Kabar duka datang dari dunia pendidikan. Muhammad Sabar, sosok guru penuh kesabaran yang dikenal luas di lingkungan MI Muhammadiyah 3 Bulubrangsi, Kabupaten Lamongan, telah berpulang pada Senin (27/04/2026). Informasi wafatnya Pak Sabar dengan cepat menyebar melalui grup WhatsApp keluarga dan kerabat, meninggalkan duka mendalam bagi para murid, kolega, dan masyarakat sekitar.
Pak Sabar—demikian ia akrab disapa—bukan sekadar nama, tetapi cerminan karakter yang melekat sepanjang hidupnya. Ia dikenal sebagai guru Matematika dan Bahasa Jawa yang santun, penuh dedikasi, dan memiliki kesabaran luar biasa dalam mendidik siswa-siswinya.
Selama beberapa tahun terakhir, Pak Sabar diketahui menderita sakit yang cukup serius. Putranya, Arif Mahmud, yang tinggal di Malang, dengan penuh bakti rutin pulang ke Desa Bulubrangsi, Kecamatan Laren, untuk mengantar sang ayah berobat ke Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan. Sementara itu, anak keduanya, Miftahul Abror, turut bergantian merawat ayahanda tercinta di tengah kondisi yang semakin menurun.
Kesehatan yang terus memburuk membuat Pak Sabar harus berhenti dari aktivitas mengajar dan bertani—dua hal yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya. Meski demikian, semangat dan nilai-nilai yang ia tanamkan tetap hidup dalam ingatan banyak orang.
Di mata para murid, Pak Sabar adalah guru yang tak pernah marah. Ia memilih pendekatan yang lembut dan penuh kesabaran. Saat suasana kelas ramai, ia tidak membentak, melainkan mendekati siswa satu per satu agar kembali fokus pada pelajaran. Metode sederhana namun penuh makna ini menjadikannya sosok pendidik yang dirindukan.
Sebagai tetangga, ia juga dikenal sangat menjunjung tinggi kesopanan. Dalam kesehariannya, Pak Sabar selalu menggunakan bahasa Jawa krama halus—bahkan dalam lingkungan keluarga. Sikap hormatnya terlihat dari kebiasaan turun dari sepeda ketika memasuki area pemukiman, serta menyapa setiap orang yang ditemui dengan menundukkan kepala, meskipun sedang berkendara.
Nilai-nilai kesantunan dan kerendahan hati yang ditunjukkan Pak Sabar menjadi teladan langka di tengah perubahan sosial masyarakat desa yang kian memudar dalam hal etika berinteraksi. Sosoknya menjadi pengingat bahwa menjadi manusia tidak cukup hanya pintar, tetapi juga harus berakhlak mulia.
Kepergian Muhammad Sabar bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi dunia pendidikan dan masyarakat Bulubrangsi. Warisan nilai kesabaran, ketulusan, dan adab yang ia tinggalkan akan terus hidup dalam hati orang-orang yang mengenalnya.
Selamat jalan, Pak Sabar. Semoga amal ibadah diterima di sisi Allah SWT, dan nilai-nilai luhur yang engkau contohkan dapat kami lanjutkan.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.





0 Tanggapan
Empty Comments