
PWMU.CO – Guru Fikih MAM 8 Takerharjo, Solokuro, HM Sukatim, Lamongan menguji hafalan shalat para murid pada Rabu (19/2/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan para murid memahami dan mendirikan shalat dengan ikhlas, semata-mata untuk menjalankan agama yang lurus dan benar.
Dalam pembelajarannya, HM Sukatim berpedoman pada QS al-Bayyinah ayat 5:
“Wa mâ umirû illâ liya‘budullâha mukhlishîna lahud-dîna ḫunafâ’a wa yuqîmush-shalâta wa yu’tuz-zakâta wa dzâlika dînul-qayyimah.”
Artinya: Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).
Dalam kesempatan tersebut, HM Sukatim menekankan pentingnya kesadaran dalam shalat. Ia mengingatkan para murid agar tidak mendekati shalat dalam keadaan mabuk, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam QS An-Nisa ayat 43:
Yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ taqrabush-shalâta wa antum sukârâ ḫattâ ta‘lamû mâ taqûlûna
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mendekati shalat, sedangkan kamu dalam keadaan mabuk sampai kamu sadar akan apa yang kamu ucapkan.
HM Sukatim menjelaskan bahwa sebelum ayat larangan khamar turun, pernah terjadi peristiwa yang menunjukkan bahaya mabuk dalam ibadah. Hal ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nisa dan al-Hakim dari Ali bin Abi Thalib:
“Abdurrahman bin Auf pernah mengundang beberapa sahabat untuk makan dan minum arak. Saat waktu shalat tiba, mereka menunjukku sebagai imam. Karena masih dalam keadaan mabuk, aku salah dalam membaca surat al-Kafirun, ‘Katakanlah (Muhammad), Wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. (QS. Al-Kafirun: 1-2), dan kami tidak menyembah apa yang kalian sembah. Lantas Allah menurunkan QS An-Nisa ayat 43.”
Sebagai penutup, HM Sukatim berdoa agar para murid tetap istikamah dalam menunaikan shalat, sebagaimana yang terdapat dalam QS Ibrahim ayat 40:
Rabbij‘alnî muqîmas-shalâti wa min dzurriyyatî rabbanâ wa taqabbal du’â
Artinya: Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan sebagian anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.
Dengan pemahaman yang baik tentang pentingnya kesadaran dalam shalat, diharapkan para murid dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk dan sesuai tuntunan Islam. (*)
Penulis Mushlihin Editor Ni’matul Faizah