Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kyai Ali Hamdi Muda’im, Ulama Penyabar yang Menulis hingga Akhir Hayat

Iklan Landscape Smamda
Kyai Ali Hamdi Muda’im, Ulama Penyabar yang Menulis hingga Akhir Hayat
Kiai Ali Hamdi Muda'im bersama sang istri, Zuhriyah. Foto: Istimewa/PWMU.CO
pwmu.co -

Rabu 7 Oktober 2009, kabar duka itu datang begitu cepat. Pengasuh Pondok Pesantren Taman Pengetahuan (YTP) Kertosono tersebut wafat di RSUD Kabupaten Jombang pada pukul 08.00 WIB dalam usia 57 tahun.

Bahkan pada malam sebelumnya, ia masih sempat berbincang dengan Sekretaris PWM Jawa Timur yang membesuknya di rumah sakit. Tak terlihat tanda-tanda bahwa ajal begitu dekat. Lima menit sebelum mengembuskan napas terakhir, Kyai Ali hanya meminta bantuan oksigen kepada perawat.

Di saat-saat terakhir itulah, sang istri, Zuhriyah, menuntunnya mengucapkan kalimat tauhid.

“Saya tiba-tiba ingin membimbing Bapak membaca lailahaillallah. Beberapa menit kemudian napas beliau berhenti,” tutur Zuhriyah dengan mata berkaca-kaca.

Sore harinya, suasana duka menyelimuti Pondok Pesantren Raudlatul Ilmiyah YTP Kertosono. Masjid pesantren dipenuhi jamaah yang datang untuk menyalatkan almarhum. Shalat Ashar berlangsung dalam suasana haru. Tangis tertahan terdengar di berbagai sudut masjid.

Kyai Ali meninggalkan seorang istri dan tiga anak: Saifullah Al Ali, Mar’atul Aslamah, dan Fajriyah Mubarokah.

Dalam beberapa tahun terakhir, kesehatan jantungnya memang mulai menurun. Namun kondisi itu tak mengurangi aktivitasnya. Ia tetap mengajar, memenuhi undangan pengajian di berbagai daerah, mengurus PDM Nganjuk, hingga menulis di rumah ditemani istrinya.

Kabar wafatnya segera menyebar luas. Selepas Dzuhur, ratusan alumni Pesantren Kertosono berdatangan dari berbagai daerah di Jawa Timur. Pesantren yang pernah melahirkan tokoh Muhammadiyah seperti Moeslim Abdurrahman dan Abdul Fatah Wibisono itu mendadak dipenuhi pelayat.

Saat jenazah diberangkatkan menuju pemakaman keluarga pesantren di Desa Banaran, lebih dari 400 santri bersama ratusan alumni mengiringinya dengan linangan air mata. Sepanjang jalan dari Banaran hingga Kertosono Pasar dipadati warga, siswa Muhammadiyah, serta masyarakat yang datang untuk bertakziah.

Menjelang pukul 16.00 WIB, jenazah disalatkan di masjid pesantren yang penuh sesak. Prosesi pemakaman kemudian dipimpin Wakil Ketua PWM Jawa Timur, KH Muammal Hamidy.

SMPM 5 Pucang SBY

Bagi Zuhriyah, hari itu menjadi momen yang begitu berat. Ia mengenang perjalanan panjang bersama sang suami yang telah berlangsung selama tiga dekade.

“Saya menikah dengan Bapak tahun 1979, dan beliau wafat tahun 2009,” ujarnya lirih.

Kyai Ali lahir di Sedayu Lawas, Lamongan, pada 17 Juli 1952. Sejak kecil, hidup telah menempa dirinya dengan berbagai ujian. Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, ia telah kehilangan kedua orang tuanya. Pengalaman hidup itulah yang membentuk pribadinya menjadi sosok sabar, teguh, dan penuh tanggung jawab.

Di lingkungan Muhammadiyah Nganjuk, Kyai Ali dikenal sebagai pemimpin yang meneduhkan. Selama dua periode memimpin PDM Nganjuk pada 2000–2009, ia mampu menjaga suasana organisasi tetap sejuk di tengah berbagai dinamika.

“Almarhum adalah pribadi yang tegas, berwibawa, dan penyabar sejak muda,” ujar Muhammad Sodiq, Wakil Ketua PDM Nganjuk periode tersebut.

Selain aktif berdakwah dan memimpin pesantren, Kyai Ali juga dikenal sebagai ulama yang gemar menulis. Tulisan-tulisannya kerap menghiasi media Islam maupun media umum. Sebagian pemikirannya bahkan telah diterbitkan menjadi buku.

Di penghujung hidupnya, ia tetap menulis, berdiskusi, dan memikirkan umat. Hingga akhirnya, pena itu berhenti bersamaan dengan kepergiannya menghadap Sang Khalik. (*)

*Digubah dari Majalah Matan Oktober 2009

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 08/05/2026 12:28
Iklan Landscape Unmuh Jember
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡