Korps IMMawati Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sidoarjo menggelar kegiatan Screen & Talk: Nobar & Bedah Film Kartini (2017) pada Ahad (26/4/2026) di Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa dan kader IMM ini merupakan bagian dari peringatan Hari Kartini, dengan tujuan mengkaji ulang pemikiran Kartini secara kritis di tengah kuatnya narasi simbolik yang berkembang di masyarakat.
Berbeda dari perayaan yang identik dengan kebaya dan seremoni, kegiatan ini dirancang sebagai ruang refleksi dan diskusi terbuka melalui pemutaran film yang dilanjutkan dengan bedah kritis bersama pemateri.
Mengangkat tema “Suara Balik Layar: Menghidupkan Kembali Gagasan Kartini di Ruang Publik”, IMMawati Sidoarjo menghadirkan Nur Fairuz Faizatul M., M.Pd., Ketua Bidang IMMawati DPD IMM Jawa Timur, sebagai pemateri.
Refleksi Perjuangan Kartini
Dalam pemaparannya, Fairuz menegaskan bahwa Kartini yang selama ini dipopulerkan cenderung telah “dijinakkan” ditampilkan sebagai simbol yang nyaman, bukan sebagai pemikir yang menggugat.
“Kartini yang kita rayakan hari ini sering kali adalah Kartini yang sudah disederhanakan. Padahal dalam surat-suratnya, ia jauh lebih kritis, bahkan radikal untuk zamannya,” ungkapnya.
Diskusi kemudian bergerak ke realitas hari ini. Jika dahulu Kartini menghadapi pingitan fisik, perempuan modern justru menghadapi bentuk pembatasan yang lebih halus, yang sering kali tidak disadari, seperti stereotip gender, standar sosial, hingga tuntutan untuk memenuhi berbagai peran secara bersamaan.
Selain itu, IMMawati Sidoarjo juga menyoroti perbedaan antara akses dan kuasa. Perempuan saat ini dinilai telah memiliki akses terhadap pendidikan dan ruang publik, namun belum sepenuhnya memiliki posisi yang setara dalam pengambilan keputusan.
“Kalau sistemnya masih timpang, maka ‘berdaya’ bisa saja hanya berarti beradaptasi dengan ketidakadilan, bukan mengubahnya,” tegas Fairuz.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang diikuti secara aktif oleh peserta. Diskusi menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus refleksi kritis terkait dinamika menjadi perempuan di lingkungan kampus dan organisasi.
Melalui kegiatan ini, IMMawati Sidoarjo menegaskan komitmennya untuk menghidupkan kembali gagasan Kartini secara lebih substantif, tidak hanya sebagai simbol, tetapi sebagai dorongan untuk berpikir kritis, berani bersuara, dan membangun kesadaran kolektif.
Sebagaimana disampaikan dalam penutup kegiatan.
“Kartini tidak pernah hilang. Ia hanya sering kita buat lebih sederhana dari yang seharusnya,” tutupnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments