
Kegiatan Capacity Building Pelatihan Public Speaking di Aula Kampus 1 SD Muhammadiyah 1 Tanggul (Muhita), Selasa (08/07/2025). (Muhammad Arief/PWMU.CO).
PWMU.CO – Bimtek Muhita Capacity Building for Training telah terlaksana di Aula Kampus 1 SD Muhammadiyah 01 Tanggul (SD Muhita), Selasa (08/07/2025).
Bertemakan “Membangun Kredibilitas dengan Public Speaking Efektif”, SD Muhita mengundang Nana Diaz selaku Interpersonal Trainer dan Tamam sebagai asisten trainer.
Nana menjelaskan bahwa berkomunikasi sama halnya kita dengan berinteraksi. Menurutnya, terdapat dua macam komunikasi dalam public speaking, yaitu verbal dan non-verbal.
“Pada komunikasi verbal, kita perlu mempertimbangkan ritme, irama, volume, dan interaksi. Untuk non-verbal, pertimbangkan gestur, ekspresi, dan emosi” tuturnya.
3C Public Speaking
Di samping itu, ia juga berujar bahwa perlu adanya 3C dalam public speaking, yaitu Character, Communication, dan Chemistry.
“Setiap orang bisa merubah karakternya (menjadi lebih baik), asalkan dia merubah mindset-nya. Dari mindset, maka akan menghasilkan tindakan, tindakan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan menjadi karakter” jelas Nana.
Lulusan S2 Magister Agribisnis Universitas Jember tersebut menambahkan bahwa kualitas diri seorang guru bergantung pada kualitas komunikasinya. Lebih lanjut, komunikasi yang baik menghasilkan citra diri dan kualitas yang baik pula.
Nana menjelaskan juga bahwa terdapat tiga elemen dalam public speaking. “Ada 7 persen dari kata-kata, 38 persen dari nada dan suara, dan 55 persen dari bahasa tubuh” tuturnya.
Dia menjelaskan juga tentang tiga tips agar komunikasi lebih menarik. Yang pertama adalah inner, yakni kita perlu menumbuhkan jiwa dan pemikiran yang positif. Yang kedua adalah memperbaiki gestur tubuh. Terakhir adalah grooming, yakni memperbaiki kerapian dalam penampilan.
Ice Breaking Penuh Gelak Tawa
Di penghujung acara, Tamam selaku asisten trainer membawakan permainan ice breaking. Tamam menguji konsentrasi para guru dan peserta pelatihan dengan permainan tepuk dan angkat jempol.
Pada permainan tepuk, Tamam menginstruksikan kepada peserta untuk bertepuk beberapa kali dan menepuk bahu peserta di sebelah. Bagi peserta yang salah, maka hukumannya berdiri dan menunggu permainan tepuk selesai.
Sedangkan, pada permainan angkat jempol, peserta yang keliru mengikuti instruksi, maka harus maju ke depan dan mendapat hukuman menyebut angka 1 sampai 10 disertai kata “biru”.
Gelak tawa bergemuruh antar peserta di sela-sela ice breaking, terutama ada peserta yang keliru melakukan instruksi.
Penulis Muhammad Arief, Editor Danar Trivasya Fikri





0 Tanggapan
Empty Comments