Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Kepala Smamita: Digitalisasi Sekolah Harus Memanusiakan Manusia

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Kepala Smamita: Digitalisasi Sekolah Harus Memanusiakan Manusia
Kepala Smamita, Edwin Yogi Laayrananta, S.Pd., S.I.Kom., M.I.Kom., dalam Workshop Nasional Digitalisasi Sekolah di Fave Hotel Sidoarjo. Foto: Satrio
pwmu.co -

Digitalisasi sekolah bukan sekadar mengganti buku dengan layar, presensi kertas dengan sistem digital, atau tugas konvensional dengan platform pembelajaran. Lebih dari itu, digitalisasi harus mampu menghadirkan pengalaman belajar yang interaktif, kreatif, dan bermakna bagi siswa.

Pesan tersebut disampaikan Kepala SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita), Edwin Yogi Laayrananta, S.Pd., S.I.Kom., M.I.Kom., dalam Workshop Nasional Digitalisasi Sekolah di Fave Hotel Sidoarjo, Jalan Jenggolo No. 15, Pucang, Sidoarjo, Rabu (14/10/2026).

Kegiatan tersebut diikuti satuan pendidikan jenjang SD, SMP, dan SMA. Dalam pemaparan bertajuk Digitalisasi Sekolah: Antara Peluang, Tantangan, Infrastruktur, dan Kesiapan Pendidik, Edwin mengingatkan bahwa pesatnya perkembangan teknologi tidak boleh menggeser tujuan utama pendidikan.

“Teknologi berubah cepat, tetapi tujuan pendidikan tetap membentuk manusia,” menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan Edwin.

Menurutnya, sekolah perlu memastikan bahwa pemanfaatan teknologi tidak hanya memperbarui sarana, tetapi juga meningkatkan kualitas proses pembelajaran.

Bukan Sekadar Memindahkan Pembelajaran ke Layar

Edwin menjelaskan, modernisasi dan digitalisasi merupakan dua hal yang saling berkaitan, tetapi memiliki penekanan berbeda.

Modernisasi mencakup pembaruan cara kerja dan metode pembelajaran. Pembelajaran yang semula didominasi ceramah satu arah, misalnya, dapat dikembangkan menjadi diskusi, kolaborasi, dan pembelajaran berbasis proyek.

Sementara itu, digitalisasi memanfaatkan teknologi untuk mendukung proses tersebut. Tugas berbasis kertas dapat dialihkan ke platform digital, presensi dilakukan secara daring, sedangkan asesmen dan administrasi terintegrasi melalui sistem digital.

Namun, perubahan media tidak serta-merta meningkatkan kualitas pembelajaran. Sekolah mungkin telah menggunakan perangkat canggih, tetapi proses belajar tetap berlangsung satu arah. Siswa hanya menerima informasi tanpa ruang yang memadai untuk bertanya, mengeksplorasi gagasan, berkreasi, dan melakukan refleksi.

Karena itu, digitalisasi harus menjadi pintu masuk transformasi pembelajaran.

“Teknologi adalah sarana, sedangkan mutu belajar adalah tujuan,” demikian prinsip yang ditekankan dalam materi Edwin.

Lima Peluang Digitalisasi Sekolah

Edwin memaparkan lima peluang yang dapat dihadirkan melalui digitalisasi sekolah apabila teknologi digunakan sesuai kebutuhan pembelajaran.

Pertama, akses belajar menjadi lebih terbuka. Siswa dapat menjangkau beragam sumber pengetahuan secara lebih fleksibel.

Kedua, pembelajaran semakin interaktif. Simulasi, visualisasi, dan diskusi berbantuan teknologi dapat membantu siswa memahami materi sekaligus berpartisipasi aktif.

Ketiga, asesmen menjadi lebih cepat dan adaptif. Guru dapat memberikan umpan balik secara tepat waktu serta mengidentifikasi kebutuhan belajar setiap siswa.

Keempat, tata kelola sekolah semakin efisien. Data akademik, presensi, asesmen, dan layanan sekolah dapat dikelola secara lebih terintegrasi.

Kelima, kolaborasi semakin luas. Teknologi membuka peluang kerja sama antara siswa, guru, orang tua, dan komunitas pendidikan, baik di tingkat lokal maupun global.

Meski demikian, Edwin mengingatkan bahwa keberhasilan digitalisasi tidak cukup diukur dari jumlah perangkat atau aplikasi yang digunakan sekolah.

“Pertanyaan mendasarnya adalah, apa yang menjadi lebih baik bagi siswa setelah teknologi diterapkan?” ujarnya.

Pertanyaan tersebut penting agar digitalisasi tidak berhenti sebagai simbol modernitas, tetapi memberikan dampak nyata terhadap proses dan hasil belajar.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Tantangan Digitalisasi Tak Hanya soal Perangkat

Di balik berbagai peluang tersebut, digitalisasi sekolah menghadapi tantangan yang perlu diatasi bersama. Edwin mengidentifikasi lima aspek utama, yakni akses, kompetensi, budaya kerja, etika penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta sinkronisasi program.

Dari sisi akses, ketersediaan jaringan internet, perangkat, dan biaya masih menjadi persoalan. Sementara itu, kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi juga belum merata.

Perubahan sistem kerja berpotensi menimbulkan resistensi apabila tidak disertai pemahaman, pendampingan, dan pengelolaan beban kerja yang baik.

Penggunaan AI juga memunculkan tantangan terkait privasi data, bias informasi, dan plagiarisme. Karena itu, guru dan siswa perlu memahami batasan serta tanggung jawab dalam menggunakan teknologi tersebut, sekaligus menjaga integritas akademik.

Selain itu, berbagai program digitalisasi perlu disinkronkan agar tidak berjalan sendiri-sendiri dan justru menambah beban sekolah.

Risiko terbesar muncul ketika sekolah tampak modern dari sisi teknologi, tetapi praktik pembelajarannya tidak mengalami perubahan berarti.

Infrastruktur Digital Bukan Sekadar Gadget

Edwin juga menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur digital tidak cukup dilakukan melalui pengadaan komputer, tablet, atau perangkat lainnya.

Infrastruktur digital merupakan ekosistem yang mencakup lima komponen utama. Pertama, infrastruktur fisik berupa listrik, jaringan internet, dan perangkat. Kedua, platform pembelajaran yang meliputi Learning Management System (LMS), konten digital, dan sistem asesmen.

Ketiga, keamanan yang mencakup perlindungan privasi, pengelolaan akun, dan pencadangan data. Keempat, pemeliharaan yang membutuhkan dukungan teknisi serta anggaran berkelanjutan. Kelima, sumber daya manusia yang melibatkan guru, pimpinan sekolah, dan komunitas pendukung.

Kelima komponen tersebut harus saling melengkapi. Tanpa pemeliharaan yang memadai, perangkat berisiko tidak berfungsi optimal. Sementara itu, tanpa kompetensi pengguna, platform yang tersedia tidak akan dimanfaatkan secara maksimal.

Karena itu, perencanaan digitalisasi perlu berangkat dari kebutuhan pembelajaran, bukan sekadar mengikuti tren teknologi atau katalog perangkat.

Guru Tetap Menjadi Kunci Transformasi

Di tengah perkembangan teknologi, Edwin menegaskan bahwa guru tetap memegang peran penting dalam transformasi pendidikan.

Guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan pendidik yang membimbing penalaran, menumbuhkan karakter, dan membantu siswa memahami pengetahuan secara kritis.

Kompetensi digital guru perlu mengintegrasikan tiga unsur utama, yakni penguasaan materi, pedagogi atau metode pembelajaran, dan teknologi yang digunakan.

Artinya, guru tidak cukup hanya mahir mengoperasikan aplikasi. Mereka juga harus mampu menilai kesesuaian teknologi dengan tujuan pembelajaran, karakteristik siswa, dan metode yang diterapkan.

Bagi Edwin, kecanggihan teknologi bukanlah ukuran utama keberhasilan digitalisasi sekolah. Hal terpenting adalah manfaatnya bagi perkembangan siswa.

“Teknologi boleh berubah, tetapi tujuan pendidikan tetap memanusiakan manusia,” tegasnya.

Dengan demikian, digitalisasi sekolah semestinya tidak hanya membuat pembelajaran lebih modern, tetapi juga lebih bermakna, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan manusia. (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 16/10/2026 10:04
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu