Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menjadi Pribadi Sabar dengan Pikiran Jembar

Iklan Landscape Smamda
Menjadi Pribadi Sabar dengan Pikiran Jembar
Alam Jembar bagi Pribadi Sabar, Illustrasi AI/PWMU.CO
Oleh : M. Anwar Djaelani Penulis buku Menulislah, Engkau Akan Dikenang dan 13 judul lainnya
pwmu.co -

Sikap sabar kerap disebut sebagai kunci kelapangan hidup. Dalam ajaran Islam, sabar bukan sekadar kemampuan menahan diri, tetapi juga fondasi ketenangan hati dan keluasan berpikir.

Melalui nilai kesabaran, seseorang diyakini mampu menghadapi ujian hidup dengan lebih bijak sehingga memiliki “alam jembar” atau pikiran yang lapang.

Jembar, apa itu? Makna jembar adalah luas atau lebar. Makna lain adalah lapang dada atau lapang hati. Lalu, seperti apa maksud Alam Jembar bagi Pribadi Sabar?

Ajaran Mulia

Siapa pun ingin hidupnya lapang. Semua berharap kesehariannya tanpa masalah. Bisakah? Jawabannya, bisa ”ya” atau ”tidak”, tergantung sikap masing-masing orang dan terkait dengan sikap sabar.

Sabar adalah salah satu ajaran pokok dalam Islam. Simaklah dua ayat ini:

”Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS Al-Baqarah [2]: 153).

”Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS Al-Baqarah [2]: 45).

Perhatikan dua ayat di atas. Terasa, sabar dan shalat seperti sepasang yang agung. Selanjutnya, simak ayat berikut yang memasangkan jihad dan sabar.

”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar” (QS Ali ’Imran [3]: 142).

Intinya, dalam Islam, sabar adalah salah satu tema pokok yang sangat penting. Bahkan, satu di antara Asmaul Husna adalah Ash-Shaaburu, bahwa Allah Maha Penyabar.

Ramadhan dan Sabar

Salah satu sisi puasa Ramadhan adalah menjadi semacam Sekolah Kesabaran. Saat berpuasa, seorang Muslim menahan diri dari berbagai hal pembatal puasa. Di dalamnya ada juga latihan menahan amarah, mengendalikan lisan, dan menjaga hati.

Ramadhan adalah bulan pelatihan dan pendidikan untuk bisa sabar. Misalnya, kita lebih tenang saat direndahkan orang. Kita lebih istiqomah dalam melakukan berbagai kebaikan. Kita lebih kuat saat diuji Allah.

Ramadhan adalah momentum membangun ketakwaan, yang salah satu cirinya adalah memiliki sifat sabar. Setelah sebulan belajar sabar, nanti di sebelas bulan berikutnya sikap sabar harus mampu kita pertahankan. Kita harus bisa menjaga diri dan menjadi pribadi yang tahan godaan dan lembut dalam sikap.

Berkat sabar kita akan tetap dalam ketaatan. Misalnya, tetap tekun shalat, tilawah, dan sedekah meski lelah. Berkat sabar, kita akan menjauhi semua perilaku maksiat walau tersedia kesempatan.

Berkat sabar, kita akan bisa menerima semua bentuk ujian dari Allah dengan ridha dan tetap berikhtiar untuk bisa menyelesaikannya.

Sabar membimbing kita untuk teguh memegang kebenaran. Sabar menyangga kita agar tetap kuat ketika cobaan-cobaan datang. Sementara, di sekitar, banyak teladan (seperti para Nabi dan orang-orang shaleh) yang bisa kita tiru sikapnya yang sabar.

Para Teladan

Salah satu teladan dalam kesabaran adalah Nabi Ayub As. Beliau mendapat berbagai ujian yang berat terkait dengan hewan-hewan peliharaannya, tanahnya yang luas, dan keturunannya yang banyak. Termasuk, beliau diuji dengan sakit bertahun-tahun (ada yang menyebut 3, 7, dan 18 tahun).

Ujian Ayub As sangat berat, tetapi keyakinannya tak pernah tamat. Ayub As sabar dan tetap bersyukur. Perhatikan doanya yang tak meminta sembuh secara langsung di ayat ini:

”Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: ’(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang’.” (QS Al-Anbiyaa’ [21]: 83).

Meski semua kenikmatan dicabut, lisan Ayub As tetap melafalkan doa. Hatinya tak pernah berburuk sangka kepada Allah. Dalam derita panjang itu, beliau tidak kehilangan iman.

Segenap cobaan itu, tulis Ibnu Katsir di buku Kisah Para Nabi, tidak membuat Ayub As berpaling dari Allah. Bahkan, menambah kesabaran dan introspeksinya. Menambah rasa syukurnya kepada Allah (2015: 448).

Teladan lain adalah Nabi Muhammad Saw. Sejak awal berdakwah, dirinya dihina, dilempari batu, bahkan diusir dari kampung halamannya.

Di Thaif, tubuh Nabi Saw berdarah karena dilempari batu oleh warga. Nabi Saw tidak membalasnya. Sebaliknya, Rasul Saw mendoakan agar dari keturunan mereka lahir generasi yang beriman.

Nabi Muhammad Saw pribadi yang sabar. Hal itu nyata dalam setiap tindakannya. Perhatikan, misalnya, saat di pagi hari tidak ada makanan di rumah, maka Nabi Saw memilih untuk berpuasa.

Abu Bakar Ra sabar ketika harus menempuh perjalanan sulit dan penuh risiko saat menemani perjalanan hijrah Nabi Saw dari Mekkah ke Madinah. Abu Bakar Ra sabar saat menyerahkan seluruh hartanya untuk dana jihad kaum Muslimin kala menghadapi Perang Tabuk.

Umar bin Khaththab Ra penyabar. Saat sebagai khalifah, dengan menyamar beliau sering mengontrol kesejahteraan warganya, siang dan malam.

Umar Ra sabar saat memilih untuk memanggul sendiri karung gandum dari “Gudang Negara” menuju rumah seorang ibu bersama sang anak yang sedang tidak punya makanan.

Usman bin Affan Ra penyabar. Sebagai seorang yang kaya, beliau sabar dan tidak terbuai dengan hartanya. Sebaliknya, beliau memanfaatkannya dalam kaitan perjuangan di Jalan Allah.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ali bin Abi Thalib Ra penyabar. Simak kejadian saat Nabi Saw akan berangkat hijrah dari Mekkah ke Madinah.

Untuk mengecoh musuh, Ali Ra dengan sabar berperan seolah-olah dirinya adalah Nabi Saw yang masih tidur di kamarnya. Hanya orang sabar sekaligus berani yang sanggup menerima amanah berisiko sangat tinggi itu.

Bilal bin Rabah Ra penyabar. Dia disiksa di padang pasir oleh tuannya karena mempertahankan tauhid. Tubuhnya ditindih batu besar, tetapi lisannya hanya mengucap “Ahad, Ahad”.

Di negeri ini, sekadar menyebut dua teladan, ada Mohammad Natsir dan Hamka. Keduanya sabar dalam perjuangan di bidang dakwah dan politik.

Menghadapi tekanan, bahkan pernah ditahan, keduanya tetap tegar dalam memperjuangkan nilai Islam dalam bingkai kebangsaan.

Jika Tak Sabar

Adakah contoh yang pikirannya tak jembar karena tak sabar dan lebih menurutkan hawa nafsunya? ‘Abdah bin ‘Abdurrahiim bisa disebut.

Kisahnya tragis. Berdasarkan buku Di bawah Kilatan Pedang karya Dr. Hamid Ath-Thahir, www.panjimas.com menulis

“Kisah Malang Tabi’in Mujahid Hafal Al-Qur’an yang Murtad, Apa Penyebabnya?” Berikut ini petikannya.

‘Abdah lelaki gagah dan termasuk Tabi’in. Dia hafal Al-Qur’an. Juga tinggi ilmunya dan zuhud hidupnya. Kesehariannya aktif beribadah termasuk berpuasa Daud.

‘Abdah dikenal sebagai mujahid tangguh. Suatu ketika, dia ikut menghadapi pasukan Romawi. Lewat tangannya, banyak nyawa musuh yang melayang.

Tak dinyana, terjadi musibah di akhir hayatnya. Dia meninggal dengan tidak membawa iman karena murtad. Apa pasal?

Di perang menghadapi Romawi itu, tak disangka ‘Abdah terpesona seorang wanita Romawi yang cantik. Saat mengepung musuh, dia melihatnya di dalam benteng. Dia tertarik.

Tak sabar, dia mengirim surat cinta. Dia tanya, dengan cara apa agar bisa menikahinya? ”Masuklah agama Nasrani maka aku jadi milikmu,” respons si wanita.

‘Abdah setuju. Nafsu telah menguasainya sampai rela menanggalkan iman. Tak tahan melihat wanita cantik, dia rela tinggalkan Islam.

Kawinlah dia di dalam benteng. Kaum Muslimin yang menyaksikan hal itu sangat terguncang. Bagaimana mungkin seorang hafidz meninggalkan Allah?

Ketika ‘Abdah dibujuk untuk tobat, tak bisa. Saat ditanyakan kepadanya di mana Al-Qur’an yang dulu dia hafal, dia jawab bahwa telah lupa semua isinya kecuali dua ayat saja yaitu QS Al-Hijr 2-3, yang artinya:

”Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang Muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).”

Dua ayat ini, yang masih dihafal ‘Abdah, seperti langsung ditujukan kepadanya yang murtad.

Dua ayat itu mengingatkan kita, bahwa menyesal setelah berada di akhirat sungguh tak berguna. Oleh karena itu, terutama di saat berpuasa Ramadhan, belajarlah untuk menjadi pribadi yang sabar.

Belajarlah untuk bisa mengelola hawa nafsu dengan benar, agar punya pikiran yang jembar.

Lihat, oleh karena tak sabar, alam pikiran ‘Abdah tak jembar. Tak punya pikiran kah dia, bahwa ada perempuan lain yang beriman dan secantik si Romawi itu? Bahkan, sangat mungkin, ada banyak perempuan yang beriman dan lebih cantik.

Sangat Berharap

Hanya orang sabar yang punya pikiran jembar atau lapang. Hanya orang sabar yang akan sukses menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya. Pun, hanya orang sabar yang akan berhasil menghadapi semua ujian dari Allah.

Semoga puasa Ramadhan menanamkan pada diri kita sikap sabar seperti yang telah diperagakan Nabi Ayyub As, Nabi Muhammad Saw, dan Bilal bin Rabah Ra.

Juga, bisa sabar seperti yang diteladankan Mohammad Natsir dan Buya Hamka saat berdakwah dan berjuang untuk Indonesia.

Insya Allah, dengan sabar, pikiran kita akan jembar atau lapang. Dengan hal itu, kita akan mudah melakukan berbagai amal kebajikan yang akan mendatangkan kemanfaatan bagi semua warga di alam ini. Alhamdulillah, Allahu Akbar!

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu