Khusyuk bukan hanya persoalan gerakan fisik ketika berdiri, rukuk, dan sujud. Lebih dari itu, khusyuk merupakan keadaan hati yang tunduk dan terarah kepada Allah SWT.
Karena itu, kekhusyukan perlu dihadirkan dalam berbagai bentuk ibadah. Ketika shalat, seorang Muslim hendaknya berusaha menghadirkan hati di hadapan Allah. Ketika membaca Al-Qur’an, ia juga perlu memperhatikan bacaan, memahami maknanya, dan berusaha mengamalkannya.
Nilai-nilai keimanan tersebut juga harus tercermin dalam kehidupan keluarga, termasuk melalui kebaikan terhadap pasangan dan kesungguhan menjalankan tanggung jawab rumah tangga.
Takhalli, Tahalli, dan Tajalli
Untuk membangun hati yang bersih dan menghadirkan kekhusyukan, Ustadz Sam’un turut membahas konsep tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa.
Proses penyucian jiwa ini dikenal melalui tiga tahapan, yaitu takhalli, tahalli, dan tajalli.
Takhalli merupakan upaya membersihkan diri dari sifat-sifat buruk, seperti kesombongan, iri hati, prasangka buruk, serta perilaku yang menjauhkan manusia dari Allah SWT.
Sementara itu, tahalli adalah upaya menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji, seperti ikhlas, sabar, syukur, tawaduk, dan kasih sayang.
Adapun tajalli merupakan tahapan ketika hati semakin mampu merasakan keagungan dan kebesaran Allah SWT melalui kedekatan, ketaatan, serta kesungguhan dalam beribadah.
Ketiga tahapan tersebut menjadi pengingat bahwa memperbaiki kualitas ibadah perlu dimulai dengan membersihkan hati dan memperbaiki perilaku.
Mengenali Empat Bentuk Jahiliah
Dalam tausiahnya, Ustadz Sam’un juga mengingatkan jamaah tentang bahaya sifat jahiliah. Istilah jahiliah tidak hanya berkaitan dengan keadaan masyarakat sebelum datangnya Islam, tetapi juga menggambarkan sikap-sikap yang dapat muncul dalam kehidupan manusia.
Ada empat bentuk jahiliah yang disebutkan dalam Al-Qur’an.
Pertama, zhan al-jahiliyah, yaitu prasangka jahiliah sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali Imran ayat 154. Sikap ini menggambarkan prasangka buruk terhadap Allah SWT, terutama ketika seseorang menghadapi kesulitan dan ujian kehidupan.
Kedua, hukm al-jahiliyah, yaitu hukum jahiliah sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Maidah ayat 50. Ayat ini mengingatkan manusia agar tidak berpaling dari hukum dan ketentuan Allah SWT.
Ketiga, tabarruj al-jahiliyah, yaitu perilaku berhias dan menampilkan diri secara berlebihan sebagaimana diperingatkan dalam QS. Al-Ahzab ayat 33. Seorang Muslim hendaknya menjaga kehormatan, kesopanan, dan adab dalam pergaulan.
Keempat, hamiyyah al-jahiliyah, yaitu fanatisme dan kesombongan jahiliah sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Fath ayat 26. Sikap merasa paling benar, membanggakan kelompok secara berlebihan, dan menolak kebenaran merupakan perilaku yang perlu dihindari.
Keempat bentuk tersebut menjadi pelajaran agar seorang Muslim senantiasa menjaga hati, pikiran, dan perilakunya dari sifat-sifat yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Al-Qur’an Harus Dipercayai dan Diamalkan
Ustadz Sam’un kemudian menekankan pentingnya keimanan terhadap Al-Qur’an. Beriman kepada kitab suci ini tidak cukup hanya dengan mengakui bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril.
Keimanan tersebut harus diwujudkan dengan meyakini kebenaran isinya, menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, serta melaksanakan perintah dan menjauhi larangan yang terkandung di dalamnya.
Al-Qur’an juga harus senantiasa dibaca, dipahami, ditadaburi, diajarkan, dan didakwahkan. Dengan demikian, interaksi seorang Muslim dengan Al-Qur’an tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi berlanjut pada pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kesempatan tersebut, jamaah diajak merenungkan Surah Al-Isra ayat 105–109 yang menjelaskan turunnya Al-Qur’an dengan membawa kebenaran. Ayat-ayat ini juga menggambarkan sikap orang-orang berilmu yang tunduk dan bersujud ketika mendengarkan firman Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
وَبِالْحَقِّ أَنْزَلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَ ۗ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا ١٠٥
وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا ١٠٦
قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا ۚ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا ١٠٧
وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا ١٠٨
وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا ١٠٩
Artinya:
Dan Kami turunkan (Al-Qur’an) itu dengan (membawa) kebenaran dan (Al-Qur’an) itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.
Dan Al-Qur’an (Kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia secara perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap.
Katakanlah (Muhammad), “Berimanlah kamu kepadanya (Al-Qur’an) atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang yang telah diberi ilmu sebelumnya, apabila (Al-Qur’an) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah, bersujud.”
Dan mereka berkata, “Mahasuci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.”
Dan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.
(QS. Al-Isra: 105–109).
Ayat-ayat tersebut menggambarkan bagaimana orang-orang yang memiliki ilmu merespons kebenaran Al-Qur’an. Mereka tidak sekadar mendengarkan, tetapi juga tunduk dan bersujud, bahkan menangis karena merasakan kebesaran Allah SWT.
Inilah gambaran hati yang hidup, yakni hati yang mudah tersentuh oleh ayat-ayat Allah dan semakin bertambah kekhusyukannya.
Menghadirkan Allah dalam Setiap Kehidupan
Menutup tausiahnya, Ustadz Sam’un mengajak jamaah untuk terus memperbaiki kualitas hati dan ibadah. Ia mengingatkan bahwa kekhusyukan perlu dibangun melalui kesadaran akan kebesaran Allah SWT dan rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya.
“Ayo kita berusaha menjadikan hati kita selalu khusyuk. Agar hati bisa ikhlas dan mampu merasakan keagungan Allah SWT. Karena Allah-lah yang menghidupkan kita, memberikan rezeki kita, menjaga kita, membahagiakan kita, dan memenuhi semua kebutuhan kita,” pesannya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kekhusyukan tidak seharusnya hanya hadir ketika seseorang melaksanakan shalat. Kekhusyukan juga perlu tercermin dalam cara seseorang bersyukur, menerima ketetapan Allah, memperlakukan keluarga, menjaga amanah, dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Kajian Silaturahim Ahad I yang diselenggarakan Majelis Tabligh PRM Wage ini diharapkan menjadi sarana untuk memperkuat keimanan sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.
Sebab, hati yang senantiasa mengingat Allah akan lebih mudah bersyukur, menerima nasihat, dan menjalani kehidupan dengan penuh keikhlasan.
Pada akhirnya, pertanyaan “Kapan Kita Bisa Khusyuk?” bukan sekadar pertanyaan tentang kapan seseorang mampu menghadirkan kekhusyukan dalam shalat. Lebih dari itu, pertanyaan tersebut menjadi ajakan untuk segera memperbaiki hati, mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam setiap langkah kehidupan. (*0






0 Tanggapan
Empty Comments