Haji Abdul Hakam Karim Amrullah (Hamka) dan Mohammad Natsir bersahabat, sangat lama. Keduanya, berasal dari Sumatera Barat. Hamka dari Maninjau – Agam, Natsir dari Alahan Panjang – Solok. Mereka lahir di tahun yang sama, 1908. Hamka lebih tua beberapa bulan.
Di antara yang menarik dari mereka, saat menggunakan puisi sebagai media perjuangan. Hamka yang memulai, menulis puisi untuk menguatkan jiwa Natsir dalam memperjuangkan Islam di tingkat negara.
Natsir membalasnya, dengan nada serupa. Seperti apa puisi-puisi kedua Pahlawan Nasional itu?
Saling Menghormati
Terkait persahabatannya dengan Natsir, Hamka pernah menulis bahwa hubungan keduanya bermula di tahun awal kepulangan dia dari Mekkah.
Hingga, pada tahun 1929. Kala itu Hamka tinggal di Padang Panjang dan memimpin cabang Muhammadiyah setempat.
Ketika itu pula Hamka suka membaca artikel-artikel Natsir di majalah Pembela Islam, yang dilangganinya. Dia menemukan kecocokan dalam beberapa pandangan dengan Natsir.
Sementara, pertemuan secara langsung baru terjadi pada Desember 1931. Saat itu, Hamka berkunjung ke Bandung. Di kota yang disebut terakhir ini, Natsir bersekolah (https://ibtimes.id 5 Februari 2020).
Kembali ke hal pandangan Hamka atas tulisan-tulisan Natsir. “Artikel-artikel dari M. Natsir di dalam majalah Pembela Islam itu sangat menarik hati saya. Saya pun seorang pengarang. Tetapi saya mengakui bahwa karangan Natsir memberi saya bahan untuk hidup, sehingga saking tertariknya saya kepada tulisan-tulisannya itu, saya pun mencoba mengirim karangan kepada Pembela Islam. Karangan saya disambut baik dan dimuat dalam Pembela Islam,” demikian kenangan Hamka.
Sebaliknya, Natsir juga menyukai tulisan Hamka dan mengapresiasi perannya saat memimpin Majalah Pedoman Masyarakat pada tahun 1936 (dalam usia baru 28 tahun). Majalah itu begitu sukses, oplahnya tiap terbit mencapai 4000 eksemplar, sebuah angka pencapaian yang sulit diraih pada masa itu.
Pedoman Masyarakat memuat tulisan beragam tokoh. Dari Islam, ada tokoh seperti Agus Salim. Dari nasionalis, ada tokoh seperti Soekarno. Sementara, Natsir turut menjadi penulis dan pembaca Pedoman Masyarakat.
Menurut Natsir, tidak salah kalau dikatakan, umat Islam di seluruh Indonesia memandang Medan (tempat terbitnya Pedoman Masyarakat) sebagai pusat yang memancarkan ruh dan pemikiran Islam saat itu.
Bahkan menurutnya, “Di dalamnya banyak sekali disajikan karangan-karangan yang sangat berharga. Kalau pemuda-pemudi kita sekarang ini membacanya, akan tetap merasakan aktualitasnya dan akan tetap diperlukan bagi masa depan (https://jejakislam.net/natsir-hamka-sahabat-hingga-akhir-hayat/).
Banyak hal lain yang sama dari keduanya. Misalnya, sama-sama pernah berjuang untuk kemerdekaan negeri ini (belakangan, keduanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional). Mereka, terampil menulis dan cakap jika berbicara. Juga, sama-sama suka puisi.
Hamka dan Puisi
Hamka multitalenta dan punya banyak peran. Antara lain, dia adalah ulama, pendidik, aktivis, penulis, dan sastrawan. Dia salah satu sastrawan yang banyak berkontribusi untuk bangsa. Hamka aktif dalam penulisan karya sastra.
Karya-karya Hamka banyak dikenal masyarakat, antara lain novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah.
Selain menulis novel, Hamka juga menulis banyak puisi. Puisi-puisi Hamka di antaranya berjudul Nikmat Hidup, Hanya Hati, Hati Sanubari, Roda Pedati, dan Biar Mati Badanku Kini. Puisi-puisi tersebut bertemakan religius. Misalnya, Hamka banyak menggambarkan kebesaran Allah dan ungkapan syukur.
Puisi Hanya Hati karya Hamka menggambarkan seorang pemuda sederhana yang jatuh cinta. Pemuda itu tidak menawarkan kekayaan. Dia hanya menggambarkan hatinya yang tulus (https://bhsindonesia.umm.ac.id/hamka-dan-puisinya/).
Berikut ini, sebait petikan dari puisi Hamka yang berjudul Hanya Hati: Kekayaanku hanya satu, Dik// Hati// hati yang luas tak bertepi// cinta yang dalam tak terajuk// (https://www.narakata.id/Juni 2023).
Natsir dan Puisi
Pada 1927, di usia 19 tahun, Natsir merantau ke Bandung. Dia bersekolah di AMS (A-II). Ini, satu-satunya sekolah menengah di waktu itu yang memberi pelajaran bahasa Latin dan dan kebudayaan Yunani.
Pada akhir tahun pelajaran, ada lomba deklamasi berbahasa Belanda. Deklamasi adalah pembacaan atau penyajian puisi yang di samping melibatkan ekspresi jiwa juga dilengkapi dengan ungkapan bahasa tubuh yang sesuai. Di lomba itu Natsir turut menjadi peserta.
Dia membaca puisi berjudul ”De Bandjir” karya Multatuli. Untuk lomba itu, Natsir mempersiapkan diri secara serius. Dia tekun berlatih. Termasuk sampai dibantu oleh Bachtiar Effendi, kerabat Natsir yang juga bersekolah di Bandung dan bahasa Belanda-nya lebih baik daripada Natsir (Hakim, 2019: 16).
Di saat pelaksanaan lomba, Natsir tampil penuh percaya diri. Selesai membaca, dia mendapat apresiasi dari penonton lewat tepuk tangan yang gemuruh. Hasilnya, dia terpilih sebagai juara pertama.
Natsir bersyukur, bukan hanya karena terpilih sebagai pemenang. Dia bersyukur, karena sejatinya sejak awal Natsir ikut lomba punya tujuan untuk menunjukkan bahwa siswa asal MULO Padang (asal dia), juga cakap berbahasa Belanda.
Niat ini muncul, karena sebelumnya, salah seorang guru dari Natsir pernah mengejek MULO Padang karena menilai kemampuan bahasa Belanda dari murid-murid yang berasal dari sana tidak baik.
Di Tengah Perjuangan
Persahabatan Hamka dan Natsir terjalin erat berdasarkan kecintaan kepada agama dan negara. Sementara, dalam perjuangan politik, Natsir dan Hamka aktif di Partai Masyumi. Keduanya adalah tokoh penting di partai Islam itu.
Hamka dan Natsir berjuang bersama di Masyumi. Mereka punya harapan untuk mewujudkan cita-cita Islam di Indonesia. Keduanya, saling mendukung satu sama lain, terutama di masa-masa kelam politik.
Di Indonesia, pada tahun 1957, suhu politik memanas. Di Kota Bandung, berlangsung sidang konstituante. Salah satu agenda sidang adalah menentukan dasar negara.
Kekuatan-kekuatan besar saling mengadu pikiran.
Di satu sisi ada blok Islam yang diwakili Partai Masyumi, NU, Perti, dan beberapa golongan lain. Berhadap-hadapan, di sisi lain, blok yang mengusung nasionalisme atau komunisme seperti PNI, PKI, dan golongan-gologan lain.
Api Puisi
Natsir dan Hamka tampil ke muka. Berjuang untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara. Di sini, ada satu kejadian unik dan diingat Natsir saat itu.
Ketika itu Natsir sedang menyampaikan pikirannya di podium Konstituante. Temanya, ”Dasar-Dasar Hidup Bernegara” yang mengedepankan Islam. Di hadapannya hadir golongan Islam, Nasionalis, Komunis, Katolik, Protestan, dan lainnya.
Hal menarik, kala itu Hamka tekun menggoreskan penanya. Lalu, jadilah puisi karyanya, pada 13 November 1957 itu. Karya itu, lahir setelah menyaksikan perjuangan Natsir di Konstituante dalam memperjuangkan Islam agar menjadi sandaran dalam mengengelola Indonesia. Pidato Natsir juga mengurai kelemahan sistem kehidupan buatan manusia dan dengan tegas menawarkan kepada Sidang Konstituante agar menjadikan Islam sebagai dasar Negara RI.
Setelah Natsir turun dari podium, Hamka menyisipkan secarik puisi itu ke dalam saku Natsir. Isinya menggugah. Berikut, puisi tersebut:
Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar
Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada Nusa
Jibril berdiri di sebelah kananmu
Mikail berdiri di sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suka dan duka kita hadapi
Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu
Ke mana lagi Natsir, ke mana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut Ridha Ilahi
Dan, aku pun masukkan
Dalam daftarmu …”
Ruh Puisi
Suasana negeri makin kalut. Presiden Sukarno memosisikan dirinya sebagai pemimpin besar revolusi, di bawah bingkai Demokrasi Terpimpin. Pihak Komunis memanfaatkan situasi itu.
Hamka menyaksikan rezim Sukarno inkonstitusional dan tidak demokratis, sebab kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif berada dalam satu genggamannya. Front Nasional menjadi alat pelaksanaannya.
Maka pada Sidang Konstituante 1959, Hamka mengkritiknya dengan lantang, “Trias politica sudah kabur di Indonesia. Demokrasi Terpimpin adalah totaliterisme. Front Nasional adalah partai negara” (https://hidayatullah.com 17 Februari 2017).
Kritik Hamka didengar Natsir yang kala itu menyingkir dan bergabung dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Sikap ini, sebagai aksi untuk mengoreksi rezim Sukarno. Dalam perlawanannya di Sumatera Barat, 1959, Natsir mendengar suara lantang Hamka itu.
Pada malamnya, 23 Mei 1959, Natsir menjawab Hamka dengan sebuah puisi yang disiarkan oleh radio PRRI, bunyinya sebagai berikut:
Daftar
Saudaraku Hamka
Lama, suara tak kudengar lagi
Lama …
Kadang-kadang,
di tengah-tengah sipongang mortir dan mitraleur,
dentuman bom meriam sahut–menyahut,
kudengar tingkahan irama sajakmu itu
Yang pernah kau hadiahkan kepadaku
Entahlah, tak kunjung namamu bertemu di dalam “Daftar”
Tiba-tiba,
di tengah-tengah gemuruh ancaman dan gertakan
Rayuan umbuk dan umbai silih berganti
Melantang menyambar api kalimah haq dari mulutmu
Yang biasa besenandung itu
Seakan tak terhiraukan olehmu bahaya mengancam
Pancangkan!
Pancangkan olehmu wahai Bilal!
Pancangkan panji-panji Kalimat Tauhid,
walaukarihal kafirun!
Berjuta kawan sepaham bersiap masuk
ke dalam “Daftarmu”
Saudaramu, …… 23-5-1959
Media Kuat
Dua puisi di atas, dari Hamka dan Natsir yang keduanya adalah Pahlawan Nasional, menyemangati semua yang membacanya. Menyemangati, dulu, di sekitar waktu kejadian. Menyemangati, kapanpun, saat puisi-puisi itu kita baca.
Tentu saja, saat di masa perjuangan kala itu, puisi Hamka pasti menggugah Natsir. Puisi Natsir, sama, tak akan pernah bisa dilupakan Hamka. Alhamdulillah!
Intinya, semua peluang yang dapat dijadikan sebagai media perjuangan tak boleh ragu untuk kita gunakan. Puisi, misalnya, termasuk jitu jika dipakai untuk menaikkan semangat mencapai tujuan yang mulia.
Maka, jadilah Hamka atau Natsir yang pernah menjadikan puisi sebagai media perjuangan yang baik.





0 Tanggapan
Empty Comments