Di era digital saat ini, interaksi antarmanusia berlangsung semakin cepat. Media sosial menjadi sarana komunikasi yang memudahkan pekerjaan, memperluas jaringan, dan mempercepat pertukaran informasi. Namun, kemudahan tersebut tidak selalu menghadirkan interaksi yang bermakna.
Tanpa disadari, masyarakat sering terjebak dalam budaya yang menilai seseorang berdasarkan jabatan, popularitas, kekayaan, atau manfaat yang bisa diberikan. Perhatian lebih banyak tertuju kepada mereka yang dianggap penting, sementara orang-orang yang tidak memiliki pengaruh kerap terabaikan.
Fenomena ini bukanlah hal baru dalam kehidupan sosial. Islam telah memberikan pelajaran yang sangat berharga mengenai persoalan tersebut melalui Surah Abasa ayat 1–2.
Allah SWT berfirman:
عَبَسَ وَتَوَلّٰۤى (١) اَنْ جَآءَهُ الْاَ عْمٰى (٢)
“Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling (1), karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum) (2).” (QS. Abasa: 1–2)
Ayat ini mengabadikan peristiwa ketika Nabi Muhammad SAW sedang berdakwah kepada para tokoh terkemuka kaum Quraisy. Pada saat yang sama, datang seorang sahabat tunanetra bernama Abdullah bin Ummi Maktum yang ingin memperoleh bimbingan dari Rasulullah SAW.
Karena sedang fokus berdialog dengan para pemuka Quraisy, Nabi Muhammad SAW menunjukkan ekspresi yang kurang berkenan dengan bermuka masam (abasa) dan mengalihkan perhatian (tawalla). Meskipun tindakan tersebut sama sekali tidak dilandasi kesombongan atau penghinaan, Allah SWT tetap memberikan teguran sebagai pelajaran yang berlaku sepanjang zaman.
Menariknya, Allah SWT mengabadikan peristiwa ini bukan untuk menunjukkan kelemahan Nabi Muhammad SAW. Sebaliknya, peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa Islam sangat menjunjung tinggi etika dan penghormatan kepada sesama manusia.
Surah Abasa mengajarkan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh jabatan, kekayaan, ketenaran, atau pengaruh sosialnya. Yang menjadi ukuran utama dalam pandangan Islam adalah ketakwaan dan kesungguhan seseorang dalam mencari kebenaran.
Pesan ini sangat relevan dengan kehidupan modern yang sering kali memberikan perlakuan berbeda berdasarkan status sosial.
Kisah dalam Surah Abasa mengajak setiap Muslim untuk melakukan muhasabah.
Pernahkah kita lebih antusias menyambut seseorang karena jabatannya dibandingkan orang biasa? Pernahkah kita lebih cepat merespons pesan dari orang yang dianggap penting, tetapi mengabaikan mereka yang benar-benar membutuhkan perhatian?
Tanpa disadari, kita sering mengulangi pola yang sama. Kita memberikan prioritas berdasarkan status sosial, bukan berdasarkan nilai kemanusiaan.
Padahal, bisa jadi orang yang tampak sederhana justru memiliki kedudukan mulia di sisi Allah SWT.
Dari sudut pandang psikologi, Surah Abasa juga mengajarkan pentingnya komunikasi nonverbal.
Ekspresi wajah, tatapan mata, bahasa tubuh, hingga kualitas perhatian yang diberikan kepada orang lain sering kali berbicara lebih kuat daripada kata-kata.
Wajah yang masam, sikap tidak fokus, atau perhatian yang teralihkan dapat membuat seseorang merasa tidak dihargai, meskipun kita tidak memiliki niat untuk menyakitinya.
Dalam kisah ini, Abdullah bin Ummi Maktum adalah seorang tunanetra. Namun, keterbatasan penglihatan tidak berarti keterbatasan dalam merasakan.
Psikologi manusia menunjukkan bahwa setiap orang memiliki sensitivitas emosional. Seseorang mungkin tidak melihat ekspresi wajah kita, tetapi ia mampu merasakan ketulusan, perhatian, atau bahkan pengabaian melalui sikap dan cara kita berinteraksi.
Surah Abasa menjadi pengingat penting bahwa menghargai orang yang memiliki kedudukan tinggi adalah sesuatu yang mudah. Namun, menghargai mereka yang tidak memiliki apa-apa merupakan ujian ketulusan yang sesungguhnya.
Islam tidak hanya mengatur apa yang diucapkan manusia, tetapi juga mengajarkan bagaimana menghadirkan diri secara utuh dalam setiap interaksi sosial.
Rahasia kebaikan tidak terletak pada jabatan, kekayaan, atau luasnya pengaruh seseorang. Kebaikan sejati terletak pada adab dan etika dalam memanusiakan manusia.
Setiap individu berhak didengar, dihormati, dan dihargai tanpa memandang latar belakang sosialnya.
Pada akhirnya, perubahan besar dalam kehidupan tidak selalu dimulai dari tindakan yang spektakuler. Terkadang, perubahan itu berawal dari kesediaan untuk memberikan perhatian yang tulus kepada sesama manusia yang hadir di hadapan kita.





0 Tanggapan
Empty Comments