Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (BAKOM) RI, Syahganda Nainggolan menyatakan bahwa Indonesia tak hanya mengirim asap kepada negara tetangga. Selama ini juga mengirim oksigen dari hutan-hutan di Indonesia. Pernyataan tersebut memantik pertanyaan tentang kepekaan komunikasi pemerintah saat masyarakat sedang menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahanĀ (karhutla). Barangkali Syahganda ingin menyampaikan bahwa Indonesia punya kontribusi ekologis yang besar bagi kawasan.
Persoalannya bukan semata-mata karena hutan Indonesia menghasilkan oksigen,.Tetapi mengapa hal itu justru menonjol saat masyarakat sedang membutuhkan penjelasan tentang asap, risiko kesehatan, dan langkah penanganannya.
Setiap terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), perdebatannya tak hanya seputar bagaimana api bisa muncul dan menyebar. Adu argumen lain terkait siapa yang bertanggung jawab, siapa yang dipercaya, dan fakta mana yang mendominasi ruang publik.
Juga tentang siapa yang punya kuasa menentukan narasi, yang suaranya tak terdengar, dan yang menanggung konsekuensi sosial maupun ekonomi.
Cherry Picking
Secara sederhana, cherry picking adalah praktik memilih bukti yang mendukung suatu pandangan sambil mengabaikan bukti relevan yang berpotensi melemahkannya. Cara ini dapat menghasilkan gambaran yang menyesatkan, meskipun fakta yang dikutip belum tentu keliru.
Masalahnya, komunikasi publik tak cukup dinilai dari benar atau salahnya sebuah kalimat secara terpisah. Kita juga perlu memahami konteks, waktu, dan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.
Istilah cherry picking berasal dari kebiasaan seseorang saat memetik buah ceri. Ketika memanen ceri, seseorang biasanya hanya memilih dan memetik buah ceri yang tampak paling merah, besar, dan matang.
Pemetik mengabaikan buah yang busuk, kecil, atau mentah. Sehingga memberikan kesan keliru kepada orang lain bahwa seluruh pohon menghasilkan buah yang sempurna.
Pernyataan Syahganda tentang kontribusi hutan terhadap ketersediaan oksigen memang tak otomatis keliru. Namun, persepsi publik bisa berubah ketika pernyataan itu digunakan dalam situasi kabut asap lintas batas.
Hal yang lebih penting sebenarnya bagaimana melindungi warga dari paparan polusi, apa penyebab kebakaran, siapa yang bertanggung jawab, dan sejauh mana upaya pemadaman telah dilakukan.
Fakta yang benar dapat menghasilkan komunikasi yang keliru ketika digunakan untuk menjawab pertanyaan yang berbeda. Kita tak bisa menyelesaikan persoalan asap hanya dengan mengingatkan bahwa hutan juga memberi manfaat ekologis.
Kedua hal merupakan hal yang berbeda dan tak saling menghapus.
Karena itu, cherry picking memang tak selalu berupa pemalsuan angka atau penyembunyian dokumen. Dalam komunikasi publik, persoalan serupa juga dapat muncul ketika satu sisi kenyataan terus-menerus ditonjolkan sehingga sisi lain kehilangan tempat dalam percakapan.
Pilih Narasi, Geser Perhatian
Dalam kajian komunikasi, ada konsep pembingkaian (framing). Robert Entman (1993), melalui konsep framing, menjelaskan bahwa proses pembingkaian melibatkan pemilihan aspek tertentu dari realitas untuk ditonjolkan.
Dengan demikian, memengaruhi definisi masalah, penilaian penyebab, evaluasi moral, dan rekomendasi penyelesaian. Konsep ini membantu untuk memahami mengapa satu pernyataan dapat membawa percakapan publik ke arah tertentu.
Ketika karhutla dibicarakan melalui narasi kontribusi ekologis Indonesia, perhatian bisa beralih kepada manfaat hutan dan posisi negara.
Ketika dibicarakan melalui narasi kesehatan publik, perhatian akan tertuju pada kualitas udara, perlindungan warga, dan tindakan penanganan.
Keduanya dapat menjadi bagian dari penjelasan yang lebih luas. Persoalan baru muncul ketika salah satunya digunakan untuk menutupi atau mengesampingkan persoalan yang lain.
Jadi, perlu kehati-hatian sebelum menyebut sebuah pernyataan sebagai cherry picking.
Pernyataan tentang oksigen saja belum cukup membuktikan adanya pemilihan bukti secara sengaja. Untuk menyimpulkan demikian, kita perlu melihat keseluruhan penjelasan, data yang disampaikan, konteks pernyataan, serta apakah terdapat fakta relevan yang diabaikan.
Namun, kita tetap dapat mengkritik kualitas komunikasinya. Sebuah pesan bisa saja tak mengandung kebohongan, tetapi tetap tak menjawab kebutuhan publik.
Dalam situasi krisis, ketidakmampuan menjawab persoalan utama dapat memperbesar jarak antara pemerintah dan masyarakat.
Pada akhirnya, cherry picking mengingatkan kita bahwa persoalan komunikasi bukan hanya tentang apa yang dikatakan, tetapi juga tentang apa yang dipilih untuk dikatakan dan apa yang tertinggal di luar pembicaraan.
Dalam kasus karhutla, kita tak membutuhkan narasi yang membuat satu pihak selalu tampak benar.
Kita membutuhkan penjelasan yang memungkinkan publik memahami penyebab, menilai tindakan penanganan, dan mengawasi tanggung jawab para pihak berdasarkan bukti.
Tentu saja, pemerintah berhak menjelaskan posisi Indonesia dan meluruskan informasi yang dianggap tak tepat. Tidak setiap pembelaan terhadap negara merupakan bentuk cherry picking.
Hanya saja, pembelaan akan kehilangan makna apabila perhatian terlalu banyak dicurahkan untuk menjaga citra, sementara kebutuhan masyarakat untuk memperoleh informasi yang jelas dan dapat dipercaya tak menjadi prioritas.
Hutan Indonesia memang memberikan manfaat ekologis yang melampaui batas negara. Akan tetapi, manfaat tersebut tak dapat dijadikan pengganti tanggung jawab untuk menangani asap yang sedang membahayakan manusia.
Kita perlu berhenti memperlakukan komunikasi publik sebagai perlombaan untuk memenangkan narasi. Sebab, ketika fakta hanya dipilih untuk mempertahankan posisi, komunikasi kehilangan fungsinya sebagai sarana menjernihkan keadaan.
Karhutla sudah cukup membuat udara menjadi keruh. Jangan sampai komunikasi pemerintah justru menambahkan kabut baru di ruang publik.***





0 Tanggapan
Empty Comments