Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Mengejar Validasi-Mutu Pendidikan Jawa Timur

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Mengejar Validasi-Mutu Pendidikan Jawa Timur
Ilustrasi: chatgbt
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Ali Yusa, MT Dewan Pendidikan Jawa Timur dan Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik

Ada pertanyaan mendasar ketika kita berbicara tentang kemajuan pendidikan: apakah pendidikan benar-benar semakin baik, atau kita hanya semakin mahir menyajikan angka keberhasilan?

Keberhasilan pendidikan tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan kondisi ekonomi keluarga, ketersediaan infrastruktur, distribusi guru, kualitas pembelajaran, kemampuan pemerintah membiayai layanan publik, hingga kesempatan masyarakat memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Karena itu, mengukur keberhasilan pendidikan tidak cukup dengan menghitung jumlah program, anggaran, kegiatan, atau penghargaan.

Ukuran yang lebih mendasar adalah perubahan nyata: apakah anak memperoleh kesempatan belajar yang setara, kemampuan mereka berkembang, sekolah menyediakan lingkungan layak, dan pendidikan memperluas kesempatan sosial-ekonomi.

Di sinilah persoalan validasi pendidikan Jawa Timur perlu dibicarakan kembali.

Angka Membaik, Persoalan Belum Selesai

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jawa Timur pada 2024 mencapai 75,35, meningkat 0,70 poin dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 74,65. Capaian tersebut berada di atas IPM nasional sebesar 75,02.

Pada dimensi pendidikan, harapan lama sekolah meningkat dari 13,38 menjadi 13,43 tahun. Rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas naik dari 8,11 menjadi 8,28 tahun. Kemajuan ini patut diapresiasi (BPS Provinsi Jawa Timur, 2024).

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Namun, angka agregat tidak selalu menggambarkan pengalaman pendidikan setiap warga. IPM Kota Surabaya mencapai 84,69 dan Kota Malang 84,68, sedangkan Kabupaten Sampang 66,72 dan Kabupaten Bangkalan 67,33.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan manusia berlangsung tidak seragam. Di belakangnya terdapat kondisi material yang berbeda, mulai dari struktur ekonomi, kemampuan fiskal, akses transportasi, ketersediaan fasilitas, kondisi geografis, hingga kemampuan keluarga membiayai pendidikan.

IPM juga bukan ukuran langsung kualitas pembelajaran, integritas, kreativitas, atau kemampuan berpikir kritis. Indikator pendidikan dalam IPM menggunakan harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah.

Peningkatan angka tersebut belum otomatis menunjukkan perkembangan kemampuan membaca, bernalar, memecahkan masalah, dan berkolaborasi.

Karena itu, validasi pendidikan harus melampaui angka.

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 04/11/2026 12:36
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu