Panggung pentas seni (pensi) dalam kegiatan Lomba Pengenal Berprestasi (LPB) 3 Hizbul Wathan (HW) menjadi ruang bagi siswa MTs Muhammadiyah 1 Taman (MTs Muhita) untuk menyampaikan pesan kemanusiaan dan kepedulian lingkungan.
Melalui pertunjukan drama, mereka menyuarakan keprihatinan atas musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
Kegiatan LPB 3 HW yang diselenggarakan oleh Forum Silaturahmi Kepala Sekolah Muhammadiyah (Foskam) dan Kwartir Daerah Hizbul Wathan (Kwarda HW) Sidoarjo ini berlangsung pada Selasa–Kamis (20–22/10/2026), di Bumi Perkemahan Pondok HW, Sidodadi, Purwodadi, Pasuruan.
Penampilan siswa Muhita bukan sekadar pertunjukan untuk menghibur penonton. Drama tersebut menjadi media untuk menyampaikan rasa kecewa, keluh kesah, dan harapan agar persoalan karhutla mendapat perhatian serta penanganan yang lebih serius dari pihak berwenang.
Drama Menjadi Suara Kepedulian
Melalui alur cerita dan penghayatan peran, para siswa menggambarkan keresahan atas dampak kebakaran hutan dan lahan yang mengancam lingkungan serta kehidupan masyarakat. Bencana lingkungan tidak hanya menyisakan kerusakan alam, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan, aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kehidupan sosial warga terdampak.
Drama itu juga mengangkat kegelisahan mengenai lambatnya penanganan yang dirasakan masyarakat serta belum ditetapkannya karhutla yang mereka soroti sebagai bencana nasional. Melalui pertunjukan tersebut, siswa mengajak penonton untuk melihat bahwa persoalan lingkungan membutuhkan perhatian, langkah nyata, dan koordinasi yang kuat dari berbagai pihak.
Pesan lain yang mengemuka adalah pentingnya menempatkan keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan sebagai prioritas. Di tengah berbagai program pembangunan, penanganan bencana dan perlindungan warga terdampak tetap perlu mendapatkan perhatian serius.
Dengan bahasa panggung yang dekat dengan emosi penonton, para siswa berusaha mengubah keresahan menjadi pesan yang dapat direnungkan bersama.
Drama Bukan Hanya Tentang Akting
Pelatih drama siswa Muhita, Brilliansyah Ulfi menyampaikan bahwa,
“Menempatkan pertunjukan ini sebagai sarana pembelajaran yang melampaui kemampuan berakting. Melalui proses latihan, siswa belajar memahami persoalan sosial, membangun empati, bekerja sama, dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab,” ungkapnya.
Drama, menurut pesan yang ingin dibangun melalui penampilan ini, dapat menjadi media pendidikan karakter. Siswa tidak hanya belajar menghafal dialog dan mengekspresikan emosi, tetapi juga memahami alasan sebuah cerita perlu disampaikan serta nilai yang ingin ditanamkan kepada penonton.
Pertunjukan tersebut diharapkan menumbuhkan keberanian siswa untuk menyuarakan kepedulian terhadap persoalan masyarakat. Mereka belajar bahwa seni dapat digunakan untuk menyampaikan kritik, mengajak orang berpikir, dan menggerakkan kepedulian tanpa kehilangan sikap santun.
Ingin Pesan Kami Didengar
Salah satu pemain drama, Bintang Kadita, menjadi bagian dari upaya siswa Muhita menyampaikan pesan melalui panggung. Bagi para pemain, pertunjukan ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa pelajar juga dapat mengambil peran dalam menyuarakan persoalan kemanusiaan dan lingkungan.
Melalui karakter yang dimainkan, Bintang dan rekan-rekannya berusaha mengajak penonton membayangkan dampak bencana terhadap kehidupan masyarakat. Mereka berharap perhatian terhadap karhutla tidak berhenti pada pemberitaan atau perdebatan, tetapi dilanjutkan dengan kepedulian dan tindakan nyata.
Keikutsertaan siswa dalam drama ini juga menjadi pengalaman belajar tentang keberanian, tanggung jawab, dan pentingnya menyampaikan pendapat dengan cara kreatif.

Dari Panggung Menuju Kepedulian Nyata
Penampilan drama siswa Muhita dalam LPB 3 HW menunjukkan bahwa kegiatan kepanduan dan pentas seni dapat menjadi ruang pembelajaran sosial. Siswa didorong untuk tidak hanya mengembangkan keterampilan, tetapi juga peka terhadap persoalan di sekitarnya.
Melalui drama, mereka menyampaikan pesan bahwa alam bukan sekadar sumber daya, melainkan bagian penting dari kehidupan yang harus dijaga bersama. Ketika bencana terjadi, masyarakat membutuhkan perhatian, perlindungan, dan penanganan yang tepat.
Panggung LPB 3 HW pun menjadi lebih dari sekadar tempat unjuk bakat. Ia menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan suara kepedulian, mengingatkan pentingnya tanggung jawab bersama, dan berharap hadirnya tindakan nyata bagi masyarakat serta lingkungan.
Sebab, drama yang baik bukan hanya membuat penonton terkesan, tetapi juga meninggalkan pertanyaan, menumbuhkan empati, dan mendorong perubahan.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments