Guru Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-Kanak (TK) Aisyiyah memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan generasi pemimpin masa depan. Karena itu, guru perlu terus belajar sepanjang hayat agar mampu menanamkan ilmu dan nilai-nilai yang benar kepada anak didik.
Pesan tersebut disampaikan Prof. Dr. Syamsul Sodik, M.Pd., dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik dalam kajian iftitah puncak Milad ke-29 Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Kabupaten Gresik, Sabtu (24/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di lantai IV Gedung Dakwah Muhammadiyah Kabupaten Gresik ini dihadiri sekitar 450 peserta. Mereka terdiri atas guru KB dan TK Aisyiyah, ustadzah TPQ Aisyiyah se-Kabupaten Gresik, serta undangan dari berbagai lembaga dan instansi pemerintah.
Guru Menyiapkan Pemimpin Masa Depan
Dalam kajiannya, Syamsul Sodik yang juga Wakil Ketua Majelis Pembina Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PDM Gresik menegaskan bahwa tanggung jawab guru semakin besar karena anak-anak yang dididik saat ini akan menjadi pemimpin pada masa mendatang.
“Tanggung jawab ibu-ibu guru IGABA semakin ke depan, semakin berat. Mengapa demikian? Karena anak-anak yang kita didik saat ini akan menjadi para pemimpin di masa depan sekitar 40 tahun yang akan datang,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan anak usia dini memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan menanamkan nilai-nilai yang akan menjadi bekal mereka ketika dewasa. Karena itu, guru tidak hanya bertugas menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membimbing anak agar tumbuh dengan nilai dan perilaku yang baik.
Menghadapi Tantangan Perkembangan AI
Dalam kesempatan tersebut, Syamsul juga menyinggung prediksi World Economic Forum (WEF) mengenai perubahan dunia kerja akibat perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi berpotensi menghilangkan sejumlah jenis pekerjaan, tetapi pada saat yang sama juga dapat melahirkan pekerjaan baru yang sebelumnya belum ada.
Meski demikian, ia menilai tidak semua pekerjaan manusia dapat sepenuhnya digantikan oleh AI. Pekerjaan yang membutuhkan interaksi sosial dan keterlibatan manusia secara langsung tetap memiliki peran penting.
Ia juga menegaskan bahwa prediksi mengenai masa depan tidak selalu menjadi kenyataan. Oleh sebab itu, guru perlu terus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan agar dapat menghadapi perubahan zaman.
“Prediksi tidak ada yang pasti. Maka dari itu, guru-guru IGABA harus tetap belajar sepanjang hayat agar kita semua mampu mendidik anak bangsa dengan benar dan menanamkan nilai yang benar,” pesannya.
Menanamkan Nilai sebagai Amal Jariyah
Syamsul mengingatkan bahwa nilai-nilai yang ditanamkan guru kepada anak didik dapat memberikan dampak jangka panjang. Pendidikan yang baik diharapkan menjadi amal jariyah, sementara penanaman nilai yang keliru dapat membawa dampak negatif pada masa depan.
“Sehingga kelak kita akan mendapatkan pahala jariyah, bukan hal-hal yang salah. Karena kalau menanamkan yang salah, kelak akan mendapatkan dosa jariyah. Naudzubillah min dzalik,” tuturnya mengakhiri kajian.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para guru IGABA Gresik bahwa mendidik anak usia dini merupakan amanah besar. Melalui semangat belajar sepanjang hayat, guru diharapkan terus memperkuat kompetensi sekaligus menanamkan nilai-nilai kebaikan sebagai bekal generasi masa depan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments