Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Membaca Masa Depan Muhammadiyah

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Membaca Masa Depan Muhammadiyah
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Ramliyanto Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PNF Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur
Serial Menjelang Muktamar Ke-49 Muhammadiyah Tahun 2027 (5)
Muhammadiyah 2047 dan Urgensi Foresight sebagai Agenda Muktamar

Sulit membayangkan andai Kiai Haji Ahmad Dahlan melihat perkembangan Muhammadiyah seperti sekarang ini. Awal abad ke-20 mungkin beliau belum membayangkan perkembangan organisasi ini akan seperti apa.

Kini, Muhammadiyah memiliki jaringan sekolah dan perguruan tinggi. Muhammadiyah juga mengelola rumah sakit dan berbagai lembaga sosial. Gerakannya mencakup pemberdayaan perempuan, kebencanaan, media, dan filantropi. Bahkan, dakwah Muhammadiyah telah menjangkau berbagai negara.

Namun, Kiai Dahlan memiliki kemampuan yang jauh lebih mendasar. Ia mampu membaca tanda zaman melalui kecakapan intelektualnya.

Ketika pendidikan umat tertinggal, ia merintis pembaruan pendidikan. Ketika ilmu agama dan umum terpisah, ia justru sukss mempertemukannya. Menghadirkan kedua bidang ilmu tersebut dalam ruang pembelajaran yang sama.

Bahkan ketika masyarakat mengasihani kemiskinan dan keterlantaran, Kiai Dahlan mengajarkan tindakan nyata. Ia mendorong umat mewujudkan pesan Al-Qur’an melalui tindakan sosial.

Kiai Dahlan juga membuka ruang kemajuan bagi perempuan, yang kemudian berkembang melalui embrio gerakan ‘Aisyiyah. Di tengah masyarakat kolonial yang hierarkis, ia membangun gerakan modern. Gerakan tersebut bertumpu pada organisasi, pendidikan, pelayanan, dan kemandirian.

Singkat kata, Kiai Dahlan tidak sekadar merespons persoalan zamannya. Ia juga menyiapkan jawaban bagi kebutuhan zaman berikutnya.

Dalam bahasa kontemporer, cara berpikir itu disebut foresight. Istilah tersebut merujuk pada kemampuan membaca berbagai kemungkinan masa depan.

Kemampuan ini membantu seseorang menyiapkan langkah strategis sejak sekarang.

Foresight dalam DNA Tajdid

Muhammadiyah lahir bukan untuk mempertahankan keadaan, tetapi menjadikannya tumbuh melalui keberanian memperbarui keadaan. Gerakan tajdid tidak cukup berarti pemurnian pemahaman keagamaan, tetapi memiliki semangat pembaruan dalam kehidupan. Semangat tersebut mendorong Islam untuk menjawab berbagai persoalan yang terus berkembang.

Di sinilah foresight berdekatan dengan watak dasar Muhammadiyah. Istilah ini bukan sekadar konsep asing bagi Persyarikatan. Istilah ini justru menjelaskan karakter asli gerakan Muhammadiyah. Karakter tersebut mampu membaca zaman sebelum mengambil tindakan.

Foresight berbeda dari ramalan. Pendekatan ini tidak mengklaim mengetahui masa depan secara pasti.

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menjelaskan konsep strategic foresight. OECD memaknainya sebagai eksplorasi sistematis berbagai kemungkinan masa depan. Pendekatan tersebut tidak memprediksi satu masa depan yang pasti (OECD, 2025).

Dengan pendekatan ini, kita tidak sekadar menunggu masa depan. Kita mempelajari kecenderungan perubahan dan berbagai sinyal awal.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Selain itu juga mengidentifikasi kemungkinan gangguan dan pilihan strategis. Selanjutnya, kita menyiapkan berbagai langkah sejak hari ini.

Pemikir studi masa depan, Sohail Inayatullah, menjelaskan manfaat kajian masa depan. Kajian tersebut membantu manusia memetakan perubahan dan mengantisipasi persoalan.

Kajian itu juga mendorong manusia menciptakan alternatif dan mentransformasikan keadaan. Dengan demikian, manusia tidak sekadar menyesuaikan diri terhadap masa depan. Manusia juga turut membentuk masa depan yang diinginkannya (Sohail Inayatullah, Foresight, 2008).

Semangat itu sejalan dengan pesan Al-Qur’an tentang hari esok. Al-Qur’an mengajak setiap diri memperhatikan persiapannya untuk hari esok.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyebutnya kerja intelektual profetik. Menurut Haedar, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah perlu mengembangkan kajian masa depan. Kajian tersebut membantu membaca berbagai kemungkinan perubahan masyarakat (Muhammadiyah.or.id, Oktober 2026).

Ketika Kebesaran Menjadi Ujian

Muhammadiyah kini memiliki jaringan luas dan pengalaman panjang. Organisasi ini telah melewati perjalanan kelembagaan lebih dari satu abad. Kebesaran tersebut menjadi modal sosial, intelektual, dan kelembagaan. Modal itu sangat berharga bagi Indonesia dan kemanusiaan universal.

Namun, semakin besar organisasi, semakin besar pula tantangannya. Organisasi perlu menjaga kelincahan dan menghindari sindroma obesitas. Sistem yang luas dapat memperkuat organisasi. Namun, sistem tersebut juga berpotensi melahirkan rutinitas.

Pengalaman panjang dapat melahirkan kebijaksanaan. Sebaliknya, pengalaman itu bisa membuat organisasi nyaman dengan keberhasilan masa lalu.

Organisasi besar tidak selalu melemah karena kekurangan sumber daya, tetapi bisa kehilangan daya gerak karena terlalu sibuk merawat aset.  Organisasi juga bisa mengabaikan berbagai potensi yang sedang tumbuh. Karena itu, Muhammadiyah perlu menjaga relevansi amal usahanya. Amal usaha tidak cukup berkembang secara kuantitatif.

Sekolah harus mampu menjawab perubahan cara belajar generasi baru. Perguruan tinggi perlu melahirkan pengetahuan dan inovasi. Lulusan saja tidak cukup menjawab kebutuhan masyarakat. Perguruan tinggi juga perlu menentukan arah masyarakat, bangsa, dan negara.

Rumah sakit perlu mengantisipasi perubahan pola penyakit. Rumah sakit juga harus memperhatikan teknologi kesehatan mutakhir. Penuaan penduduk dan ketimpangan akses turut membutuhkan perhatian.

Dakwah juga menghadapi tantangan yang tidak kalah besar. Dakwah digital saja tidak cukup menjawab perubahan zaman. Muhammadiyah perlu memahami perubahan kesadaran dan bahasa generasi mendatang. Muhammadiyah juga perlu memahami perubahan identitas dan pencarian makna. Dengan kata lain, kebesaran Muhammadiyah harus diikuti pandangan jauh.

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 03/11/2026 08:17
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu