Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Halaqah Ummah “From Overthinking to Trusting Allah”, Ajak Wali Siswa Belajar Ridha, Sabar, dan Tawakal

Iklan Landscape Smamda
Halaqah Ummah “From Overthinking to Trusting Allah”, Ajak Wali Siswa Belajar Ridha, Sabar, dan Tawakal
Ustadz Naruto saat menyampaikan materinya pada kegiatan Halaqah Ummah (Nurma Aini Salsabila/PWMU.CO)
pwmu.co -

Halaqah Ummah kembali digelar untuk wali siswa Mugeb Primary School pada Selasa (29/9/2026) di Averroes Hall. Kegiatan tersebut menghadirkan Ustadz Moch Marzuki Imron, S.T., yang akrab disapa Ustadz Naruto.

Mengangkat tema “From Overthinking to Trusting Allah”, kajian ini mengajak para wali siswa untuk belajar mengelola kekhawatiran, menerima ketetapan Allah, serta membangun sikap ridha, sabar, dan tawakal dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan, termasuk dalam mendidik dan mendampingi anak.

Gelas Air dan Beban Pikiran

Ustadz Naruto membuka kajian dengan ilustrasi sederhana menggunakan sebuah gelas berisi air. Ia kemudian bertanya kepada peserta apakah gelas tersebut terasa ringan atau berat.

Para wali siswa menjawab bahwa gelas tersebut ringan. Namun, Ustadz Naruto memberikan pertanyaan lanjutan, bagaimana jika gelas itu terus diangkat dalam waktu yang lama?

“Tangan akan mulai terasa lelah dan gelas tersebut terasa semakin berat,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi gambaran dalam kehidupan. Persoalan yang awalnya ringan dapat terasa semakin berat apabila terus dipikirkan tanpa henti.

“Gelas yang sangat ringan ini jika kita angkat dengan waktu yang lama maka akan terasa berat. Apalagi masalah yang awalnya ringan, tetapi kita pikirkan terus, maka akan terasa berat,” ujarnya.

Ia menegaskan, sering kali bukan persoalannya yang semakin besar, melainkan pikiran manusia yang terus membawa dan membebani dirinya sendiri.

“Yang membuat masalah berat adalah kita pikirkan sendiri,” ungkapnya.

Allah Tidak Membebani di Luar Kemampuan

Dalam kajiannya, Ustadz Naruto juga mengingatkan peserta pada firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 286:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Menurutnya, ayat tersebut mengajarkan bahwa Allah tidak memberikan beban di luar kemampuan manusia. Ia mencontohkan kemudahan dalam pelaksanaan ibadah ketika seseorang memiliki keterbatasan.

“Jika kita tidak bisa shalat sambil berdiri, bisa sambil duduk. Jika tidak bisa duduk, bisa dengan berbaring,” jelasnya.

Karena itu, ketika menghadapi persoalan kehidupan, manusia perlu meyakini bahwa Allah mengetahui kemampuan setiap hamba-Nya.

Tidak Perlu Takut terhadap Hal yang Belum Terjadi

Ustadz Naruto juga mengingatkan peserta agar tidak menghabiskan energi untuk mencemaskan sesuatu yang belum tentu terjadi.

Ia menyinggung berbagai prediksi dan kekhawatiran yang pernah muncul di tengah masyarakat, termasuk isu tentang kiamat yang disebut akan terjadi pada 2012. Tahun tersebut telah berlalu, sementara kehidupan terus berjalan.

Begitu pula pandemi Covid-19 yang mulai menjadi persoalan besar pada 2020. Menurutnya, banyak hal dalam kehidupan yang sebelumnya tidak dapat diprediksi secara pasti oleh manusia.

Dari berbagai peristiwa tersebut, ia mengajak para wali siswa menyadari keterbatasan manusia dalam mengetahui masa depan.

“Maka dari itu, yang dapat dilakukan adalah berikhtiar sebaik mungkin, berdoa, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah,” tuturnya.

Tidak Semua Keinginan Adalah yang Terbaik

Menurut Ustadz Naruto, salah satu sumber overthinking adalah keinginan agar kenyataan selalu berjalan sesuai dengan harapan.

Padahal, sesuatu yang dianggap baik oleh manusia belum tentu menjadi yang terbaik menurut Allah. Hal tersebut juga berlaku dalam mendidik anak.

Orang tua mungkin memiliki harapan agar anak memperoleh prestasi tertentu, menjadi hafiz, memiliki pekerjaan tertentu, atau mencapai target yang telah ditetapkan. Namun, setiap anak memiliki potensi dan jalan hidup masing-masing.

“Menjadi hafiz itu baik, tetapi tidak semua ditakdirkan menjadi hafiz. Jangan memaksakan anak, nanti membuat kita stres sendiri,” ujarnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Ia mengingatkan bahwa orang tua tetap boleh memiliki harapan, tetapi perlu memahami bahwa realitas kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan bayangan manusia.

“Orang tua perlu belajar membedakan antara membimbing anak dan memaksakan keinginan kepada anak,” tegasnya.

Tiga Hal yang Memicu Overthinking

Dalam kajian tersebut, Ustadz Naruto menyebutkan tiga hal yang dapat membuat seseorang terjebak dalam overthinking.

Pertama, mengharapkan kenyataan selalu sesuai dengan keinginan. Manusia cenderung merasa tenang ketika segala sesuatu berjalan sesuai rencana. Sebaliknya, ketika kenyataan berbeda, rasa kecewa dan khawatir dapat muncul.

Kedua, ingin semuanya cepat selesai. Keinginan untuk segera melihat hasil sering membuat seseorang tidak sabar menjalani proses. Padahal, pertumbuhan anak, pendidikan, pembentukan karakter, hingga kesuksesan membutuhkan waktu.

Ketiga, menganggap keberhasilan sepenuhnya berasal dari kemampuan diri sendiri. Ustadz Naruto mengingatkan bahwa kemampuan manusia merupakan bagian dari ikhtiar, sedangkan hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah.

“Anak pintar bukan karena kita, tetapi karena Allah rida,” pesannya.

Jangan Membandingkan Anak

Pesan lainnya adalah agar orang tua tidak membandingkan anak dengan anak orang lain. Setiap anak memiliki waktu tumbuh dan kemampuan yang berbeda.

“Setiap anak memiliki waktu tumbuh yang berbeda. Ada yang cepat dalam satu bidang, tetapi membutuhkan waktu lebih panjang dalam bidang lainnya,” paparnya.

Menurutnya, kebiasaan membandingkan anak dapat membuat orang tua semakin cemas dan membuat anak merasa tidak cukup baik. Karena itu, orang tua perlu fokus pada perkembangan anak masing-masing serta mensyukuri setiap kemajuan yang diperoleh.

Anak sebagai Investasi Dunia dan Akhirat

Ustadz Naruto juga mengajak orang tua mengubah cara pandang terhadap anak. Anak bukan sekadar tanggung jawab yang membutuhkan biaya, tenaga, dan waktu, tetapi juga investasi dunia dan akhirat.

Pendidikan, makanan, pakaian, kesehatan, waktu bermain, perhatian, hingga biaya sekolah hendaknya tidak hanya dipandang sebagai pengeluaran.

“Kalau kita mengeluarkan uang untuk anak, itu adalah investasi. Anak ini yang akan membawa kita ke surga,” ungkapnya.

Karena itu, orang tua perlu memberikan perhatian bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga melalui kasih sayang, pendampingan, dan kehadiran secara emosional dan spiritual.

Kedekatan antara orang tua dan anak menjadi bagian penting dalam proses pengasuhan. Anak membutuhkan figur orang tua yang mau hadir, mendengarkan, memberikan perhatian, dan menjadi tempat bercerita.

Tiga “Obat” Overthinking

Sebagai penutup, Ustadz Naruto menyampaikan tiga sikap yang dapat menjadi “obat” untuk menghadapi overthinking, yakni ridha, sabar, dan tawakal.

Pertama, ridha terhadap apa yang terjadi. Ridha bukan berarti berhenti berusaha, tetapi menerima bahwa segala sesuatu terjadi dalam pengetahuan dan ketetapan Allah.

Kedua, sabar dalam berproses. Orang tua perlu bersabar dalam mendampingi anak, baik ketika belajar, membangun kebiasaan baik, beribadah, maupun membentuk karakter.

“Jangan hanya mengejar hasil, tetapi nikmati proses tumbuh bersama anak,” pesannya.

Ketiga, bertawakal kepada Allah. Setelah melakukan ikhtiar terbaik, manusia perlu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Dengan memahami ketiga sikap tersebut, para wali siswa diajak untuk mengurangi kekhawatiran berlebihan dan menjalani proses pengasuhan dengan lebih tenang, penuh doa, serta kepercayaan kepada ketetapan Allah. (*)

Revisi Oleh:
  • Amanat Solikah - 30/09/2026 18:26
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu