Ada banyak cara bagi saya untuk mengungkap peran dan perjuangan tokoh Muhammadiyah Surabaya beserta jejak peninggalannya. Selain melalui keluarga dan para sahabat seperjuangan, saya juga dapat menelusurinya melalui berbagai koleksi bersejarah yang masih tersimpan hingga kini.
Dari situlah saya berusaha memahami lebih dalam bagaimana kiprah dakwah yang telah dilakukan para tokoh tersebut.
Bagi saya, menggali data sejarah bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan secara sambil lalu. Ia membutuhkan perencanaan yang matang dan program yang terarah agar target yang diharapkan dapat tercapai.
Karena itu, saya meyakini bahwa upaya percepatan dan dukungan yang memadai sangat diperlukan agar penggalian sejarah, khususnya tokoh-tokoh lokal Muhammadiyah Surabaya, dapat dilakukan secara lebih komprehensif.
Di tengah ikhtiar tersebut, pada Senin (13/4/2026), saya menerima kabar duka atas wafatnya Adam Mansyur bin Ibrahim Mansyur bin KH Mas Mansyur dalam usia 74 tahun.
Kabar ini tentu menjadi duka yang mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi saya dan warga Persyarikatan Muhammadiyah Surabaya yang tengah berupaya menggali jejak sejarah perjuangan tokoh-tokoh lokal.
Mendengar kabar tersebut, saya segera meluangkan waktu untuk takziah ke rumah duka di Sidoarjo pada Selasa (14/4/2026). Kedatangan saya disambut dengan penuh kehangatan oleh putri almarhum dan menantunya, Neni dan Hilmi.
Dalam suasana duka yang tetap hangat, saya merasakan bahwa takziah ini tidak hanya sebagai bentuk empati, tetapi juga menjadi momen untuk memperkuat ukhuwah sekaligus membuka peluang menemukan jejak peninggalan yang bernilai sejarah.
Dalam perbincangan yang berlangsung santai dan penuh keakraban, saya memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan rasa duka yang mendalam. Saya juga sempat mengisahkan secara singkat perjuangan KH Mas Mansyur sebagai tokoh perintis sekaligus Ketua Muhammadiyah Cabang Surabaya pertama yang dilantik langsung oleh KH Ahmad Dahlan pada 1 November 1921.
Saya menyampaikan bagaimana dakwah Muhammadiyah terus berkembang, dan KH Mas Mansyur turut berjuang dalam kemerdekaan bangsa hingga dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Saya juga menuturkan bahwa KH Mas Mansyur merupakan putra dari KH Mas Ahmad Marzuki dan Nyai Raudhah, yang memiliki lima saudara. Tiga di antaranya telah wafat lebih dahulu, sementara dua lainnya adalah Muhammad Nur Mansyur dan Ibrahim Mansyur, yang merupakan ayah dari almarhum Adam Mansyur.
Suasana silaturahmi semakin cair meski kami baru pertama kali bertemu. Sebelum saya berpamitan, Hilmi bergegas masuk ke dalam rumah dan kembali dengan membawa sejumlah arsip bersejarah yang tersimpan rapi.
Saya merasa sangat terharu sekaligus antusias melihat bagaimana almarhum Adam Mansyur semasa hidupnya begitu peduli dalam menjaga dan merawat peninggalan berharga dari kakeknya, KH Mas Mansyur.
Saat melihat arsip-arsip tersebut, saya berusaha mencermati meski hanya sekilas. Dalam kesempatan itu, saya juga menyampaikan harapan agar suatu saat dapat kembali bersilaturahmi untuk mempelajari arsip-arsip tersebut secara lebih mendalam.
Saya juga menitipkan pesan agar peninggalan tersebut terus dijaga dan dirawat dengan baik. Bahkan, saya berharap jika kelak Museum Muhammadiyah Surabaya telah berdiri, koleksi tersebut dapat menjadi bagian penting sebagai rujukan studi dan referensi tentang dinamika kebangsaan serta gerakan Muhammadiyah.
Akhirnya, saya hanya bisa mengiringi kepergian almarhum Adam Mansyur dengan doa. Semoga beliau mendapatkan ampunan dari Allah SWT dan seluruh amal salehnya diterima di sisi-Nya. Aamiin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments