Madrasah Modern Sejak 1922
Sejarawan Muhammadiyah Andi Hariyadi mengungkapkan, Sebelum mendirikan madrasah, Mas Mansur sempat bingung lantaran tak memiliki tanah untuk didirikan bangunan.
Dia lantas melirik kandang kambing yang terletak di sebelah timur pondok pesantren ayahnya. Dia lantans menyampaikan keinginan itu kepada ayahnya.
“Pada akhirnya, di atas tanah bekas kandang kambing yang berbentuk tegak lurus itu dibangunlah sebuah bangunan yang terdiri dari beberapa ruang kelas, ruang kantor dan kamar mandi,” jelas Andi Hariyadi.
Kata Andi, SD Mufidah memiliki akar sejarah panjang dalam perkembangan pendidikan Muhammadiyah di Surabaya.
Berdasarkan referensi sejarah yang ditunjukkannya, madrasah tersebut diresmikan pada Sabtu, 3 Muharram 1340 H, bertepatan dengan 16 Agustus 1922.
Awalnya, madrasah itu diberi nama Hizbul Wathan, meminjam nama organisasi kepanduan Muhammadiyah yang berdiri pada 1918.
Tidak lama kemudian, namanya berubah menjadi Madrasah Mufidah.
Madrasah tersebut didirikan dengan tujuan membentuk manusia muslim yang berakhlak mulia dan percaya pada diri sendiri.
Dalam penyelenggaraan pendidikan, Madrasah Mufidah menggunakan sistem Mesir yang pada masa itu tergolong modern.
Jadwal pembelajaran dibagi menjadi dua waktu. Siswa belajar pukul 08.00–12.00 WIB, sedangkan siswi mengikuti pelajaran pukul 14.00–16.00 WIB.
Materi pendidikan tidak hanya berkutat pada ilmu agama. Madrasah Mufidah mengajarkan nahwu, sharaf, tauhid, fikih, tarikh, tajwid, tahsinul khat, tafsir, hadis, dan akhlak.
Sementara pelajaran umum meliputi berhitung, menyanyi, menggambar, bahasa Indonesia, bahasa daerah, bahasa Belanda, dan bahasa Inggris.
Kegiatan ekstrakurikulernya juga beragam, antara lain baris-berbaris dan pencak silat.
“Madrasah Mufidah menggunakan sistem Mesir. Bisa dibilang paling modern saat itu,” jelas Andi.






0 Tanggapan
Empty Comments