Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Santri Berkemajuan, Indonesia Emas Berintegritas

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Santri Berkemajuan, Indonesia Emas Berintegritas
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Taufiq Nugroho Nur, M.Pd. Ketua PRM Dorang, Cabang Jepara

Selamat Hari Santri bagi seluruh “Santri Berkemajuan” dan “Santri Nusantara”. Salam bagi santri hijau, biru, merah, dan kuning di mana pun berada.

Tema Hari Santri 2026 adalah “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Tema ini menjadi ikhtiar menyambut Indonesia Emas. Para santri membawa semangat berkemajuan, berkarakter, dan mewujudkan Indonesia makmur.

Namun, apakah tema ini sekadar jargon? Ataukah menjadi perjuangan menghadapi perubahan zaman? Zaman kini menghadirkan tantangan hedonisme, materialisme, dan sekularisme.

Mari kita telaah definisi santri menurut sejumlah tokoh. Gus Dur mendefinisikan santri melalui perspektif sosiologis-kultural. Santri bukan sekadar orang yang tinggal di pesantren.

Mereka merupakan kelompok masyarakat berpandangan hidup universal berdasarkan Islam. Mereka menjunjung nilai keislaman dan toleransi.

Muhammadiyah memaknai santri sebagai pelajar atau kader Islam. Mereka memiliki karakter berkemajuan, egaliter, kritis, dan inovatif. Mereka juga berjiwa solutif dalam menghadapi persoalan umat.

Santri dalam Perspektif Clifford Geertz

Pembahasan santri tidak lepas dari penelitian antropolog Amerika, Clifford Geertz. Dalam buku The Religion of Java, Geertz meneliti masyarakat Mojokuto.

Kota fiktif ini merujuk pada Pare, Kediri. Ia membagi masyarakat Jawa menjadi tiga varian sosial-keagamaan. Ketiganya meliputi abangan, santri, dan priyayi.

Geertz memaknai abangan sebagai kelompok penganut sinkretisme. Mereka umumnya petani pedesaan yang sering mengadakan selamatan. Sementara itu, priyayi merupakan kelompok kelas atas.

Mereka mencakup birokrat dan pegawai pemerintah. Kelompok ini berakar pada tradisi bangsawan dan etika keraton.

Geertz menggambarkan santri sebagai kelompok yang taat beragama. Mereka umumnya berasal dari komunitas pondok pesantren. Kelompok ini juga mencakup pengusaha muslim perkotaan.

Santri dan Perjuangan Membangun Bangsa

Hari Santri menjadi momentum kebangkitan generasi muda Islam. Mereka perlu menguasai ilmu agama sekaligus ilmu umum. Bekal tersebut membantu mereka menyongsong masa depan.

Bukankah Allah telah menjanjikan kemuliaan bagi orang berilmu? Allah akan mengangkat derajat orang-orang beriman dan berilmu. Kita melihat teladan tersebut melalui tokoh-tokoh bangsa. Mereka memadukan keluasan ilmu dengan pengamalan nyata.

Para tokoh santri turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kita mengenal K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy’ari. Ada pula Ki Bagus Hadikusumo dan Buya Hamka.

Tokoh lainnya meliputi K.H. Wahid Hasyim dan M. Natsir. Bung Hatta juga berperan penting pada awal kemerdekaan.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Pada masa Orde Baru, santri mengembangkan berbagai organisasi. Mereka bergabung dengan Muhammadiyah, NU, Al-Irsyad, dan Persis. Mereka juga mendirikan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Organisasi ini berdiri pada 1990.

B.J. Habibie menjadi ketua pertama ICMI. Sejumlah tokoh turut mendukung gerakan tersebut. Mereka antara lain Imaduddin Abdurrahim dan Dawam Rahardjo. Amien Rais juga termasuk tokoh pendukungnya.

Kini, santri tersebar di berbagai partai politik. Mereka hadir dalam kelompok bercorak hijau, biru, bahkan merah. Karena itu, kategorisasi Clifford Geertz tidak lagi mutlak.

Dinamika masyarakat telah melampaui pembagian tersebut.

Santri Menguatkan Negeri, Bukan Sekadar Jargon

Mewujudkan Indonesia Emas merupakan perjuangan berat. Apalagi, sejumlah fenomena justru menghadirkan keprihatinan. Sebagian santri yang seharusnya memajukan bangsa menghadapi persoalan hukum. Mereka bahkan menjadi “pasien KPK, pasien Kejaksaan”.

Fenomena ini tidak hanya melibatkan santri biasa. Beberapa tokoh agama juga terseret persoalan serupa. Kondisi tersebut tentu mengundang keprihatinan kita bersama.

Jangan sampai Hari Santri hanya menghadirkan jargon. Kita membutuhkan tindakan nyata untuk mewujudkan cita-cita bersama.

Para kader muda Islam harus menguasai ilmu agama. Mereka juga perlu memahami persoalan modern yang dihadapi umat.

Penguasaan kitab agama harus berjalan beriringan dengan kemampuan berkomunikasi. Para santri perlu menyampaikan ilmunya untuk menjawab tantangan zaman.

Mereka harus mengembangkan karakter kuat dan semangat pengabdian.

Ilmu yang hebat harus melahirkan kontribusi nyata. Karakter kuat perlu mendorong pembangunan peradaban. Semangat pengamalan harus menguatkan masyarakat dan bangsa Indonesia. Inilah harapan besar menuju Indonesia Emas.

Happy Santri Day for All! Let’s face a golden Indonesia without corruption, stupidity, and poverty.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 23/10/2026 15:07
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu