Sulit membayangkan, K.H. Ahmad Dahlan pada awal abad ke-20 telah melihat secara presisi wujud Muhammadiyah seperti sekarang. Jaringan sekolah dan perguruan tinggi, rumah sakit, lembaga sosial, gerakan perempuan, pelayanan kebencanaan, media, lembaga filantropi, hingga jejaring dakwah di berbagai negara tentu belum tergambar dalam bentuknya yang hari ini kita kenal.
Namun, Kiai Dahlan memiliki sesuatu yang lebih mendasar daripada kemampuan memperkirakan bentuk organisasi pada masa depan. Ia memiliki kecakapan intelektual membaca tanda-tanda zaman.
Ketika pendidikan umat masih tertinggal, ia merintis pembaruan pendidikan. Ketika ilmu agama dan ilmu umum dipisahkan oleh sekat yang tebal, ia mempertemukan keduanya dalam ruang pembelajaran yang sama. Ketika kemiskinan dan keterlantaran dianggap sebagai kenyataan yang cukup dikasihani, ia mengajarkan bahwa Al-Quran harus diwujudkan menjadi tindakan sosial.
Kiai Dahlan juga memberi ruang maju bagi perempuan melalui embrio gerakan yang kemudian berkembang menjadi Aisyiyah. Di tengah masyarakat kolonial yang hierarkis, ia membangun gerakan modern yang bertumpu pada organisasi, pendidikan, pelayanan, dan kemandirian.
Apa yang dilakukan Kiai Dahlan sesungguhnya bukan semata-mata respons terhadap persoalan pada zamannya. Ia sedang menyiapkan jawaban bagi kebutuhan zaman yang belum sepenuhnya datang pada saat itu. Dalam bahasa kontemporer, cara berpikir seperti itu dapat dibaca sebagai foresight: kemampuan mengenali perubahan, membaca berbagai kemungkinan masa depan, lalu menyiapkan langkah strategis sejak sekarang.
Foresigt dalam DNA Tajdid
Muhammadiyah lahir bukan dari kegelisahan untuk mempertahankan keadaan, melainkan dari keberanian memperbarui keadaan. Karena itu, tajdid tidak cukup dimaknai sebagai pemurnian pemahaman keagamaan. Tajdid juga mengandung daya pembaruan untuk menghadirkan jawaban Islam terhadap persoalan kehidupan yang terus berubah.
Di sinilah foresight memiliki kedekatan dengan watak dasar Muhammadiyah. Ia bukan istilah asing yang ditempelkan pada Persyarikatan, melainkan bahasa baru untuk menjelaskan salah satu karakter lama gerakan ini: membaca zaman sebelum mengambil tindakan. Foresight berbeda dari ramalan. Ia tidak berpretensi mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi.
Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) mendefinisikan strategic foresight sebagai kegiatan mengeksplorasi berbagai kemungkinan masa depan secara terstruktur dan sistematis, bukan memprediksi satu masa depan yang dianggap pasti (OECD, 2025). Dengan pendekatan ini, masa depan tidak diperlakukan sebagai ruang kosong yang hanya ditunggu. Masa depan dipelajari melalui kecenderungan perubahan, sinyal-sinyal awal, kemungkinan gangguan, serta pilihan yang dapat dibuat sejak hari ini.
Pemikir studi masa depan Sohail Inayatullah menjelaskan bahwa kajian masa depan membantu manusia memetakan perubahan, mengantisipasi persoalan, menciptakan alternatif, dan mentransformasikan keadaan. Dengan demikian, manusia tidak sekadar menyesuaikan diri terhadap masa depan, tetapi turut membentuk masa depan yang diinginkannya (Sohail Inayatullah, Foresight, 2008).
Semangat tersebut sejalan dengan pesan Al-Quran agar setiap diri memperhatikan apa yang telah dipersiapkan untuk hari esok. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyebut kegiatan melihat ke depan sebagai kerja intelektual profetik. Menurutnya, Muhammadiyah dan Aisyiyah perlu mengembangkan kajian masa depan untuk membaca berbagai kemungkinan perubahan dalam kehidupan.
Ketika Kebesaran Menjadi Ujian
Muhammadiyah hari ini telah tumbuh menjadi organisasi dengan jaringan yang luas dan pengalaman kelembagaan lebih dari satu abad. Kebesaran tersebut merupakan modal sosial, intelektual, dan kelembagaan yang sangat berharga bagi Indonesia maupun kemanusiaan universal.
Namun, semakin besar sebuah organisasi, semakin besar pula tantangannya untuk terus bergerak lincah dan menghindari sindroma obesitas. Sistem yang luas dapat menghasilkan kekuatan, tetapi juga berpotensi melahirkan rutinitas. Pengalaman panjang dapat menjadi sumber kebijaksanaan, tetapi dapat pula membuat organisasi terlalu nyaman dengan keberhasilan masa lalu.
Organisasi yang besar tidak selalu melemah karena kekurangan sumber daya. Ia dapat kehilangan daya geraknya ketika terlalu sibuk merawat apa yang telah dimiliki dan kurang memberi perhatian pada sesuatu yang sedang tumbuh. Karena itu, Muhammadiyah perlu menjaga agar amal usaha tidak hanya berkembang secara kuantitatif, tetapi juga tetap relevan secara substantif. Sekolah tidak cukup hanya bertambah jumlahnya, tetapi harus mampu menjawab perubahan cara belajar generasi baru. Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan, tetapi perlu melahirkan pengetahuan dan inovasi yang menentukan arah masyarakat, bangsa dan negara.
Rumah sakit tidak cukup hanya meningkatkan kapasitas layanan, tetapi perlu mengantisipasi perubahan pola penyakit, teknologi kesehatan mutakhir, penuaan penduduk, dan ketimpangan akses. Dakwah pun tidak cukup hanya berpindah ke ruang digital, tetapi harus mampu memahami perubahan kesadaran, bahasa, identitas, dan pencarian makna generasi mendatang. Dengan kata lain, kebesaran Muhammadiyah harus diikuti kemampuan melihat lebih jauh.
Momentum Muhammadiyah 2047
Tanwir Muhammadiyah di Palu pada November 2026 memiliki kedudukan strategis karena menjadi bagian dari persiapan menuju Muktamar Ke-49 tahun 2027. Salah satu agenda pentingnya adalah menyusun arah program jangka panjang Muhammadiyah untuk periode 2027–2047.
Program jangka panjang sebelumnya berlaku untuk masa 2005–2025 dan diperpanjang hingga 2027. Karena itu, Muhammadiyah memerlukan rancangan baru yang akan menjadi pedoman gerakan selama dua dekade setelah Muktamar Ke-49.
Penyusunan program 2027–2047 tidak seharusnya berhenti sebagai perpanjangan daftar kegiatan yang telah ada. Dokumen tersebut perlu menjadi arsitektur masa depan Muhammadiyah: gambaran mengenai posisi Persyarikatan pada usia 135 tahun sekaligus peran yang hendak dimainkannya dalam dunia yang sangat mungkin berbeda dari hari ini.
Pada 2047, kecerdasan buatan mungkin telah mengubah sebagian besar arsitektur pekerjaan. Perubahan iklim akan semakin memengaruhi pangan, kesehatan, migrasi, dan tata ruang. Masyarakat akan menghadapi usia harapan hidup yang lebih panjang, pola keluarga yang berubah, serta hubungan sosial yang semakin dimediasi teknologi.
Persaingan geopolitik, pergeseran pusat ekonomi dunia, transformasi pendidikan, dan perubahan otoritas keagamaan juga akan menghadirkan tantangan baru. Sebagian pekerjaan mungkin menghilang, sedangkan profesi yang hari ini belum dikenal akan bermunculan. Anak-anak yang sekarang belajar di TK ABA dan SD Muhammadiyah akan menjadi penggerak utama masyarakat pada masa itu.
Pertanyaannya kemudian bukan hanya apakah Muhammadiyah dapat bertahan menghadapi perubahan tersebut. Pertanyaan yang lebih strategis adalah: peran apa yang hendak dimainkan Muhammadiyah dalam membentuknya?
Dari Dikumen Program ke Arsitektur Masa Depan
Muhammadiyah 2047 membutuhkan lebih dari sebuah visi normatif. Visi tersebut harus diterjemahkan ke dalam pilihan strategis, peta jalan, tahapan pencapaian, dan ukuran dampak yang dapat diukur dan dievaluasi.
Pertama, Persyarikatan perlu menyusun beberapa skenario masa depan. Bagaimana wajah pendidikan Muhammadiyah jika kecerdasan buatan menjadi bagian utama pembelajaran? Bagaimana pelayanan kesehatan dijalankan ketika teknologi diagnostik semakin personal, tetapi kesenjangan akses masih lebar? Bagaimana model dakwah ketika generasi baru lebih banyak menemukan pengetahuan agama melalui platform digital daripada melalui ruang-ruang pengajian konvensional?
Kedua, setiap agenda besar perlu menjalani future stress test. Kebijakan tidak hanya dinilai berdasarkan kemampuannya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga diuji ketahanannya menghadapi perubahan sepuluh hingga dua puluh tahun mendatang.
Ketiga, program 2027–2047 perlu memiliki tonggak pencapaian setiap lima tahun. Dengan demikian, visi jangka panjang tidak berhenti sebagai narasi besar, tetapi dapat dikoreksi, diperkuat, dan disesuaikan secara berkala dan berkesinambungan.
Keempat, keberhasilan harus diukur dari dampak, bukan semata-mata aktivitas. Ukurannya bukan hanya berapa banyak sekolah, rumah sakit, program, atau forum yang dimiliki, tetapi seberapa jauh semuanya memperluas akses, meningkatkan kualitas kehidupan, menghasilkan inovasi, dan menyelesaikan persoalan masyarakat.
Melalui cara itulah agenda internasionalisasi, transformasi digital, penguatan ekonomi, dan regenerasi kepemimpinan dapat dipertemukan dalam satu rancangan besar Muhammadiyah 2047.
Membangun Jaringan Foresight Muhammadiyah
Muhammadiyah sebenarnya memiliki hampir seluruh modal yang diperlukan untuk mengembangkan kajian masa depan. Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah memiliki akademisi dan pusat penelitian. Sekolah berhubungan langsung dengan generasi muda. Rumah sakit membaca perubahan kesehatan masyarakat. Majelis dan lembaga menjangkau beragam bidang kehidupan.
Organisasi otonom menjadi ruang tumbuh kader lintas generasi. Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah dapat menangkap perubahan global dari berbagai belahan negara. Media Persyarikatan memiliki kemampuan merekam pergeseran wacana publik, sedangkan cabang dan ranting bersentuhan langsung dengan dinamika masyarakat. Seluruh kekuatan tersebut perlu dihubungkan menjadi Jaringan Foresight Muhammadiyah.
Jaringan ini tidak harus menjadi struktur baru yang menambah panjang birokrasi organisasi. Ia dapat dibangun sebagai mekanisme kolaborasi lintas majelis, lembaga, amal usaha, perguruan tinggi, organisasi otonom, dan jejaring diaspora untuk menghimpun pengetahuan serta merumuskan pilihan strategis.
Jaringan tersebut dapat menghasilkan laporan tahunan tentang masa depan Muhammadiyah, mengidentifikasi sinyal perubahan, menyelenggarakan laboratorium skenario, serta menyusun rekomendasi bagi pimpinan Persyarikatan. Isu-isu strategis juga dapat diuji melalui kajian lintas disiplin sebelum diterjemahkan menjadi kebijakan.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Irwan Akib pernah mendorong Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah membangun pusat kajian strategis atau think tank yang mampu membaca isu terkini sekaligus memproyeksikan tantangan masa depan. Hasil kajian tersebut diharapkan dapat menjadi bahan bagi Muktamar Muhammadiyah 2027.
Gagasan itu perlu diperluas menjadi kerja kelembagaan bersama. Muhammadiyah tidak kekurangan orang pintar, data, jaringan, maupun pengalaman. Tantangannya adalah menghubungkan seluruh sumber daya tersebut agar menghasilkan kecerdasan kolektif bagi masa depan Persyarikatan.
Tajdid yang Mendahului Zaman
Salah satu warisan penting K.H. Ahmad Dahlan bukanlah kemampuan mengulang apa yang telah beliau kerjakan pada masanya, melainkan keberanian menemukan jawaban baru terhadap berbagai persoalan mutakhir dengan tetap berlandaskankan nilai Islam yang kokoh.
Bayangkan jika pada saat itu Kiai Dahlan hanya mengikuti kebiasaan zamannya, maka mungkin tidak akan lahir model pendidikan yang mempertemukan ilmu agama dan ilmu umum seperti saat ini. Apabila ia hanya mempertahankan cara dakwah yang telah mapan, Surah Al-Ma’un mungkin tidak akan berkembang menjadi gerakan pelayanan sosial yang luas.
Karena itu, kesetiaan kepada pendiri Muhammadiyah tidak cukup diwujudkan dengan mengenang sejarahnya. Kesetiaan yang lebih substantif adalah melanjutkan keberaniannya membaca zaman dan menghadirkan pembaruan.
Muktamar Ke-49 memiliki peluang untuk meneguhkan kembali watak tersebut. Ia bukan hanya forum untuk mengevaluasi perjalanan organisasi dan menyusun program kerja, tetapi juga ruang untuk menentukan posisi Muhammadiyah dalam menghadapi dua dekade perubahan berikutnya.
Muhammadiyah 2047 tidak semestinya hanya menjadi Muhammadiyah yang lebih besar. Ia harus bertransformasi menjadi Muhammadiyah yang lebih relevan, terhubung, inovatif, berdaya saing global, dan semakin berdampak bagi kemanusiaan. Sebab, gerakan yang berkemajuan bukanlah gerakan yang sekadar berhasil mengikuti perubahan. Gerakan berkemajuan adalah gerakan yang mampu membaca arah perubahan, menyiapkan jawaban, dan turut merancang masa depan yang lebih gemilang. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments