Momentum Muhammadiyah 2047
Tanwir Muhammadiyah di Palu berlangsung pada November 2026. Momentum ini strategis menjelang Muktamar Ke-49 tahun 2027. Salah satu agendanya ialah menyusun program jangka panjang. Program tersebut akan mengarahkan Muhammadiyah selama periode 2027–2047.
Program jangka panjang sebelumnya mencakup periode 2005–2025. Muhammadiyah kemudian memperpanjang pelaksanaannya hingga 2027. Karena itu, Muhammadiyah membutuhkan rancangan program baru.
Rancangan tersebut akan memandu gerakan selama dua dekade. Periode itu dimulai setelah Muktamar Ke-49 (Muhammadiyah.or.id, September 2026).
Penyusunan program 2027–2047 tidak boleh sekadar memperpanjang daftar kegiatan. Dokumen tersebut perlu menjadi arsitektur masa depan Muhammadiyah.
Dokumen itu harus menggambarkan posisi Persyarikatan pada usia 135 tahun. Selain itu juga perlu merumuskan peran Muhammadiyah. Peran itu harus menjawab tantangan dunia yang terus berubah.
Pada 2047, kecerdasan buatan mungkin mengubah arsitektur pekerjaan. Perubahan iklim juga akan memengaruhi berbagai sektor kehidupan. Dampaknya mencakup pangan, kesehatan, migrasi, dan tata ruang.
Masyarakat juga akan menghadapi usia harapan hidup lebih panjang. Pola keluarga dan hubungan sosial pun akan berubah. Teknologi akan semakin memengaruhi hubungan antarmanusia.
Persaingan geopolitik akan menghadirkan tantangan baru. Pergeseran pusat ekonomi dunia juga akan memengaruhi kehidupan. Transformasi pendidikan dan perubahan otoritas keagamaan turut berkembang.
Sebagian pekerjaan mungkin menghilang pada masa mendatang. Sebaliknya, profesi baru akan muncul dengan cepat. Anak-anak TK ABA dan SD Muhammadiyah hari ini akan tumbuh dewasa. Mereka kelak menjadi penggerak utama masyarakat pada masa itu.
Pertanyaannya bukan sekadar kemampuan Muhammadiyah menghadapi perubahan. Pertanyaan strategisnya ialah peran Muhammadiyah dalam membentuk perubahan tersebut.
Dari Dokumen Program ke Arsitektur Masa Depan
Muhammadiyah 2047 membutuhkan lebih dari sekadar visi normatif. Visi tersebut harus melahirkan pilihan strategis dan peta jalan. Muhammadiyah juga perlu menetapkan tahapan pencapaian dan ukuran dampak. Ukuran tersebut harus memungkinkan evaluasi secara berkala.
Pertama, Persyarikatan perlu menyusun beberapa skenario masa depan. Bagaimana pendidikan Muhammadiyah menghadapi kecerdasan buatan? Bagaimana teknologi tersebut mengubah proses pembelajaran?
Selain itu, juga bagaimana pelayanan kesehatan menghadapi teknologi diagnostik yang semakin personal, rumah sakit mengatasi kesenjangan akses kesehatan?
Bagaimana pula dakwah menjangkau generasi baru melalui platform digital? Juga Muhammadiyah dalam merespons pergeseran ruang pengajian konvensional?
Kedua, setiap agenda besar perlu menjalani future stress test. Kebijakan tidak cukup dinilai berdasarkan persoalan hari ini. Muhammadiyah juga perlu menguji ketahanannya menghadapi perubahan. Pengujian tersebut perlu mencakup sepuluh hingga dua puluh tahun mendatang.
Ketiga, program 2027–2047 perlu memiliki tonggak pencapaian lima tahunan. Dengan begitu, Muhammadiyah dapat mengevaluasi visi jangka panjang.
Persyarikatan juga dapat mengoreksi dan memperkuat berbagai program. Muhammadiyah perlu menyesuaikan program secara berkala dan berkesinambungan.
Keempat, Muhammadiyah harus mengukur keberhasilan berdasarkan dampak. Organisasi tidak cukup menghitung jumlah sekolah dan rumah sakit. Organisasi juga tidak cukup menghitung program dan forum kegiatan. Muhammadiyah perlu mengukur perluasan akses dan peningkatan kualitas kehidupan. Persyarikatan juga perlu menilai inovasi dan penyelesaian persoalan masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, Muhammadiyah dapat menyatukan berbagai agenda strategis. Agenda itu mencakup internasionalisasi dan transformasi digital. Penguatan ekonomi dan regenerasi kepemimpinan juga perlu masuk. Seluruh agenda tersebut membutuhkan satu rancangan besar Muhammadiyah 2047.
Membangun Jaringan Foresight Muhammadiyah
Muhammadiyah sebenarnya memiliki modal untuk mengembangkan kajian masa depan. Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah memiliki akademisi dan pusat penelitian. Sekolah berhubungan langsung dengan generasi muda. Rumah sakit membaca perubahan kesehatan masyarakat. Majelis dan lembaga menjangkau berbagai bidang kehidupan.
Organisasi otonom menjadi ruang tumbuh kader lintas generasi. Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah menangkap perubahan global. Mereka mengamati perubahan dari berbagai belahan dunia.
Media Persyarikatan merekam pergeseran wacana publik. Cabang dan ranting bersentuhan langsung dengan dinamika masyarakat. Seluruh kekuatan tersebut perlu membentuk Jaringan Foresight Muhammadiyah.
Jaringan ini tidak harus menjadi struktur birokrasi baru. Muhammadiyah tidak perlu menambah panjang rantai organisasinya. Persyarikatan dapat membangun mekanisme kolaborasi lintas lembaga.
Kolaborasi itu melibatkan majelis, lembaga, amal usaha, dan perguruan tinggi. Organisasi otonom dan jejaring diaspora juga perlu berkontribusi. Mereka dapat menghimpun pengetahuan dan merumuskan pilihan strategis.
Jaringan tersebut dapat menghasilkan laporan tahunan tentang masa depan Muhammadiyah. Jaringan juga dapat mengidentifikasi berbagai sinyal perubahan.
Selain itu, jaringan dapat menyelenggarakan laboratorium skenario. Jaringan kemudian menyusun rekomendasi bagi pimpinan Persyarikatan. Kajian lintas disiplin dapat menguji berbagai isu strategis. Hasil kajian tersebut kemudian menjadi bahan penyusunan kebijakan.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Irwan Akib, pernah menyampaikan gagasan penting. Ia mendorong PTMA membangun pusat kajian strategis atau think tank. Pusat kajian tersebut perlu membaca isu terkini. Pusat kajian juga harus memproyeksikan tantangan masa depan. Hasil kajian diharapkan menjadi bahan Muktamar Muhammadiyah 2027 (Muhammadiyah.or.id, Januari 2026).
Muhammadiyah perlu memperluas gagasan tersebut menjadi kerja bersama. Muhammadiyah tidak kekurangan orang pintar, data, jaringan, maupun pengalaman. Tantangannya ialah menghubungkan seluruh sumber daya tersebut. Hubungan itu harus menghasilkan kecerdasan kolektif bagi masa depan Persyarikatan.






0 Tanggapan
Empty Comments