Al Millah: Masjid 24 Jam Nonstop, Tarawih Sesi 2 Mulai Pukul 01.30

710
Hikmah Press
Shalat Tarawih sesi 2 dan itikaf di Masjid Al Millah (foto: ano/pwmu.co)

PWMU.CO – Menjelang Idul Fitri, kegiatan di Masjid Al Millah, Pondok Jati II Sidoarjo justru meningkat. Jamaah Shalat Tarawih sesi satu dan sesi dua selalu penuh. Pelbagai kegiatan terselenggara intensif seperti pengajian, tadarus Quran, itikaf, pembinaan remaja. Praktis 24 jam nonstop.

“Masjid Al Millah ini luar biasa. Pada saat jamaah masjid lain berkurang, Al Millah tetap penuh,” ujar Ust Syahmin Hidayat. Syahmin adalah pengasuh pengajian tetap Al Millah, di samping Ust Bangun Samudra, Ust Najih Ihsan, Ust Zaini, Ust Manachem Ali, Ust Jufri Ubaid, Ust Mashud, Ust Aunur Rofiq.

iklan

Menurut keterangan yang dikumpulkan PWMU.CO, kegiatan Shalat Tarawih atau Qiyamul Ramadhan sejak hari pertama Ramadhan dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama dimulai pukul 18.40 wib. Sesi kedua mulai pukul 21.30. Jam sesi dua, mulai tanggal 20 Ramadhan diubah mulai pukul 01.30 wib.

Hingga, Sabtu (9/6) malam, kegiatan Shalat Tarawih sesi pertama tetap penuh. Hal ini meleset dari prediksi bahwa jumlah akan menurun berkaitan dengan kegiatan persiapan Lebaran seperti belanja, membuat kue. Bahkan jamaah wanita juga tidak berkurang.

Baca Juga:  Dahsyat! Ternyata Generasi Milenial Mendominasi Gerakan Iktikaf

Yang tak kalah mengejutkan adalah peserta itikaf yang membludak sampai di halaman masjid. Untuk imam Shalat Tarawih sesi dua pada 10 hari terakhir, menurut H Mahmudin, takmir Al Millah, mendatangkan imam dengan bacaan terpilih. Antara lain, Wildan, mahasiswa ITS yang mirip dengan imam Masjid Haram Syekh Abdurrahman Al Aussyi.

Ada juga qori yang masih sekolah setingkat SMP, Yusuf bin Hakim. Sekalipun masih kecil, sudah menguasai surah-surah di juz 29 seperti Al Muluk, Qolam, Al Muzammil, Al Mudatsir.

“Tadi malam (10 Juni) kita sediakan nasi 600 porsi untuk sahur masih kurang,” kata Sujarwo, pengurus masjid. Dengan begitu bisa dipastikan bahwa jumlah jamaah itikaf lebih 600 orang karena sebagian langsung pulang untuk sahur di rumah masing-masing.

Diperkirakan, puncak itikaf akan terjadi pada malam 27 Ramadhan. Karena sebagian jamaah mengacu pada pendapat Abdullah bin Umar bahwa insya Allah Lailatul Qadr selalu turun pada malam 27 Ramadhan.

Praktis menjelang Lebaran ini kegiatan Masjid Al Millah nonstop 24 jam. Dimulai dengan kegiatan buka bersama di mana takmir menyediakan nasi 550 porsi. Para jamaah biasanya mengisi dengan membaca Quran sesuai Shalat Maghrib menunggu Isya dan Tarawih.

Baca Juga:  Berlokasi di Rumah Sakit, Ini Program Unggulan Masjid Darusy Syifa

Selepas Tarawih sekitar pukul 20.30, masjid tidak sepi dari kegiatan tadarus Quran sampai menunggu datangnya Tarawih sesi dua atau kegiata itikaf. Pada malam tanggal 23 sebelum Tarawih sesi dua diisi pengajian oleh Ust Zainuddin MZ. Sedang pada malam Ahad, diisi dengan kegiatan Mabit (Malam Bina Iman dan Tauhid) yang diikuti puluhan remaja dengan pembina Ust Carlos.

Tadarus di Masjid Al Millah seusai Subuh (foto: ano/pwmu.co)

Masjid menyediakan sahur bersama mulai pukul 03.00 atau selepas Witir. Biasanya jamaan tida langsung pulang melainkan menunggu Shalat Subuh berjamaah. Seusai Shalat Subuh sebagia jamaah memilih tinggal menunggu Shalat Isyra sambil membaca Quran atau berdzikir. Di samping ada kultum sekitar 30 menit.

Pada pagi harinya, masjid tetap ramai oleh kegiatan penerimaan zakat fitrah. Sedang jamaah wanita mulai sibuk mempersiapkan hidangan berbuka dan sahur. Karena makanannya dimasak di dapur masjid dengan menu bervariasi seperti soto, rawon, bumbu bali, campur.

Banyak yang berkomentar, jamaah masjid Al Millah ini seperti dimanja. Bukan hanya takjil dan makan, takmir juga menyediakan minuman dingin dan panas gratis seperti bandrek, teh. Belum lagi buah dan kue. Dengan kegiatan masjid yang nonstop 24 jam, praktis AC masjid juga nonstop.

Baca Juga:  Serahkan 3 Sertifikat Tanah: Berjibaku Dirikan Amal Usaha, setelah Jadi Diserahkan ke Muhammadiyah

Kunci sukses mengapa jamaah Al Millah selalu penuh, menurut Ust Muhammadun, karena takmir dan krunya melayani jamaah dengan ikhlas. Dia tak lupa menyebut nama almarhum Ust Iskalam yang babak alas masjid itu. Dari jamaah Subuh hanya sekitar 9 orang hingga menjadi rata-rata per hari 300 orang.

Ramadhan tahun ini juga memberikan bingkisan kepada 700 anak yatim se Sidoarjo, dan paket sembako kepada 250 kaum dhuafa. Kegiatan A Millah tidak hanya berkutat di dalam masjid. Secara periodik mengadakan bati sosial di desa-desa miskin rawan pemurtadan. Ambulans Al Millah siap diperbantukan baik kepada jamaah maupun bukan jamaah.

Tidak sedikit yang bertanya dari mana Al Millah mendapatkan dana untuk menopang kegiatan sebanyak itu? Ternyata kuncinya adalah infaq dari jamaah. Gerakan infaq subuh cukup efektif. Jika takmir mengumumkan kekurangan dana untuk kegiatan tertentu, dalam tempo singkat jamaah menutup kekurangan. (ano)