Setiap tanggal 7, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kanigoro, Kabupaten Blitar, secara konsisten menggelar Kajian Tangguh sebagai ruang penguatan keislaman bagi warga Muhammadiyah dan masyarakat. Pada pelaksanaan yang berlangsung Selasa (7/7/2026) malam di Masjid Muhammad Ibrahim Al-Amru (MIA), Desa Jatinom, jamaah diajak mendalami hikmah yang terkandung dalam Surat Al-Kahfi sebagai pedoman memperkuat akidah dan menjalani kehidupan sesuai tuntunan Al-Qur’an.
Kegiatan dimulai setelah salat Isya berjamaah sekitar pukul 19.30 WIB hingga selesai. Puluhan peserta mengikuti kajian tersebut, terdiri atas pengurus dan anggota PCM, PRM, PCA, PRA, PCPM, PCNA, warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, para simpatisan, serta guru dan karyawan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang berdomisili di Kecamatan Kanigoro.
Kajian Tangguh merupakan agenda rutin bulanan PCM Kanigoro. Nama “Tangguh” merupakan singkatan dari “Tanggal Tujuh” karena kegiatan ini secara konsisten diselenggarakan setiap tanggal 7 dengan menghadirkan pemateri yang berbeda setiap bulan.
Pada kesempatan tersebut, kajian menghadirkan Ustaz Ismail Nurfika, S.H., dari Muhammadiyah Blitar dengan tema Mengambil Hikmah dari Al-Qur’an Surat Al-Kahfi.
Dalam pemaparannya, Ustaz Ismail menjelaskan keutamaan Surat Al-Kahfi sebagaimana sabda Rasulullah saw. bahwa siapa saja yang menjaga atau menghafal sepuluh ayat dari Surat Al-Kahfi akan mendapat perlindungan dari fitnah Dajjal. Selain itu, membaca Surat Al-Kahfi pada hari Jumat menjadi sebab datangnya cahaya petunjuk yang menerangi seseorang di antara dua Jumat.
“Barang siapa yang menjaga sepuluh ayat dari Surat Al-Kahfi akan terhindar dari fitnah Dajjal. Sedangkan orang yang membacanya pada hari Jum’at akan diberikan cahaya di antara dua Jumat. Cahaya itu berupa kemudahan dalam menjalani kehidupan serta pertolongan Allah dalam menyelesaikan berbagai persoalan,” ujarnya.
Ia juga mengulas bahwa Surat Al-Kahfi termasuk surat Makkiyah yang seluruh ayatnya diturunkan di Kota Makkah. Surat ini berada pada urutan ke-18 dalam mushaf Al-Qur’an, sedangkan menurut urutan turunnya berada di sekitar urutan ke-67 atau ke-68. Jumlah ayatnya sebanyak 110 ayat.
Menurutnya, nilai utama Surat Al-Kahfi adalah meluruskan akidah dan menguatkan tauhid. Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup agar manusia dapat beribadah dengan benar serta memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.
“Pedoman dari Al-Qur’an tidak ada yang salah ataupun eror. Jika manusia tidak menjadikannya sebagai pedoman hidup, maka akibatnya adalah kesengsaraan. Allah menurunkan kitab dan mengutus rasul agar manusia memperoleh kebahagiaan. Orang yang berbuat baik pasti akan memperoleh kebahagiaan,” jelasnya.
Ustaz Ismail menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak pernah memaksa manusia untuk mengikutinya. Keputusan berada di tangan setiap orang, apakah ingin menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup atau mengabaikannya.
Ia juga mengingatkan bahwa meskipun Islam telah berkembang di Pulau Jawa selama sekitar 500 tahun, masih banyak tantangan akhlak yang perlu diperbaiki melalui dakwah yang dilakukan secara berkesinambungan dan penuh kesabaran.
“Jangan kecewa dalam berdakwah. Teruslah berdakwah. Orang yang mendapatkan taufik adalah orang yang siap menerima hidayah dari Allah,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia mengajak jamaah memandang dunia sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt., bukan sebagai tujuan akhir kehidupan.
“Kalau memiliki barang baru, biasanya masih ingin memiliki barang yang lain. Padahal semua harta, pangkat, dan jabatan seharusnya menjadi sarana untuk semakin dekat kepada Allah, bukan sebaliknya,” katanya.
Dalam kajian tersebut, Ustaz Ismail juga mengulas tiga kisah besar dalam Surat Al-Kahfi, yaitu kisah para pemuda penghuni gua yang mempertahankan tauhid dengan penuh pengorbanan, kisah Nabi Musa yang menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki ilmu dan hikmah sesuai karunia Allah, serta kisah Raja Zulkarnain yang mengajarkan pentingnya memanfaatkan segala potensi yang dimiliki demi kemaslahatan umat.
Di akhir kajian, ia mengajak seluruh peserta menumbuhkan semangat berkorban dalam perjuangan dakwah dan tidak terlalu berhitung dalam berbuat kebaikan.
“Apapun yang Allah titipkan kepada kita, manfaatkanlah untuk kemaslahatan. Mari memiliki semangat berkurban dan jangan terlalu perhitungan dalam beramal karena semua itu akan kembali menjadi bekal di sisi Allah,” pungkasnya.
Sebagai penutup, Ustaz Ismail mengaitkan materi kajian dengan firman Allah Swt. dalam Surat Al-Kahfi ayat 2:
قَيِّمًا لِّيُنذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِّن لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا
Artinya: “Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik.” (QS. Al-Kahfi: 2). (*)





0 Tanggapan
Empty Comments