Guyuran hujan deras yang menyelimuti wilayah Gresik pada Sabtu (28/2/2026) sore tidak menyurutkan langkah para pejuang pendidikan.
Penuh perjuangan menembus cuaca yang belum bersahabat, keluarga besar Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Balongpanggang tetap istiqamah berkumpul di Aula SMAM 6 Gresik.
Agenda ini merupakan bagian dari upaya mempererat silaturrahim melalui kajian rutin guru yang digelar setiap bulan.
Acara dibuka dengan lantunan ayat suci al-Quran, dilanjutkan dengan sambutan hangat dari Ketua Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Balongpanggang, Muhammad Reban, S.Pd., M.M.Pd.
Beliau menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran para guru yang meluangkan waktu di tengah guyuran hujan demi menjaga kerukunan dan memperbarui iman melalui forum bulanan ini.
Hakikat La Ilaha Illallah: Bukan Sekadar Formalitas
Memasuki acara inti, H. M. In’am, M.Pd.I. hadir sebagai narasumber dengan materi yang luar biasa. Beliau menekankan pentingnya memperbarui iman melalui kalimat tauhid, La ilaha illallah.
“Banyak orang percaya kepada Allah, namun tidak otomatis mau mengucapkan kalimat tauhid karena ada konsekuensi besar di dalamnya,” jelas In’am merujuk pada surah al-Ankabut ayat 61 dan 63.
Beliau memaparkan bahwa kalimat ini adalah tumpuan utama seluruh ajaran Islam yang menuntut ketulusan hati secara total.
Iman yang Ajeg dan Ujian Ketaatan
Mengulas surah al-Baqarah 183 dan Al-Hujurat 14, beliau menjelaskan bahwa ketika seseorang menyatakan Islam, perlu ada pembinaan keimanan yang berkelanjutan (ajeg), bukan sekadar formalitas di lisan.
Beliau mencontohkan beratnya ibadah seperti salat (all-Baqarah 45-46) dan peristiwa besar seperti Isra Mikraj.
“Tingkat keimanan setiap orang berbeda-beda dalam menerima ketetapan Allah, sebagaimana keteguhan Abu Bakar yang langsung membenarkan lisan Rasulullah hingga mendapat gelar as-Shiddiq,” tuturnya.
Terkait ibadah Ramadan, In’am menjelaskan fleksibilitas Islam bagi yang berhalangan (sakit, lansia, ibu hamil dan menyusui) untuk menggantinya dengan fidyah sebesar setengah kilogram bahan pokok. Beliau menyarankan agar nilai tersebut dilebihkan sebagai bentuk kebaikan yang lebih utama.
Namun, beliau memberi peringatan keras terkait zakat merujuk surah Fussilat ayat 6-7, serta mengingatkan bahwa puasa yang tidak dijaga lisan dan amalannya hanya akan menghasilkan rasa lapar tanpa pahala.
Ciri Orang Beriman: Sami’na wa Atha’na
Menutup kajian, Bapak In’am membedah karakteristik mukmin sejati dalam surah an-Nur 51 dan al-Ahzab 36.
“Ciri orang iman adalah ketika ada keputusan hukum dari Allah, jawabannya singkat: Sami’na wa atha’na (Kami dengar dan kami taat),” tegasnya.
Beliau mengingatkan melalui surah an-Nisa 65 bahwa iman menuntut kepatuhan total tanpa ada rasa keberatan sedikit pun terhadap keputusan Allah dan Rasul-Nya.
Kegiatan rutin bulanan ini diakhiri dengan muhasabah diri dan buka puasa bersama saat adzan Maghrib berkumandang.
Momentum ini diharapkan menjadi energi baru bagi seluruh pendidik untuk terus istiqamah menebar manfaat dan menjaga ukhuwah di lingkungan pendidikan Muhammadiyah.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments