Ayat tersebut menjadi teguran sekaligus ajakan untuk melakukan introspeksi diri. Seorang Muslim hendaknya tidak membiarkan hatinya semakin jauh dari Al-Qur’an, sulit menerima nasihat, atau tidak lagi tersentuh oleh peringatan Allah SWT.
Untuk menggambarkan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, Ustadz Sam’un juga mengutip jawaban Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ditanya mengenai akhlak Rasulullah SAW.
Aisyah menjawab:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
Artinya:
“Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim).
Jawaban tersebut menunjukkan bahwa kehidupan Rasulullah SAW merupakan cerminan nyata dari nilai-nilai Al-Qur’an. Segala sesuatu yang diperintahkan Al-Qur’an beliau amalkan, sedangkan hal-hal yang dilarang beliau tinggalkan.
Karena itu, seorang Muslim tidak cukup hanya membaca Al-Qur’an. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya juga perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Ciri Orang Beriman yang Beruntung
Selanjutnya, Ustadz Sam’un mengajak jamaah membaca dan merenungkan Surah Al-Mu’minun ayat 1–9. Rangkaian ayat ini menjelaskan karakter orang-orang beriman yang memperoleh keberuntungan.
Allah SWT berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ١
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ٢
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ ٣
وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ ٤
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ٥
إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ٦
فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ ٧
وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ ٨
وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ ٩
Artinya:
Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.
(Yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya.
Dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.
Dan orang yang menunaikan zakat.
Dan orang yang memelihara kemaluannya.
Kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela.
Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.
Serta orang yang memelihara shalatnya.
(QS. Al-Mu’minun: 1–9).
Dari ayat-ayat tersebut, kekhusyukan dalam shalat merupakan salah satu ciri utama orang beriman yang beruntung. Namun, keberuntungan itu juga berkaitan dengan perilaku lainnya, seperti menjauhi perbuatan yang tidak bermanfaat, menunaikan zakat, menjaga kehormatan diri, memelihara amanah, dan menepati janji.






0 Tanggapan
Empty Comments