Pernahkah Anda merasa panik saat Hand Phone (HP) tertinggal? Seolah ada yang hilang dari hidup Anda, bukan? Pikiran mungkin jadi tidak fokus. Aktivitas terasa terganggu semua. Bahkan ada yang rela pulang hanya untuk mengambilnya. Ini bukan sekadar kebiasaan. Ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup.
Di era digital, HP bukan lagi alat komunikasi biasa. Ia sudah menjadi pusat kehidupan. Tempat bekerja, belajar, bersosialisasi, hingga mencari hiburan. Hampir semua aktivitas terhubung ke layar kecil itu.
Maka tidak heran jika banyak orang merasa “tidak lengkap” tanpa HP. Apalagi, HP sudah dianggap sebagai sumber informasi apapun. Mengapa? Karena sumber informasi ada di sana.
Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya ketergantungan kita pada teknologi. Bahkan dalam banyak kasus, orang lebih memilih kehilangan dompet dibandingkan kehilangan HP. Karena di dalam HP, ada segalanya. Kontak, akun, memori, bahkan identitas diri.
Coba bayangkan situasi sederhana. Anda sedang nongkrong bersama teman, tapi tiba-tiba baterai HP habis. Seketika Anda merasa “mati gaya”. Tidak tahu harus melakukan apa. Padahal dulu, sebelum era smartphone, ngobrol panjang tanpa gangguan justru terasa biasa saja.
Takut Ketinggalan Jadi Gaya Hidup
Di balik ketergantungan itu, ada fenomena yang semakin umum terjadi. Namanya FOMO, atau Fear of Missing Out. Ini adalah rasa takut ketinggalan informasi, tren, atau pengalaman yang sedang terjadi di sekitar kita.
FOMO membuat seseorang merasa harus selalu terhubung. Harus selalu update. Harus tahu apa yang sedang viral. Dari berita terbaru, tren TikTok, sampai tempat nongkrong yang sedang popular.
Ketika Coldplay mengadakan konser di Indonesia (2023), banyak orang rela antre berjam-jam di depan layar. Bahkan ada yang membeli tiket dengan harga berkali lipat dari harga normal. Bukan hanya karena ingin menonton, tetapi karena tidak ingin merasa tertinggal dari teman-temannya.
Contoh lain adalah tren kuliner viral. Misalnya, ketika ada warung, makanan atau minuman yang sedang ramai dibicarakan di Media Sosial (Medsos). Banyak orang langsung ingin datang ke tempat tersebut, antre panjang, hanya untuk mencoba dan mengunggahnya ke media sosial. Kadang rasanya biasa saja, tapi pengalaman “ikut tren” itulah yang dicari.
FOMO juga terlihat dalam kebiasaan sehari-hari. Misalnya, bangun tidur langsung membuka Instagram atau TikTok. Atau saat belajar, tiba-tiba pikiran terpecah karena notifikasi masuk. Kita merasa harus segera mengecek, takut ada sesuatu yang terlewat.
Bahkan dalam lingkup pertemanan, FOMO bisa membuat seseorang merasa tidak nyaman. Ketika melihat teman-temannya liburan bersama tanpa dirinya, muncul rasa tertinggal. Padahal belum tentu ia benar-benar ingin pergi ke tempat tersebut.
Ironisnya, FOMO sering membuat kita lelah. Kita terus mengejar hal-hal yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Kita membandingkan hidup kita dengan orang lain. Tanpa sadar, kita kehilangan fokus pada diri sendiri.
Menikmati Hidup Tanpa Harus Selalu Tahu
Sebagai reaksi atas FOMO, muncul konsep yang lebih menenangkan. Namanya JOMO atau Joy of Missing Out. Ini adalah kebalikan dari FOMO. Jika FOMO dipenuhi kecemasan, JOMO justru menghadirkan ketenangan.
Orang dengan JOMO tidak merasa harus tahu segalanya. Mereka tidak terganggu jika tidak membuka media sosial sepanjang hari. Mereka juga tidak merasa perlu ikut semua tren. Bukan karena tidak peduli. Tapi karena mereka sadar bahwa tidak semua hal layak diikuti.
Saat ini, kita bisa melihat banyak contoh JOMO dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, tren digital detox (praktik sadar membatasi atau menghentikan penggunaan perangkat digital dalam waktu tertentu). Banyak orang mulai membatasi penggunaan HP. Mereka menetapkan waktu tertentu tanpa layar, seperti satu jam sebelum tidur atau saat bangun pagi.
Ada juga yang sengaja tidak membuka media sosial saat akhir pekan. Mereka menggantinya dengan aktivitas lain seperti olahraga, membaca buku, atau menghabiskan waktu bersama keluarga. Contoh lain adalah tren slow living. Gaya hidup yang lebih santai dan sadar.
Misalnya, seseorang memilih menikmati kopi di pagi hari di pasar atau di warung pojokan jalan tanpa memotret atau mengunggahnya. Ia benar-benar hadir dalam momen tersebut, tanpa distraksi.
Dalam lingkup pekerjaan, JOMO juga mulai terlihat. Ada orang yang tidak lagi merasa harus membalas pesan instan secepat mungkin di luar jam kerja. Mereka menetapkan batasan agar tidak terus-menerus “online”.
Butuh Keseimbangan
Menjadi JOMO di tengah dunia yang serba cepat memang tidak mudah. Kita hidup dalam sistem yang mendorong kita untuk terus terhubung. Algoritma media sosial dirancang untuk membuat kita betah berlama-lama. Belum lagi tekanan sosial. Kadang kita takut dianggap tidak gaul. Takut dibilang kudet (kurang update). Takut tidak nyambung saat ngobrol.
Namun, di sinilah pentingnya kesadaran. Kita perlu menyadari bahwa tidak semua hal harus kita ikuti. Tidak semua informasi harus kita konsumsi. Kita punya kendali atas apa yang kita lihat dan bagaimana kita meresponsnya.
Misalnya mulai dari hal kecil saja. Mematikan notifikasi grup yang tidak penting. Atau membatasi waktu penggunaan aplikasi tertentu. Bahkan, Anda bisa mencoba “puasa media sosial” selama satu hari dalam seminggu. Contoh sederhana lainnya, saat berkumpul dengan teman, coba simpan HP sejenak. Fokus pada percakapan. Rasakan perbedaannya. Biasanya, interaksi akan terasa lebih hangat dan bermakna.
Kita juga bisa mulai membangun kebiasaan yang lebih sehat. Seperti menulis jurnal, membaca buku fisik, atau berjalan santai tanpa membawa HP. Aktivitas ini membantu kita kembali terhubung dengan diri sendiri. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak kita tahu. Tapi tentang bagaimana kita menjalani.
Keseimbangan adalah kunci. Kita tidak harus meninggalkan teknologi. Tapi kita juga tidak harus dikuasai olehnya, bukan?.
FOMO dan JOMO adalah dua cara berbeda dalam merespons dunia digital. FOMO membuat kita terus mengejar dan merasa kurang. Sementara JOMO mengajarkan kita untuk memilih dan merasa cukup.
Dengan contoh-contoh nyata di sekitar kita, jelas bahwa kita punya pilihan dalam menjalani kehidupan digital. Menjadi JOMO bukan berarti tertinggal. Tetapi justru menunjukkan kendali atas diri sendiri. Di tengah dunia yang semakin “bising” kemampuan untuk tenang dan selektif adalah kekuatan yang sangat berharga.





0 Tanggapan
Empty Comments