Prof. Mundakir menyampaikan sambutan dalam Konsolidasi Organisasi PDM se-Ballappan, Ahad (25/10/2026). Foto: Fizal Kresno/PWMU.CO
pwmu.co -
Kecepatan arus informasi dan ketidakpastian perubahan zaman menuntut Muhammadiyah memperkuat kualitas manajemen dan kepemimpinan. Penguasaan teknologi digital perlu diimbangi kecerdasan mengambil keputusan, integritas, tanggung jawab, dan kemampuan menyampaikan dakwah secara efektif.
Hal tersebut menjadi salah satu pokok bahasan Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kes. FISQua , dalam kegiatan Konsolidasi Organisasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Balappan, Ahad (25/10/2026).
Kegiatan bertema “Future Management and Leadership of Muhammadiyah in the Digital Era” tersebut berlangsung di halaman Masjid Al Qasem, kompleks Institut Ahmad Dahlan Probolinggo.
“Di era digital, Muhammadiyah perlu mengembangkan manajemen dan kepemimpinan yang mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman. Penguasaan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai Islam dan integritas pemimpin,” ujarnya.
Menurut Mundakir, perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, belajar, berkomunikasi, dan memahami berbagai persoalan. Perubahan tersebut juga memengaruhi pola dakwah dan tata kelola organisasi Muhammadiyah.
“Informasi yang bergerak cepat melalui media sosial membuka peluang bagi dakwah untuk menjangkau masyarakat lebih luas. Namun, kecepatan arus informasi juga menghadirkan tantangan berupa ketidakpastian, kompleksitas persoalan, dan kesulitan membedakan informasi yang benar dari yang menyesatkan,” papar Ketua Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) PWM Jatim itu
Dalam konteks kepemimpinan, terdapat dua konsep yang dapat digunakan untuk membaca tantangan tersebut, yakni VUCA dan BANI.
VUCA merupakan singkatan dari Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity. Konsep ini menggambarkan perubahan yang cepat, ketidakpastian, kerumitan, dan ketidakjelasan.
Sementara itu, BANI terdiri atas Brittle, Anxious, Nonlinear, dan Incomprehensible, yang menggambarkan kondisi dunia yang rapuh, mencemaskan, tidak linier, dan sulit dipahami.
Kedua konsep tersebut mengingatkan bahwa organisasi perlu memiliki kemampuan beradaptasi, membaca risiko, dan mengambil keputusan secara tepat di tengah perubahan.
“Pemimpin Muhammadiyah harus mampu memahami perubahan yang terjadi. Organisasi tidak cukup hanya menjalankan pola lama, tetapi perlu terus berinovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar persyarikatan,” tuturnya.
Prof. Mundakir bersama pengurus PDM se-Balappan. Foto: Fizal Kresno/PWMU.CO
FAST sebagai Fondasi Kepemimpinan
Di tengah tantangan tersebut, Mundakir menilai kepemimpinan Muhammadiyah perlu berpijak pada nilai-nilai Islam. Salah satu prinsip yang relevan adalah FAST, yakni Fathonah, Amanah, Shiddiq, dan Tabligh.
“Fathonah berarti cerdas dan bijaksana dalam memahami persoalan serta mengambil keputusan,” tegasnya.
Amanah menekankan tanggung jawab dan kepercayaan dalam menjalankan tugas. Shiddiq berarti jujur dalam perkataan dan tindakan, sedangkan Tabligh berkaitan dengan kemampuan menyampaikan informasi, gagasan, dan nilai-nilai Islam secara tepat.
Keempat nilai tersebut menjadi landasan penting bagi pemimpin dalam mengelola organisasi, menjaga kepercayaan warga persyarikatan, dan mengembangkan dakwah di ruang digital.
“Pemimpin harus memiliki kecerdasan dalam mengambil keputusan, menjaga amanah, bersikap jujur, dan mampu menyampaikan pesan dengan baik. Nilai-nilai ini penting agar perkembangan teknologi benar-benar mendukung kemajuan organisasi dan dakwah,” jelasnya.
Dalam praktiknya, Fathonah diperlukan untuk membaca peluang dan menentukan strategi. Amanah menjaga orientasi kepemimpinan agar tetap berpusat pada tanggung jawab.
Shiddiq memperkuat integritas, sedangkan Tabligh membantu memastikan pesan dakwah tersampaikan secara efektif kepada masyarakat.
Foto: Fizal Kresno/PWMU.CO
Konsolidasi untuk Memperkuat Organisasi
Mundakir menambahkan, perpaduan FAST, VUCA, dan BANI memberikan kerangka untuk mengembangkan manajemen Muhammadiyah yang adaptif sekaligus berlandaskan nilai-nilai Islam.
FAST menjadi fondasi nilai kepemimpinan, VUCA membantu memahami tantangan perubahan, sedangkan BANI mengingatkan pentingnya membangun ketahanan organisasi dalam menghadapi situasi yang sulit diprediksi.
“Pendekatan tersebut relevan bagi pengembangan dakwah digital, peningkatan kualitas kaderisasi, dan pembaruan tata kelola organisasi. Pemanfaatan teknologi juga dapat mendukung pelayanan Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan dakwah,” jelas dia.
Kegiatan konsolidasi organisasi PDM se-BALAPPAN menjadi ruang untuk memperkuat koordinasi dan menyamakan visi gerakan di wilayah Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Jember, Lumajang, Kabupaten Probolinggo, Kota Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, dan Kota Pasuruan.
Konsolidasi organisasi tidak hanya menyangkut koordinasi program dan struktur kepengurusan, tetapi juga kesiapan pemimpin dan kader dalam menghadapi perubahan zaman.
“Manajemen dan kepemimpinan Muhammadiyah di era digital harus mampu memadukan nilai-nilai Islam, profesionalisme, dan inovasi. Dengan begitu, teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkuat dakwah dan meningkatkan kemanfaatan organisasi bagi masyarakat,” pungkasnya. (*)
0 Tanggapan
Empty Comments