Masjid Baiturrahmah, Kedungkandang, Malang, kemarin menghadirkan suasana yang tak biasa. Jika biasanya dipenuhi lantunan zikir dan kajian keislaman, kali ini masjid berubah menjadi ruang literasi ekonomi digital. Ratusan jamaah dan pelaku UMKM berkumpul bukan hanya untuk memperkuat spiritualitas, tetapi juga membedah strategi agar jualan kian laris lewat gawai di genggaman tangan.
Bekerja sama dengan Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Kedungkandang, kegiatan bertajuk “Baca Angka, Bukan Cuma Doa: Cara Meta Ads Bikin Jualan Mengalir” ini menghadirkan praktisi dan pakar strategi digital, Yuda Adhadiyan. Pesan utamanya tegas: di era digital, doa dan niat baik harus disertai kemampuan membaca data agar usaha tidak sekadar bertahan, tetapi tumbuh dan melesat.
Masjid sebagai Sentral Ikhtiar Ekonomi Umat
Ketua PCPM Kedungkandang dalam sambutannya menegaskan bahwa masjid harus menjadi pusat peradaban umat, termasuk dalam penguatan ekonomi. Menurutnya, kualitas produk warga sebenarnya tidak kalah, namun sering terhambat pada pemasaran.
“Produk kita bagus, tapi harus dikenal luas. Meta Ads—baik Facebook maupun Instagram—adalah wasilah ikhtiar agar peningkatan omzet bisa dilakukan secara terukur,” ujarnya di hadapan peserta yang tampak antusias.
Dalam pemaparan yang komunikatif dan aplikatif, Yuda Adhadiyan membongkar kesalahan umum para pelaku usaha daring. Banyak penjual mengira cukup memasang iklan, maka pembeli akan datang dengan sendirinya. Padahal, kunci utamanya terletak pada pemahaman audiens dan cara berkomunikasi.
“Jangan hanya menjual spesifikasi produk. Pahami ketakutan, kebutuhan, dan keinginan calon pembeli,” tegasnya.
Ia mencontohkan pengalamannya menjual pupuk organik. Awalnya produk tersebut sulit terjual, bahkan saat dibagikan gratis. Namun setelah strategi diubah—dikemas dengan pendekatan Beli 1 Gratis 1 disertai edukasi yang tepat—produk justru ludes terjual hingga ribuan botol.
Yuda juga menguraikan struktur utama dalam Meta Ads, yakni Campaign (niat), Adset (target), dan Ads (konten). Ia menekankan peran kecerdasan buatan (AI) yang kini semakin canggih.
“AI bisa mencarikan pembeli untuk kita, tetapi kita harus memberinya umpan berupa konten yang benar-benar berbicara kepada audiens,” jelasnya.
Tak Berhenti di Seminar, Ada Pendampingan 1 Tahun
Menariknya, kegiatan ini tidak berhenti pada level seminar. PCPM Kedungkandang mengumumkan rencana pembukaan program pendampingan UMKM selama satu tahun penuh. Peserta akan dibimbing secara berkelompok untuk langsung mempraktikkan Meta Ads pada produk masing-masing.
“Kami ingin ada hasil nyata. Bukan hanya paham teori, tapi ada laporan omzet meningkat dan UMKM yang benar-benar naik kelas,” ungkap panitia.
Acara yang berlangsung hingga malam hari ini ditutup dengan sesi konsultasi langsung. Para peserta tampak aktif menunjukkan akun bisnis mereka untuk dibedah bersama. Antusiasme tersebut menjadi bukti bahwa kebangkitan ekonomi umat dapat dimulai dari masjid, dengan sentuhan teknologi dan literasi digital.
Masjid Baiturrahmah Malang bersama Pemuda Muhammadiyah Kedungkandang berkomitmen menghadirkan program pemberdayaan masyarakat yang berimbang antara penguatan spiritual dan kemandirian ekonomi, guna melahirkan umat yang berdaya saing di era digital. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments