
Ustadz Dr Nurbani Yusuf MSi saat menyampaikan tausiyah dalam Kajian Sakinah oleh PCM Krembangan, Ahad (01/06/2025). (Fikri/PWMU.CO).
PWMU.CO – Kajian Sakinah yang merupakan agenda bulanan PCM Krembangan berlangsung di Panti Asuhan Muhammadiyah Nyai Walidah, Jl. Dupak Bandarejo 1/30 Surabaya. Adapun agenda ini terlaksana pada Ahad (01/06/2025).
Mubaligh kajian tersebut adalah Ustadz Dr Nurbani Yusuf MSi dengan tema yang tersampaikan adalah Muhammadiyah sebagai gerakan filantropi.
Pada awalnya Muhammadiyah dianggap salah bahkan dikafirkan, tapi kemudian malah dibenarkan dan ditiru. Contohnya adalah khutbah memakai bahasa Jawa, wudhu memakai keran, dan menerjemahkan Al-Qur’an.
Kiai Dahlan mengajarkan surah Al Ma’un kepada para santrinya. Santrinya pun heran mengapa surah itu saja yang diajarkan. Kiai Dahlan balik bertanya apakah surah tersebut surah diamalkan.
Berdasarkan peristiwa tersebut tampak bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi yang aplikatif dan tidak berteori saja. Sehingga bisa memunculkan banyak Amal Usaha Muhammadiyah.
Muhammadiyah merupakan organisasi yang kaya, tetapi banyak pengurusnya yang hidup sederhana. Hal itu sebab aset Muhammadiyah adalah milik persyarikatan, bukan perseorangan.
Pelajaran dari Abdurrahman Bin Auf
Selanjutnya Dosen Universitas Muhammadiyah Malang itu menceritakan kisah Abdurrahman bin Auf dan Abdur Rozak Fachruddin (AR Fachruddin). Abdurrahman merupakan orang yang sangat kaya di Mekah. Saat hijrah, ia meninggalkan semua hartanya.
Ketika di Madinah, Abdurrahman dipersaudarakan dengan Sa’ad bin ar-Rabi’ al-Anshari yang merupakan kaum Anshor. Sa’ad menawarkan beragam kekayaan.
Abdurrahman pun menolaknya dan ingin mengetahui lokasi pasar untuk berdagang. Beberapa tahun kemudian Abdurrahman menjadi orang yang kaya lagi.
Rasulullah lalu berkata kepada Abu Bakar bahwa Abdurrahman akan menuju surga dengan merangkak, sebab Abdurrahman terlalu kaya. Sejak saat itu, Abdurrahman banyak membagikan hartanya kepada fakir miskin dan yang membutuhkan.
Pada masa Perang Tabuk umat Islam menang. Akan tetapi, panen di Madinah bersifat busuk. Abdurrahman pun membeli panen tersebut dengan hartanya.
Di sisi lain, tepatnya di Yaman, ada wabah cacar. Obatnya adalah kurma busuk. Warga Yaman pun membeli kurma busuk milik Abdurrahman dengan harga lebih.
Abdurrahman kembali kaya, dan hal ini dengan sebab ia gemar memberi makan. Muhammadiyah pun bisa besar karena tidak sekadar memberi makan, tetapi mengajak untuk memberi.
Yang Luput dari Muhammadiyah
Hal yang sedikit Muhammadiyah lupakan adalah ziarah kubur. Padahal ziarah kubur merupakan hal yang disunnahkan. Selain itu, Muhammadiyah juga kurang dalam hal bersilaturrahmi kepada kiai Muhammadiyah. Tidak semua yang di NU itu buruk, yang baik bisa diambil dan diamalkan.
Setelah itu, Ustadz Nurbani menceritakan tokoh Muhammadiyah yakni AR Fachruddin. Pada masa itu Muhammadiyah mengalami kejayaan yang luar biasa. Kendati demikian, AR Fachruddin tetap hidup sederhana.
Suatu ketika AR Fachruddin diminta menjadi imam salat tarawih. Kisah ini sangat terkenal. Saat itu AR Fachrudin mampu memuhammadiyahkan jamaah salat yang NU. Dari kisah tersebut terdapat pelajaran bahwa dakwah itu harus menggembirakan dan bijaksana.
Di samping itu, AR Fachruddin juga pernah mendapat undangan yasinan. Tapi hebatnya adalah surat Yasin tersebut ia kaji dan dakwahkan kepada jamaah yasinan.
Jelang akhir kajian Ustadz Nurbani menyampaikan beberapa hal. Pertama, masuk surga lebih mudah daripada masuk neraka. Kedua, dakwah harus menggembirakan.
Kemudian yang ketiga, warga Muhammadiyah harus berwawasan luas dan tidak sempit pikirannya. Keempat, dalam beribadah, warga Muhammadiyah harus sesuai tarjih. Dan yang kelima, warga Muhammadiyah harus beramal sesuai kemampuan.
Penulis Fikri Fachrudin, Editor Danar Trivasya Fikri





0 Tanggapan
Empty Comments