PWMU.CO – Heningnya masjid saat takbir bergema, sujud yang damai, dan bacaan imam yang syahdu adalah nikmat yang tidak tergantikan. Jangan biarkan satu dering HP merusak sakralitas ibadah itu.
Karena itu, marilah kita jadikan kebiasaan mematikan suara HP sebelum shalat sebagai bagian dari adab seorang mukmin. Ketenangan sesaat bisa menjadi ladang pahala yang abadi.
Shalat adalah tiang agama dan sarana utama seorang hamba untuk bermunajat kepada Allah Swt. Dalam shalat terkandung makna kepasrahan, ketundukan, dan penyucian jiwa.
Karena itu, menjaga kekhusyukan dalam shalat merupakan bagian dari adab yang mulia. Allah Swt berfirman “Beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya (QS. Al-Mu’minun : 1–2)
Shalat merupakan puncak komunikasi antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Di dalamnya tercurah ketundukan, penghambaan, dan pengakuan akan kelemahan di hadapan Allah Swt.
Maka menjaga kekhusyukan dalam shalat bukan sekadar tuntutan ibadah, melainkan bagian dari adab mulia seorang muslim.
Kekhusyukan itu mencakup perhatian penuh terhadap gerakan, bacaan, dan suasana hati saat shalat. Namun, betapa sering kekhusyukan itu terganggu oleh hal-hal duniawi yang tak semestinya hadir di ruang ibadah, salah satunya suara dering HP yang tiba-tiba berbunyi di tengah keheningan shalat.
Rasulullah Saw bersabda “Sesungguhnya shalat ini tidak patut di dalamnya terdapat perkataan manusia, sesungguhnya shalat hanyalah tasbih, takbir, dan bacaan Al-Qur’an (HR. Muslim)
Karenanya, mematikan atau membisukan HP sebelum memulai shalat adalah bentuk tanggung jawab.
Bila HP berbunyi saat shalat, dan kita berusaha membisukannya dengan gerakan ringan tanpa mengganggu rukun shalat, maka hal itu diperbolehkan.
Ulama sepakat bahwa gerakan ringan yang dilakukan untuk menjaga kesempurnaan ibadah tidak membatalkan shalat.
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim, bahwa gerakan kecil untuk suatu kebutuhan seperti membunuh kalajengking, meluruskan shaf, atau membisukan HP di zaman sekarang termasuk perkara yang dibolehkan dalam shalat jika tidak berlebihan.
Maka dari itu, mari kita jadikan momen shalat sebagai waktu terbaik untuk kembali kepada Allah dengan seluruh kesungguhan jiwa.
Jangan biarkan dering HP merusak keheningan sujud dan menggugurkan nilai khusyuk yang begitu agung.
Sebelum mengangkat takbiratul ihram, pastikan HP sudah dalam mode senyap. Satu detik persiapan bisa menjaga kekhusyukan jamaah dan mendatangkan keberkahan dalam ibadah kita.
Shalat adalah istirahat bagi hati yang lelah dan penguat jiwa yang resah. Jagalah kekhusyukannya sebagaimana engkau menjaga ketenangan dalam pelukan malam. Khusyuk itu bukan soal sunyi ruangan, tapi tentang sunyi hati dari hiruk-pikuk dunia. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments