Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kalau Ada AI, Apa Masih Perlu Dosen Pembimbing Skripsi?

Iklan Landscape Smamda
Kalau Ada AI, Apa Masih Perlu Dosen Pembimbing Skripsi?
Oleh : Nurudin Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

“Coba jelaskan kenapa penelitian Anda menggunakan teori agenda setting untuk menganalisis isi berita?” tanya dosen penguji sambil membolak-balik lembar skripsi.

Mahasiswa itu terdiam beberapa detik. Ia berusaha mencari jawaban, tetapi tidak menemukannya. Pertanyaan yang dilontarkan dosen penguji ternyata langsung menyentuh inti persoalan penelitiannya.

Ruangan sidang mendadak hening. Para penguji saling berpandangan. Salah satu dosen kemudian bertanya dengan nada pelan.

“Agenda setting itu mengukur pengaruh media kepada audiens. Sedangkan penelitian Anda hanya menganalisis dokumen berita. Audiensnya di mana?”

Mahasiswa itu semakin gugup. Ia sebenarnya tidak benar-benar memahami alasan penggunaan teori tersebut. Baginya, skripsi itu sudah tampak rapi. Bab demi bab tersusun sesuai pedoman kampus. Kutipan dan daftar pustaka lengkap, bahkan menggunakan referensi maksimal 10 tahun terakhir. Bahasa akademiknya pun terlihat meyakinkan sebagaimana penilaian teman-temannya.

Namun, ada satu masalah mendasar: logika penelitian yang tidak nyambung.

Fenomena seperti ini semakin sering ditemukan di kampus. Kehadiran Artificial Intelligence (AI) memang membuat proses penyusunan skripsi terasa jauh lebih mudah. Mahasiswa kini dapat meminta AI membuat judul penelitian, menyusun latar belakang, mencari teori, bahkan merancang kerangka analisis hanya dalam hitungan detik.

Di balik kemudahan tersebut, muncul persoalan baru. Banyak mahasiswa mampu menyelesaikan skripsi lebih cepat, tetapi tidak benar-benar memahami isi yang mereka tulis. AI akhirnya digunakan bukan sebagai alat bantu berpikir, melainkan sebagai pengganti proses berpikir itu sendiri.

Tidak dapat dimungkiri, AI merupakan teknologi penting pada era saat ini. Banyak mahasiswa terbantu karena AI mampu mempercepat proses akademik yang biasanya membutuhkan waktu panjang.

AI dapat membantu menemukan ide penelitian ketika mahasiswa kesulitan menentukan topik. Teknologi ini juga mampu merapikan bahasa agar tulisan lebih mudah dipahami dan terasa lebih akademis.

Selain itu, AI cukup efektif membantu mencari referensi, menyusun draf awal, hingga membuat kerangka berpikir penelitian. Dalam beberapa kondisi, AI bahkan dapat berfungsi sebagai “teman diskusi” untuk membantu memetakan persoalan penelitian dari berbagai sudut pandang.

Namun, perlu dipahami bahwa AI bekerja berdasarkan pola data, bukan berdasarkan pemahaman mendalam terhadap konteks penelitian.

Karena itu, AI sering menghasilkan jawaban yang tampak benar di permukaan, tetapi bisa keliru secara metodologis ketika ditelaah lebih lanjut.

Misalnya, ada mahasiswa yang ingin meneliti semiotika media massa. AI dapat saja menyarankan penggunaan metode penelitian kualitatif umum tanpa menjelaskan bahwa semiotika memiliki tahapan analisis tersendiri. Akibatnya, hubungan antara teori, metode, dan analisis menjadi tidak sinkron.

Kasus serupa juga sering ditemukan dalam penelitian komunikasi. Ada mahasiswa yang melakukan penelitian analisis isi media, tetapi menggunakan teori agenda setting hanya karena AI menganggap teori tersebut populer dalam kajian media.

Padahal, teori agenda setting memerlukan audiens sebagai objek untuk mengukur pengaruh media. Sementara analisis isi hanya berfokus pada dokumen atau konten media yang diteliti.

Kesalahan seperti ini bukan sepenuhnya kesalahan AI. AI hanya memberikan jawaban berdasarkan pola dan instruksi yang diterimanya. Persoalan utama justru terletak pada pengguna yang memanfaatkan AI tanpa memahami dasar-dasar keilmuan yang digunakan.

Beberapa universitas di luar negeri bahkan mulai menghadapi persoalan serius terkait penggunaan AI dalam tugas akademik. Survei Higher Education Policy Institute (2024) di Inggris menunjukkan lebih dari separuh mahasiswa pernah menggunakan AI generatif untuk membantu tugas kuliah mereka.

Sementara itu, sejumlah kampus di Amerika Serikat mulai memperketat aturan penggunaan AI sejak kemunculan ChatGPT pada 2023. Banyak ditemukan tulisan mahasiswa yang secara struktur terlihat baik, tetapi lemah dalam argumentasi dan analisis kritis.

AI memang hebat dalam mempercepat pekerjaan. Namun, AI belum tentu mampu menggantikan proses berpikir ilmiah yang mendalam.

SMPM 5 Pucang SBY

Di sinilah peran dosen pembimbing menjadi sangat penting.

Banyak mahasiswa menganggap dosen pembimbing hanya bertugas memeriksa kesalahan penulisan, memperbaiki format, atau memberikan revisi pada bagian tertentu. Padahal, fungsi utama dosen pembimbing jauh lebih besar daripada sekadar mengoreksi dokumen.

Dosen pembimbing bertugas membimbing cara berpikir mahasiswa.

Skripsi bukan hanya kumpulan ratusan halaman tulisan. Skripsi merupakan latihan berpikir logis, sistematis, kritis, dan jujur secara akademik.

Dosen pembimbing membantu mahasiswa memastikan apakah rumusan masalah sudah relevan dengan tujuan penelitian. Mereka membantu mempertajam analisis agar penelitian tidak hanya bersifat deskriptif. Mereka juga memastikan teori yang digunakan benar-benar sesuai dengan objek penelitian.

Yang tidak kalah penting, dosen pembimbing menjaga mutu akademik penelitian mahasiswa. Mereka memastikan referensi yang digunakan valid, metodologi yang dipilih tepat, dan argumentasi yang dibangun memiliki dasar ilmiah yang kuat.

AI mungkin dapat membantu membuat kalimat terlihat cerdas. Namun, dosen pembimbing membantu mahasiswa benar-benar memahami penelitian yang sedang mereka kerjakan.

Peran lain yang sangat penting adalah menjaga integritas akademik. Di tengah budaya serba instan, dosen pembimbing menjadi pengingat bahwa penelitian bukan sekadar sarana untuk lulus secepat mungkin.

Ada nilai kejujuran akademik yang harus dijaga. Ada pula proses pembelajaran yang tidak boleh dilewati begitu saja.

Karena itu, mahasiswa yang hanya mengandalkan AI biasanya mudah dikenali saat sidang skripsi. Tulisannya mungkin terlihat rapi. Namun ketika diminta menjelaskan alasan pemilihan teori atau logika penelitian yang digunakan, mereka sering mengalami kesulitan.

Sebaliknya, mahasiswa yang aktif berdiskusi dengan dosen pembimbing umumnya lebih siap menghadapi pertanyaan. Mungkin tulisannya tidak paling sempurna, tetapi mereka memahami alur berpikir penelitiannya.

Pada akhirnya, teknologi akan terus berkembang. AI akan semakin canggih dan mungkin suatu saat mampu membantu lebih banyak pekerjaan akademik.

Namun, pendidikan tinggi bukan hanya tentang menghasilkan dokumen ilmiah. Pendidikan adalah proses membentuk cara berpikir manusia. Proses tersebut tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin.

AI merupakan alat bantu yang sangat berguna dalam dunia akademik modern. AI dapat membantu mahasiswa menemukan ide, menyusun draf, mencari referensi, dan merapikan bahasa tulisan.

Namun, AI bukan penentu kualitas berpikir ilmiah.

Skripsi bukan soal siapa yang paling cepat menyelesaikannya, melainkan siapa yang benar-benar memahami penelitian yang dibuatnya.

Karena itu, dosen pembimbing tetap memiliki peran penting sebagai pengarah logika, penjaga mutu akademik, sekaligus pembentuk integritas mahasiswa.

Pada akhirnya, AI hanyalah alat. Penentunya tetap manusia itu sendiri.

Revisi Oleh:
  • Satria - 31/05/2026 14:36
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu