Langit tak selalu bisa kita andalkan. Hujan yang biasanya datang pada waktunya, kini semakin sulit ditebak. Di sejumlah tempat, tanah mengering. Sumur menyusut. Petani menunggu dengan cemas. Air bersih menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.
Krisis iklim bukan lagi sekadar istilah dalam laporan para ilmuwan. Krisis iklim telah memasuki kehidupan sehari-hari. Mengetuk pintu rumah. Mengusik dapur. Mengancam sawah dan sumber penghidupan.
Di hadapan keadaan seperti itu, manusia kembali menyadari keterbatasannya. Kita bisa membangun bendungan. Mengembangkan teknologi pengolahan air. Menghitung curah hujan dengan perangkat canggih.
Namun, ada saatnya semua kemampuan itu terasa belum cukup untuk menjawab kegelisahan manusia. Lalu kita menengadahkan tangan.
Salat istisqa menjadi salah satu ikhtiar spiritual ketika kemarau berkepanjangan. Umat berkumpul di tanah lapang. Saf dirapatkan. Kepala ditundukkan.
Doa dipanjatkan dengan harapan yang sama: semoga Allah menurunkan hujan dan menghidupkan kembali bumi yang mengering.
Pemandangan itu menyimpan pelajaran yang dalam. Di hadapan Allah, kita datang dengan segala keterbatasan. Tak ada yang bisa memastikan kapan hujan akan turun.
Tak ada yang mampu mengatur awan sesuka hati. Kita hanya bisa berikhtiar, berdoa, dan berharap kepada-Nya.
Namun, ada hal lain yang tak kalah penting. Ketika menghadapi kesulitan, kita ternyata tidak harus menghadapinya sendirian. Ketika doa menjadi milik bersama
Ada perbedaan antara berdoa sendirian dan berkumpul untuk berdoa bersama-sama. Bukan soal mana yang lebih didengar Allah. Allah Maha Mendengar, bahkan suara yang tak sanggup keluar dari bibir manusia.
Yang berbeda adalah pengalaman batin dan tanggung jawab sosial yang tumbuh di dalamnya.
Ketika berdiri di antara banyak orang, kita menyadari bahwa kegelisahan kita bukan milik kita sendiri.
Ada petani yang menunggu hujan. Ada keluarga yang kesulitan mendapatkan air bersih. Ada anak-anak yang masa depannya bergantung pada lingkungan yang kita wariskan.
Mereka membawa kecemasan masing-masing. Tetapi di tanah lapang itu, kecemasan tersebut bertemu dalam satu permohonan.






0 Tanggapan
Empty Comments