Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Ketika Kemarau Mengajak Kita Merapatkan Saf

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Ketika Kemarau Mengajak Kita Merapatkan Saf
Foto: AP Photo
BANNER RSI AISYIYAH MALANG

Krisis lingkungan tidak cukup dipandang sebagai bencana yang datang dari luar kehidupan kita. Kita juga perlu memeriksa perilaku, kebijakan, dan cara kita memperlakukan alam.

Karena itu, gerakan salat istiska akan memiliki makna yang lebih luas jika diikuti kesediaan untuk berubah. Menghemat air. Menjaga sumber mata air. Mengurangi pencemaran. Memulihkan lingkungan. Membantu warga yang kesulitan memperoleh kebutuhan dasar.

Doa dan tindakan tidak perlu dipertentangkan. Keduanya justru harus berjalan beriringan. Kita membutuhkan satu sama lain

Krisis sering kali membuka mata kita terhadap sesuatu yang selama ini luput dari perhatian: betapa rapuhnya kehidupan, dan betapa besar ketergantungan kita kepada orang lain.

Ketika air tersedia, kita mungkin tidak banyak memikirkannya. Ketika hujan turun, kita menganggapnya sebagai bagian biasa dari kehidupan.

Kita lupa bahwa di balik segelas air ada siklus alam yang panjang, ada tanah yang menyimpan air, ada hutan yang menjaga keseimbangan, dan ada begitu banyak kehidupan yang saling terhubung. Begitu air berkurang, semuanya terasa berbeda.

Kita mulai memahami bahwa kehidupan tidak bisa dibangun dengan sikap merasa cukup pada diri sendiri. Kita membutuhkan petani.

Kita membutuhkan orang-orang yang menjaga lingkungan. Kita membutuhkan tetangga yang bersedia berbagi. Kita membutuhkan masyarakat yang mau bekerja sama.

Dan kita membutuhkan Allah, yang kepada-Nya kita menggantungkan harapan, tanpa meninggalkan ikhtiar yang menjadi tanggung jawab kita.

Dalam keadaan normal, kebersamaan kadang terasa biasa. Kita bisa menjalani hari-hari tanpa banyak memikirkan bantuan orang lain. Tetapi ketika krisis datang, kehadiran sesama menjadi begitu berharga.

Satu keluarga yang bersedia berbagi air. Satu komunitas yang mengumpulkan bantuan. Satu masjid yang menggerakkan jamaah untuk menolong warga terdampak kekeringan.

Tindakan-tindakan itu mungkin terlihat kecil. Namun, bagi orang yang sedang kesulitan, pertolongan kecil bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Di situlah agama menemukan wajah sosialnya. Kesalehan tidak hanya tampak ketika seseorang berdiri dalam salat atau menengadahkan tangan dalam doa.

Kesalehan juga tampak ketika ia bersedia meringankan beban orang lain. Setelah tangan diturunkan

Ada satu pertanyaan yang layak kita bawa pulang setelah salat istiska selesai. Apa yang berubah dalam diri kita?

***

Kita telah memohon kepada Allah agar menurunkan hujan. Kita telah mengakui keterbatasan manusia. Kita telah menyatukan harapan dalam doa bersama.

Tetapi setelah tangan diturunkan, apakah kita kembali menjalani kehidupan seperti biasa?

Apakah kita masih menggunakan air tanpa pertimbangan? Membiarkan lingkungan rusak? Menutup mata ketika tetangga kesulitan? Menganggap krisis iklim sebagai urusan pemerintah, para ilmuwan, atau orang lain?

Jangan-jangan, kita rajin memohon pertolongan Allah, tetapi belum sungguh-sungguh memperbaiki apa yang menjadi tanggung jawab kita.

Ini bukan soal mempertentangkan doa dengan tindakan. Ini soal memahami bahwa doa seharusnya menggerakkan hati. Hati yang tergerak semestinya melahirkan perilaku yang berubah.

Kita memohon hujan, lalu menjaga air. Kita memohon keselamatan, lalu berusaha mengurangi kerusakan. Kita memohon rahmat Allah, lalu belajar menjadi rahmat bagi sesama.

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 23/10/2026 10:21
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu