
Oleh: Bening Satria Prawita Diharja – Guru PJOK SMP Muhammadiyah 1 Gresik
PWMU.CO – Futsal merupakan olahraga yang semakin digemari di kalangan pelajar di seluruh Indonesia. Bahkan, ekstrakurikuler futsal menjadi salah satu yang paling favorit di sekolah-sekolah dan tercatat memiliki lebih banyak peminat dibandingkan ekstrakurikuler olahraga lainnya seperti basket, voli, catur, pencak silat, dan panahan.
Sekolah bahkan menerapkan ekstrakurikuler futsal sebagai wadah untuk mengembangkan bakat dan minat peserta didik. Selain itu, kegiatan ini juga dimanfaatkan oleh guru untuk mengembangkan nilai-nilai karakter, sportivitas, dan fair play dalam olahraga.
Namun, sebuah insiden dalam turnamen futsal antarsekolah dasar se-Kota Surabaya yang berlangsung pada Minggu (27/4/2025) lalu menjadi viral. Kejadian tersebut bermula dari adanya tindakan kekerasan yang dilakukan oleh official sekaligus pelatih tim futsal SD Simolawang terhadap salah satu pemain MI Al Hidayah yang masih duduk di bangku kelas lima. Meskipun insiden tersebut telah diselesaikan secara damai, korban mengalami trauma secara fisik maupun mental, sementara guru yang bersangkutan menerima sanksi.
Penulis yang juga guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) serta pelatih ekstrakurikuler futsal SMP turut prihatin dan menyesalkan kejadian itu. Hal tersebut tentunya sangat bertentangan dengan program pemerintah yang diluncurkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengenai pendidikan jasmani dan 7 kebiasaan anak Indonesia hebat, khususnya dalam hal bermasyarakat. Selain itu, hal ini juga tidak sejalan dengan pengamalan Profil Pelajar Pancasila yang mencakup dimensi karakter berakhlak mulia.
Pelajaran PJOK di sekolah tidak hanya mengajarkan pengetahuan dan keterampilan melalui aktivitas fisik, tetapi juga menekankan pada pembentukan sikap disiplin, jujur, sportif, mampu mengakui keunggulan lawan, serta siap menerima kekalahan. Nilai-nilai tersebut merupakan tujuan utama dari proses pendidikan melalui aktivitas jasmani.
Agar kekerasan dalam olahraga tidak terulang kembali, guru PJOK perlu melakukan analisis terhadap permasalahan yang ada serta mengevaluasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan materi pelajaran yang tercantum dalam Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), Capaian Pembelajaran (CP), dan Tujuan Pembelajaran (TP) pada Fase D Kurikulum Merdeka. Evaluasi ini penting agar pembelajaran tetap relevan dengan perkembangan jasmani dan rohani peserta didik saat ini, yang mayoritas berasal dari generasi Z. Relevansi tersebut mencakup beberapa aspek, seperti:
1. Aspek Respect (menghormati)
Karakter respect dalam pendidikan jasmani di sekolah pada umumnya masih kurang baik. Siswa seringkali tidak menghormati lawan bermain, bahkan kadang membentak saat terjadi perselisihan. Selain itu, siswa juga belum menunjukkan sikap respect saat menang dan menerima kekalahan dengan lapang dada.
Fenomena yang terjadi pada turnamen futsal di atas menunjukkan adanya selebrasi yang berlebihan dalam menyikapi kemenangan di depan lawan. Seharusnya semua official, pelatih, hingga panitia mampu menyikapi dan memahami bahwa pembinaan olahraga pada usia dini berada pada fase bermain – belajar – bermain.
Pada fase ini, penekanan bukan terletak pada prestasi atau kemenangan dalam sebuah kejuaraan, melainkan pada proses pembelajaran keterampilan olahraga yang dikombinasikan dengan penguatan karakter dan nilai-nilai sebagai seorang olahragawan, seperti sportivitas dan fair play. Karakter respect dapat dibudayakan dengan memberi ucapan selamat kepada kelompok yang menang dan memberikan dukungan atau semangat kepada kelompok yang kalah
2. Aspek Peduli
Nilai-nilai karakter kepedulian dalam pendidikan jasmani perlahan mulai memudar. Sikap empati terhadap kondisi lawan sudah semakin jarang terlihat. Sebagian besar pelatih dan siswa peserta turnamen futsal saat ini lebih mementingkan kemenangan dan gengsi menjadi juara, sehingga mengabaikan sikap peduli terhadap lawan serta lingkungan sekitar.
Dengan memiliki sikap peduli, kita dapat mengelola emosi yang memuncak akibat tingginya tensi pertandingan, sehingga mampu bertindak dan berpikir dengan lebih bijaksana. Tak dapat dipungkiri, tensi tinggi dalam pertandingan kerap memengaruhi perilaku para pelaku di dalamnya, termasuk pelatih. Namun, dengan kemampuan manajemen diri yang baik, fenomena kekerasan yang dilakukan oleh pelatih dapat dihindari.
3. Aspek Beradab
Nilai-nilai karakter beradab dalam pendidikan jasmani yang selama ini sudah baik, perlahan mulai terkikis oleh pengaruh budaya Barat yang masuk ke dalam sistem pendidikan. Padahal, guru PJOK atau pelatih futsal memiliki waktu dan kedekatan yang cukup dengan siswa. Seharusnya momen tersebut dimanfaatkan untuk menanamkan dan menekankan pentingnya sikap beradab dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai pelajar dan pembina, menjunjung tinggi sikap beradab merupakan kewajiban, terutama saat berinteraksi di tengah masyarakat.
Guru atau pelatih yang terlibat dalam pembinaan olahraga sebaiknya memiliki lisensi kepelatihan atau minimal pernah mengikuti kursus pelatih tingkat dasar di bidang pembinaan olahraga. Dalam kegiatan tersebut, para instruktur akan membagikan pengetahuan terbaru mengenai berbagai komponen dalam dunia olahraga. Dengan demikian, seiring berkembangnya olahraga, pelatih dan official diharapkan memiliki tanggung jawab serta komitmen dalam mengajarkan nilai-nilai sportivitas dengan berpegang teguh pada kode etik yang berlaku, seperti yang tercantum dalam Positive Coaching Alliance (PCA)
PCA merupakan suatu petunjuk bagaimana pelatih dapat mengajar afektif yang menekankan pada pengembangan aspek rasa hormat dan tanggung jawab.
Rencana pengajaran yang baik untuk menanamkan sikap hormat kepada peserta didik adalah dengan selalu waspada, menghargai setiap perilaku siswa, serta memberikan koreksi secara cepat dan tepat. Pendekatan ini harus diterapkan secara adil kepada seluruh siswa, bukan hanya kepada siswa tertentu.
PCA bertujuan untuk membentuk atlet yang lebih baik sekaligus pribadi yang lebih baik, melalui pengalaman olahraga yang membangun karakter, baik bagi anak-anak maupun pelatih. Dari fenomena yang terjadi, kita dapat mengambil pelajaran dan pengalaman berharga untuk diterapkan di sekolah masing-masing, dengan menyesuaikan pendekatannya pada karakter siswa yang dimiliki. (*)
Editor Ni’matul Faizah






0 Tanggapan
Empty Comments