Tajdid yang Mendahului Zaman
Warisan penting K.H. Ahmad Dahlan bukan sekadar metode perjuangannya. Warisan itu terletak pada keberanian menemukan jawaban baru. Ia menjawab berbagai persoalan dengan tetap berlandaskan nilai Islam.
Bayangkan jika Kiai Dahlan hanya mengikuti kebiasaan zamannya. Mungkin, pendidikan Muhammadiyah tidak akan berkembang seperti sekarang. Kita mungkin tidak mengenal pendidikan yang memadukan ilmu agama.
Kita juga mungkin tidak mengenal perpaduan ilmu umum. Jika ia hanya mempertahankan cara dakwah yang mapan, sejarah mungkin berbeda. Surah Al-Ma’un mungkin tidak berkembang menjadi gerakan pelayanan sosial. Padahal, gerakan tersebut kini menjangkau masyarakat secara luas.
Karena itu, kita tidak cukup mengenang sejarah pendiri Muhammadiyah. Kita perlu melanjutkan keberaniannya membaca perubahan zaman. Kita juga harus menghadirkan pembaruan sesuai kebutuhan masyarakat.
Muktamar Ke-49 memiliki peluang meneguhkan kembali watak tersebut. Forum ini bukan sekadar ruang evaluasi perjalanan organisasi. Muktamar juga akan menyusun program kerja Persyarikatan. Lebih dari itu, Muktamar perlu menentukan posisi Muhammadiyah. Posisi tersebut harus menjawab dua dekade perubahan berikutnya.
Muhammadiyah 2047 tidak semestinya hanya menjadi organisasi lebih besar. Muhammadiyah harus menjadi gerakan yang semakin relevan dan terhubung. Persyarikatan juga perlu terus berinovasi dan berdaya saing global. Muhammadiyah harus semakin berdampak bagi kemanusiaan.
Sebab, gerakan berkemajuan tidak sekadar mengikuti perubahan. Gerakan berkemajuan mampu membaca arah perubahan. Gerakan tersebut menyiapkan jawaban dan merancang masa depan. Tujuannya ialah menghadirkan masa depan yang lebih gemilang.






0 Tanggapan
Empty Comments