kita.
Kita bisa bekerja sepanjang hari demi meningkatkan penghasilan, tetapi kehilangan waktu untuk bercengkerama dengan keluarga. Kita mengejar masa depan yang lebih baik, tetapi tanpa sadar mengorbankan kebahagiaan yang sebenarnya sudah ada di hadapan mata.
Bukan berarti kekayaan, teknologi, dan kemajuan itu buruk. Semuanya bisa menjadi jalan kebaikan. Persoalannya muncul ketika angka menjadi tujuan utama, sedangkan nilai-nilai yang semestinya menyertai kehidupan justru tersisih.
Kita ingin memiliki lebih banyak, tetapi lupa bertanya: untuk apa semua itu?
Kita ingin hidup lebih lama, tetapi jarang memikirkan apakah kehidupan kita membawa manfaat. Kita ingin memiliki banyak harta, tetapi lupa memastikan apakah harta itu mendekatkan kita kepada Allah dan membuat orang lain ikut merasakan kebaikannya.
Ketika ukuran keberhasilan hanya sebatas apa yang tampak, kita mudah tertipu oleh kemewahan.
Sebab, tidak semua yang bertambah membuat hidup lebih baik. Tidak semua yang banyak mendatangkan ketenangan. Dan tidak semua yang terlihat mengagumkan menyimpan kebahagiaan.
Ada nilai yang tidak bisa dibeli, tetapi justru menentukan apakah sesuatu benar-benar berharga. Dalam Islam, nilai itu dikenal sebagai barakah.






0 Tanggapan
Empty Comments