Malam di Jalan Sutho Raya RT 06 RW 02 Sendangagung terasa berbeda. Kamis malam, 22 Oktober 2026, tabuhan rancak dua jidor biru besar berpadu dengan hentakan gendung dan kempling rebana memecah kesunyian. Irama khas pesisir Lamongan itu mengalun hangat dari teras rumah Ketua PRM Sendangagung, Ahmad Muhtar.
Bukan tanpa alasan. Malam itu keluarga besar Ahmad Muhtar menggelar tradisi melekan, sebagai tanda syukur menjelang pernikahan putri sulungnya, Eka Rosyidatul Hayati dengan Muhammad Abduh yang akan dilangsungkan Sabtu, 24 Oktober 2026 besok.
Yang membuat malam itu istimewa, yang tampil adalah Jidor Pemuda Bersinar, grup seni binaan Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah (PRPM) Sendangagung asuhan Farih Hamdan, S.Pd.I.
Dengan seragam batik merah maron dan peci hitam yang kompak, sekitar belasan personel duduk lesehan di atas tikar hijau. Di depan mereka, gelas-gelas kopi, wedang jahe, dan deretan jajanan di piring menjadi saksi betapa musik dimainkan dengan hati, bukan sekadar tampil.
Suasana guyub langsung terasa. Bapak-bapak tamu duduk santai lesehan di teras, di bawah pohon jambu biji yang dipotong separo, mengangguk-angguk menikmati lagu sambil menyeruput kopi panas. Di sisi lain, di ruang depan, ibu-ibu cekatan mengadon onde-onde, mencetak kue rangen, dan menyiapkan ubo rampe hajatan sambil bertukar cerita. Tradisi yang saling menguatkan.
Ketua PRPM Sendangagung, Farih Hamdan, S.Pd.I., tak bisa menyembunyikan rasa bangganya.
“Alhamdulillah, Jidor Pemuda Bersinar makin sering dipercaya tampil di acara melekan seperti malam ini. Ini bukti bahwa Pemuda Muhammadiyah tidak hanya aktif di masjid, tapi juga punya paguyuban seni budaya yang dicintai warga,” tuturnya.
Menurutnya, panggung melekan adalah sekolah mental terbaik.
“Bagi kami, melekan bukan cuma hiburan. Ini ajang silaturahmi, dan panggung latihan mental bagi 20 pemuda debutan kami. Mereka belajar percaya diri, kompak, dan menghormati tradisi,” imbuh Farih.
Tepat pukul 22.30 WIB, tabuhan jidor perlahan mereda, diganti dengan keakraban dan canda sambil menikmati makan malam bersama. Sego Muduk gurih khas Sendangagung tersaji hangat bersama lauk pilihan, menutup malam dengan rasa syukur.
Malam itu membuktikan satu hal: ketika tradisi dijaga pemuda, dakwah kultural Muhammadiyah akan terus lestari, meriah, dan menghangatkan hati warga. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments