Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

PWM Jatim Pelajari Digitalisasi, IT, dan AI di Peking University Shenzhen Hospital

Iklan Landscape Smamda
PWM Jatim Pelajari Digitalisasi, IT, dan AI di Peking University Shenzhen Hospital
Delegasi PWM Jatim di Peking University Shenzhen Hospital. Foto: Istimewa/PWMU.CO

Kunjungan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim ke Peking University Shenzhen Hospital pada Jumat (17/4/2026), menjadi momentum strategis untuk mempelajari transformasi layanan kesehatan berbasis digitalisasi, teknologi informasi (IT), dan kecerdasan buatan (AI).

Melalui observasi langsung, rombongan melihat bagaimana rumah sakit modern mampu menghadirkan layanan cepat, presisi, dan efisien dengan sistem terintegrasi yang menopang mutu pelayanan pasien secara berkelanjutan.

Rombongan yang turut hadir dalam kunjungan ini berasal dari berbagai institusi, di antaranya RSI Aisyiyah Malang, RSM Lamongan, RS Siti Khodijah Muhammadiyah Cabang Sepanjang, RSI Fatimah Banyuwangi, RSU Aisyiyah Ponorogo, RS Aisyiyah Bojonegoro, RSM Ahmad Dahlan Kota Kediri, dan RS Umsida.

Kunjungan ini menjadi momentum penting untuk melihat secara langsung bagaimana rumah sakit modern membangun layanan yang cepat, presisi, dan efisien melalui penguatan digitalisasi, teknologi informasi, dan artificial intelligence (AI).

Sejak awal kedatangan, rombongan diterima dengan hangat oleh pihak rumah sakit. Dalam sesi pemaparan, peserta mendapatkan penjelasan mengenai profil Peking University Shenzhen Hospital, sebuah rumah sakit umum publik tersier kelas A yang dibangun oleh Pemerintah Kota Shenzhen dan mulai beroperasi pada akhir tahun 1999.

PWM Jatim Pelajari Digitalisasi, IT, dan AI di Peking University Shenzhen Hospital
Peking University Shenzhen Hospital menjelaskan sistempelayanan berbasis online. Foto: Istimewa/PWMU.CO

Pada tahun 2000, rumah sakit ini kemudian masuk dalam sistem manajemen rumah sakit afiliasi Peking University. Rumah sakit ini berlokasi di kawasan pusat Futian, Shenzhen, dengan luas bangunan hampir 220.000 meter persegi.

Dalam pengembangannya, rumah sakit ini tumbuh menjadi salah satu rumah sakit besar di Shenzhen dengan lebih dari 1.800 tempat tidur, puluhan departemen klinis dan medik-teknik, serta pelayanan yang sangat besar setiap tahunnya.

Rumah sakit ini juga menegaskan diri sebagai smart hospital, dengan pengembangan layanan seperti smart outpatient clinics, smart pharmacy, smart ward, smart logistics, hingga online medical insurance settlement.

Dalam penjelasan tersebut, pihak rumah sakit juga menggambarkan skala pelayanan yang mereka tangani. Secara resmi, rumah sakit ini melayani sekitar 2,785 juta kunjungan rawat jalan per tahun dan sekitar 99.500 pasien rawat inap per tahun. Angka ini menunjukkan bahwa rumah sakit tidak hanya besar secara fisik, tetapi juga sangat tinggi dari sisi volume pelayanan.

Namun yang paling menarik perhatian rombongan bukan semata pada besarnya angka-angka itu, melainkan bagaimana volume layanan sebesar itu dapat dijalankan dengan sistem yang tertib, terukur, dan sangat bertumpu pada integrasi teknologi.

Salah satu hal yang memperkaya wawasan peserta adalah pemaparan mengenai layanan unggulan rumah sakit. Peking University Shenzhen Hospital memiliki sejumlah bidang yang menonjol, antara lain urologi, sports medicine, orthopedics, dermatology and venereology, endocrinology, nephrology, gastrointestinal surgery, obstetrics and gynecology, serta neurosurgery.

Di samping itu, rumah sakit ini juga menampilkan penguatan layanan pada tim ahli unggulan seperti Parkinson’s disease, breast and thyroid surgery, rheumatology and immunology, dan beberapa klinik spesialistik tingkat tinggi lainnya.

Bahkan pada beberapa unit tertentu, seperti Breast and Thyroid Surgery, rumah sakit ini telah berkembang menjadi pusat unggulan klinis di Shenzhen.

Usai sesi pemaparan, rombongan diajak melakukan hospital tour, salah satunya ke instalasi laboratorium. Di titik ini, peserta dapat melihat secara langsung bagaimana transformasi digital dijalankan bukan hanya pada tataran administrasi, tetapi benar-benar masuk ke inti proses pelayanan.

Dalam satu ruangan laboratorium, tampak banyak peralatan yang bekerja secara terintegrasi dan otomatis. Proses pemeriksaan berjalan cepat, rapi, dan saling terkoneksi. Dari sini terlihat bahwa efisiensi tidak lahir hanya dari alat yang canggih, tetapi dari sistem yang mampu membuat setiap alat, data, dan alur kerja saling berbicara.

Peserta juga diperlihatkan bagaimana kinerja layanan medis dan penunjang medis dibantu oleh IT dan robotik AI. Teknologi tersebut memungkinkan pekerjaan dilakukan dengan lebih tepat, cepat, dan konsisten, sekaligus membantu mengurangi potensi human error.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Dalam pelayanan kesehatan, hal ini menjadi sangat penting, sebab ketepatan dan keselamatan pasien sangat bergantung pada sistem yang mampu mendukung tenaga kesehatan dalam mengambil tindakan secara cepat dan akurat.

Salah satu inovasi yang cukup menyita perhatian adalah pengembangan sensor pendeteksi cairan infus pasien. Dengan sistem ini, ketika cairan infus pasien hampir habis, perawat dapat mengetahui kondisinya melalui dashboard pemantauan tanpa harus selalu menunggu panggilan manual dari pasien.

Inovasi semacam ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya memperlihatkan arah masa depan pelayanan: teknologi dipakai untuk membuat pelayanan lebih responsif, lebih aman, dan lebih manusiawi.

Di setiap ruangan, peserta juga melihat adanya dashboard yang memantau kinerja alat dan proses pelayanan. Dashboard tersebut menjadi pusat kendali informasi yang membantu petugas mengetahui kondisi layanan secara real time. Dari titik ini, peserta dapat menangkap bahwa rumah sakit modern tidak hanya mengandalkan gedung besar dan alat mahal, tetapi juga membangun budaya kerja berbasis data yang hidup setiap saat.

Hal lain yang juga menarik untuk dicermati adalah bagaimana sistem rumah sakit di Shenzhen melayani pasien yang menggunakan asuransi pemerintah. Dalam sistem jaminan kesehatan Shenzhen, pasien pada prinsipnya memperoleh manfaat di designated medical institutions, yakni fasilitas kesehatan yang berada dalam jaringan layanan asuransi pemerintah.

Untuk layanan rawat jalan umum, tingkat pembayaran dari dana asuransi berbeda menurut jenjang rumah sakit: 75% pada fasilitas di bawah tingkat pertama, 65% pada rumah sakit tingkat kedua, dan 55% pada rumah sakit tingkat ketiga; sedangkan untuk rawat inap di rumah sakit tingkat ketiga, setelah melewati ambang awal pembayaran, proporsi pembiayaan umumnya dapat mencapai 90% bagi peserta yang memenuhi ketentuan program.

Pemerintah Shenzhen juga mengatur bahwa designated medical institutions harus memberikan rincian biaya secara jelas, menjalankan standar tarif yang ditetapkan, dan terhubung dengan sistem pengawasan serta settlement asuransi kesehatan.

PWM Jatim Pelajari Digitalisasi, IT, dan AI di Peking University Shenzhen Hospital
Foto bersama di depan Peking University Shenzhen Hospital. Foto: Istimewa/PWMU.CO

Dengan demikian, pelayanan pasien asuransi pemerintah tidak hanya bertumpu pada pembiayaan, tetapi juga pada keterhubungan sistem digital, kendali data, dan disiplin tata kelola layanan.

Dalam konteks itulah, apa yang disaksikan rombongan di Peking University Shenzhen Hospital menjadi sangat relevan. Digitalisasi di rumah sakit ini bukan sekadar untuk mempercepat administrasi, tetapi menjadi fondasi untuk membangun layanan yang sanggup menangani volume pasien besar, mendukung efisiensi pembiayaan, dan menjaga mutu pelayanan secara konsisten.

Pengembangan online medical insurance settlement, smart wards, smart pharmacy, dan sistem pemantauan berbasis dashboard menunjukkan bahwa teknologi diposisikan sebagai penopang utama pelayanan modern.

Kunjungan ini memberi kesan mendalam bagi rombongan PWM Jatim dan seluruh peserta. Yang dibawa pulang bukan hanya kekaguman pada kecanggihan alat, tetapi juga pelajaran penting bahwa masa depan rumah sakit sangat ditentukan oleh kemampuannya membangun ekosistem pelayanan yang cerdas, terintegrasi, dan efisien.

Bagi jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah dan ’Aisyiyah di Jawa Timur, pengalaman ini dapat menjadi inspirasi bahwa transformasi layanan kesehatan harus bergerak seiring antara penguatan SDM, pembenahan sistem, dan keberanian memanfaatkan teknologi yang benar-benar relevan bagi keselamatan dan kenyamanan pasien.

Dari Shenzhen, rombongan belajar satu hal yang sangat penting: teknologi bukan untuk menggantikan sentuhan manusia, tetapi untuk memperkuat mutu kerja manusia. Ketika digitalisasi, IT, dan AI dipadukan dengan visi pelayanan yang kuat, rumah sakit tidak hanya menjadi tempat orang berobat, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya inovasi, efisiensi, dan harapan baru bagi masa depan layanan kesehatan. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 18/04/2026 08:55
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡