Prestasi membanggakan kembali ditorehkan akademisi Indonesia. Sholahuddin Al Fatih, dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang, berhasil menembus daftar 100 Akademisi Terbaik Dunia bidang Ilmu Sosial versi measuresHE.
Capaian ini bukan sekadar soal produktivitas publikasi, melainkan bukti kedalaman dan dampak nyata karya ilmiah. Dalam pemeringkatan tersebut, Fatih menempati posisi ke-91, sejajar dengan akademisi dari kampus-kampus ternama dunia seperti University of Oxford dan Deakin University.
Berbeda dengan pemeringkatan institusi pada umumnya, measuresHE berfokus pada rekam jejak individu akademisi secara objektif tanpa skema berbayar.
Fatih menjelaskan, terdapat tiga indikator utama dalam penilaian, yakni:
- Research Gravitas (kedalaman intelektual)
- Olympic Mean (konsistensi kualitas karya)
- Interaction Credit (kolaborasi ilmiah)
Seluruh indikator tersebut bersumber dari data akademik terverifikasi seperti Scopus dan Web of Science.
“Pengakuan ini memvalidasi upaya riset yang menawarkan wawasan mendalam dan berdampak, bukan sekadar mengejar jumlah publikasi,” ujarnya, 8 April, kepada Tim Humas UMM.
Salah satu karya unggulan Fatih lahir pada masa pandemi 2021, yang mengkaji ekspresi masyarakat di media sosial beserta konsekuensi hukumnya.
Penelitian ini menyoroti bagaimana aktivitas digital dapat memicu dampak nyata, mulai dari tekanan psikologis hingga jeratan hukum. Kajian tersebut mempertegas pentingnya kehadiran hukum yang aplikatif dan relevan dengan kehidupan masyarakat.
Sepanjang kariernya, Fatih telah menghasilkan:
- ±60 artikel terindeks Scopus
- 5 artikel Web of Science Core Collection
- Ratusan karya ilmiah di Google Scholar
Fokus kajiannya konsisten pada isu-isu strategis seperti teknologi, media sosial, dan dinamika hukum di era disrupsi.
“Kami harus menjembatani hukum agar lebih aplikatif, tidak hanya berhenti di konsep, tetapi hadir nyata di masyarakat,” jelasnya.
Keberhasilan ini juga tidak lepas dari dukungan ekosistem akademik di UMM. Kampus tersebut menyediakan akses jurnal internasional, fasilitas internet memadai, serta insentif publikasi bagi dosen.
Fatih berharap capaian ini dapat semakin mengangkat reputasi UMM di tingkat global sekaligus memotivasi civitas akademika untuk terus berkarya.
“Riset harus memberi dampak nyata. Mulai saja, jangan takut ditolak, dan teruslah maju,” pesannya.





0 Tanggapan
Empty Comments