Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Lebaran 2026 di Purwokerto: Tradisi, Silaturahmi, dan Nuansa Kampung Dhewek

Iklan Landscape Smamda
Lebaran 2026 di Purwokerto: Tradisi, Silaturahmi, dan Nuansa Kampung Dhewek
Lebaran 2026 di Purwokerto: Tradisi, Silaturahmi, dan Nuansa Kampung Dhewek
Oleh : Imam Robandi Ketua Dewan Profesor ITS dan Ketua Forum Guru Besar Indonesia

Lebaran tahun ini sangat unik. Selain adanya perbedaan awal Ramadan dan penentuan hari raya, juga terjadi perubahan dinamika sosial, ekonomi, budaya, serta pergolakan politik di tingkat nasional dan internasional yang cukup signifikan.

Apalagi Muhammadiyah telah menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai metode ilmiah baru, yang sebagian dari kita masih harus beradaptasi.

KHGT bukan hanya sedikit mengejutkan banyak umat Islam, tetapi sebagian warga Muhammadiyah sendiri juga masih perlu penyesuaian hati.

Ada yang langsung move on tanpa perlu memahami detail KHGT, dan ada yang masih berdiskusi. Hal ini sangat wajar, karena sesuatu yang baru selalu membutuhkan proses penyesuaian.

Penyerangan Negeri Iran oleh Amerika dan Israel, apalagi di Bulan Ramadan, telah mengguncang peradaban dan mempengaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat dunia. Dampaknya tidak hanya dirasakan umat Islam, tetapi juga memengaruhi geopolitik dan ekonomi global.

Negara-negara Teluk penghasil minyak ikut terseret dalam konflik ini, memengaruhi dinamika pasokan energi dunia di tengah ibadah Ramadan dan Syawal. Akibatnya, gejolak ekonomi meluas, termasuk kenaikan harga bahan bakar minyak dan gas di banyak negara.

Penurunan ekonomi nasional menjelang Syawal menyebabkan daya beli masyarakat melemah, omzet pedagang turun, dan jumlah pemudik berkurang karena keterbatasan finansial.

Yang biasa bermudik hingga seminggu kini hanya satu atau dua hari. Masyarakat lebih berhati-hati dalam konsumsi dan memilih menahan diri untuk berbelanja.

Lebaran tetap semarak dan syahdu di kampung, seperti di Alun-alun Mersi, Purwokerto, pada 20 Maret, yang dipenuhi jemaah salat Idulfitri. Kehadiran tidak hanya warga Muhammadiyah, tetapi masyarakat umum juga ikut meramaikan.

Tahun ini ada yang melaksanakan salat Id pada 20 Maret, dan ada juga pada 21 Maret. Semua saling menghargai. Siang itu, 22 Maret, geliat lebaran mulai terasa di kedai, warung, dan tempat wisata, meski tidak semeriah tahun lalu.

Ahad pagi, sekitar alun-alun Purwokerto, baru sedikit kedai kaki lima yang buka. Hanya beberapa rombong yang menjadi pusat perhatian, dikerumuni oleh banyak peminat.

Kendaraan dari berbagai penjuru kota berbaur, menghadirkan suasana khas Indonesia. Jika lebaran sebelumnya didominasi makanan lokal, kini menu global ikut meramaikan: mie gelas, nugget, French fries, sosis bakar, pizza, dan lain-lain.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Gunung Slamet terlihat dari jauh kurang ‘tersenyum’, diselimuti mendung gelap di utara Kota Purwokerto. Keindahan alam Baturraden menarik, tapi curah hujan tinggi membuat pengunjung khawatir diguyur hujan.

Para pemudik yang pulang ke Purwokerto dan sekitarnya tampak gembira melihat kampung halamannya berubah. Percampuran budaya dan bahasa menambah warna tersendiri: dialek Ngapakan Banyumasan, Tegal-Brebes, Sunda, Jogja, Semarang, bahkan lu-gue. Semua terlihat sumringah berlebaran di ‘Kampung Dhewek’.

Perubahan bahasa sehari-hari juga terasa: dari ‘mbak’ menjadi ‘kak’, ‘lur’ menjadi ‘bro’, ‘konco’ menjadi ‘bolo’. Anak-anak di kampung hampir semuanya menggunakan bahasa Indonesia. Pertemuan tatap muka kini lebih jarang karena video call dan zoom memudahkan komunikasi.

Semboyan para pemudik adalah ‘nyemedudulur’, ‘ngrengkuh’, dan ‘gawe bungah’. Nilai ‘seduluran selawase, guyup-akur salaminyo’ tetap terjaga, terutama di kalangan yang lebih tua. Hidup mereka sederhana, mengikuti aliran, dan tetap nglegowo.

Salat Id dilakukan sesuai pilihan masing-masing, tanpa menghakimi yang memilih Jumat atau Sabtu. Semua menjaga ibadah sebagai makhluk Tuhan dan meneguhkan persaudaraan tanpa membedakan warna atau latar belakang.

Angin sepoi-sepoi dari Puncak Jabal Salamat mengalir segar, membawa udara murni ke jemaah salat Id di Alun-alun Mersi. Pimpinan Ranting Muhammadiyah Mersi profesional mengatur sistem suara dan saf salat tertata rapi.

Takbir mengumandang. Ust. Bruri Abdussalam, alumni Al-Azhar Kairo, mengupas makna jahiliyah secara aplikatif: bukan hanya tidak bisa membaca huruf, tetapi juga tidak mengamalkan yang dianjurkan dan melakukan yang dilarang. Menghilangkan kejahiliyahan berarti pintar membaca firman Allah dan mengamalkannya. Sesuai pepatah Jawa, ‘Ngelmu tinemune kanthi laku’, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dipraktikkan.

Hari Id kali ini terasa spesial. Obrolan singkat dengan Sr Angela dari Susteran Purwokerto menghangatkan suasana lebaran, apalagi Ms Gita dan teman-teman lintas iman ikut meramaikan, membantu bersih-bersih lapangan salat Id. Ini menjadi ikhtiar membangun silaturahmi agar hubungan semakin harmonis.

Lebaran ‘Kampung Dhewek’ selalu menghadirkan rasa kangen. Tradisi ini memikat, memunculkan semangat ‘gemruduk mulih’ dan mudik ceria, untuk mengungkapkan kerinduan akan tanah tumpah darah.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡