Di bulan Ramadan yang penuh refleksi, pengusaha nasional Chairul Tanjung atau yang biasa disapa CT ini, menyampaikan pesan tajam di forum Pengkajian Ramadan 1447 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jumat (27/2/2026).
Dia mengingatkan bahwa mental serba instan—ingin cepat kaya, cepat sukses, dan cepat berkuasa, justru menjadi penghambat utama kemajuan bangsa. Menurutnya, tanpa kesabaran, proses, dan semangat entrepreneurship, Indonesia akan sulit melompat menjadi negara maju.
CT mengungkapkan, tantangan tersebut perlu untuk diselesaikan bersama dengan mengubah budaya mindset masyarakat Indonesia.
“Jangan terjebak dalam budaya Instan. Ingin cepat kaya, korupsi. Ingin cepat beres urusan, suap. Ingin nilai bagus, nyontek. Ingin cepat sampai, melanggar lalu lintas. Ingin jadi pengusaha, kok malah jadi penguasa,” ujarnya.
“Nah, budaya mindset itu harus dirubah. Tidak boleh semuanya kita ingin cepat-cepat. Satu persatu harus melalui tahapan, melalui anak tangga,” jelas CT dalam acara yang digelar di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT).
Tantangan Pemimpin Umat: Hadir dan Memberdayakan
Kedua, CT turut menyoroti peran strategis pemimpin umat dalam mendorong perubahan paradigma masyarakat.
Baginya, pemimpin umat harus hadir untuk mengubah paradigma agar mampu menghasilkan terobosan-terobosan yang inovatif. Sebab, di zaman ini tidak cukup jika hanya berbicara mengenai efisiensi dan produktivitas, namun juga diperlukan dorongan dari segi inovasi, kreativitas, dan semangat entrepreneurship.
“Orang jepang dulu sering membicarakan tentang efisiensi dan produktifitas untuk pengembangan teknologinya. Tapi di zaman sekarang, efisiensi dan produktivitas itu saja tidak cukup. Diperlukan adanya inovasi, kreativitas dan entrepreneurship,” tuturnya.
CT menambahkan, Indonesia sangat memiliki potensi. Terutama dalam segi sumber daya manusia yang berlimpah. Namun ia menyebut, satu hal yang masih menjadi problem adalah sulitnya menyatukan kekuatan tersebut untuk mencapai keunggulan bersama.
“Sumber daya kita kuantitasnya besar. Tapi ini masih menjadi masalah karena susah sekali untuk bersatu mencapai keunggulan bersama. Ini adalah sebuah keniscayaan. Kalau kita tidak bersatu, bagaimana kita bisa maju?,” jelasnya.
“Oleh karenanya, umat islam harus bersatu. Membangun usaha dari kita, oleh kita, untuk kita,” tambahnya.
Entrepreneur Kunci Pertumbuhan Ekonomi Bangsa
Selanjutnya, CT menjelaskan bahwa semua ahli dunia percaya, kemajuan suatu bangsa ditentukan dari jumlah entrepreneur nya. Ia menyebut, sebuah bangsa yang maju, jumlah minimum penduduk entrepreneur harus mencapai angka minimum sebesar 4%.
“Jadi kalau negara ini ingin tumbuh 8% tanpa entrepreneur terlibat didalamnya, itu tidak akan bisa tercapai. Karena pemerintah saja tidak cukup, porsi mereka kecil di dalam mendongkrak ekonomi bangsa,” tuturnya.
Secara teori, lanjutnya, pertumbuhan ekonomi terbesar berasal dari konsumsi domestik dan investasi. Dalam konteks ini, peran entrepreneur menjadi sangat vital sebagai penggerak investasi, pencipta lapangan kerja, sekaligus inovator ekonomi.
Karena itu, jelas CT, penguatan jiwa kewirausahaan harus berjalan beriringan dengan upaya menyatukan umat agar potensi besar bangsa dapat terkelola secara optimal. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments