Sejarah pernah mencatat ketegangan panjang ketika agama dan ilmu pengetahuan dipertentangkan. Pada masa tertentu, relasi keduanya diwarnai kecurigaan dan tekanan, yang kemudian melahirkan skeptisisme terhadap institusi keagamaan.
Dari situ berkembang arus sekularisme, humanisme, hingga antroposentrisme—sebuah pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat segala-galanya. Dampaknya terasa hingga era modern. Ilmu pengetahuan dan agama kerap didudukkan secara berhadap-hadapan.
Alih-alih berdampingan, keduanya dianggap tidak relevan satu sama lain, bahkan dinilai bertolak belakang. Tantangan ini menjadi ujian tersendiri bagi institusi keagamaan di tengah dunia yang kian rasional dan materialistik.
Namun, Prof. Syafiq A. Mughni menegaskan, dikotomi tersebut tidak semestinya dipertahankan. Menurut Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah itu, agama dan ilmu pengetahuan dapat—dan harus—berjalan beriringan.
Pandangan itulah yang diambil oleh Muhammadiyah. Organisasi ini percaya pada ilmu pengetahuan sekaligus berpegang teguh pada nash atau teks wahyu.
Keduanya tidak diposisikan sebagai dua kutub yang saling menegasikan, melainkan sebagai instrumen yang saling menguatkan.
“Bisa dipadukan, percaya pada ilmu pengetahuan—dan itu digunakan untuk memahami teks-teks. Yang nyata adalah bagaimana kita melihat bulan untuk berpuasa,” ujar Syafiq dalam Pengkajian Ramadan 1447 H di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), Rabu (25/2/2026).
Karena itu, Muhammadiyah tidak membaca nash secara letterlijk semata. Wahyu dipahami melalui pendekatan yang komprehensif: tekstual (bayani), rasional-kontekstual (burhani), serta pendekatan intuitif-spiritual (irfani) yang berlandaskan qalbun salim.
“Dengan cara inilah agama tetap otoritatif, sekaligus responsif terhadap perkembangan ilmu dan realitas zaman,” tandas Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya itu.
Dalam paparannya, Syafiq juga menyoroti menguatnya pandangan antroposentrisme. Ketika manusia ditempatkan sebagai pusat kehidupan dan ukuran utama kebenaran, eksploitasi terhadap bumi kerap dianggap sah selama sesuai rasionalitas dan menguntungkan manusia.
“Pandangan semacam ini, berpotensi mempercepat kerusakan lingkungan karena mengesampingkan dimensi ketuhanan dan tanggung jawab moral. Sebab Allah dan agama tidak penting lagi, teosentrisme sudah ditinggalkan. Itu fenomena baru, kemudian muncul kelompok-kelompok humanis di sebagian negara,” ungkapnya.
Beragam “isme” yang berkembang di era kontemporer tersebut mendorong sebagian ilmuwan Muslim untuk merumuskan kembali teologi Islam agar tetap relevan dan solutif.
Muncullah gagasan tauhid sosial, teologi pembebasan, hingga teologi Al-Ma’un—sebagai ikhtiar menjadikan ajaran tauhid tidak berhenti pada tataran doktrin, tetapi hadir sebagai kekuatan transformasi sosial.
Bagi Muhammadiyah, memadukan agama dan sains bukan sekadar pilihan metodologis. Ia adalah jalan peradaban: menjaga wahyu tetap hidup, sekaligus memastikan ilmu pengetahuan bergerak dalam bingkai etika dan tanggung jawab kemanusiaan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments