Semangat pantang menyerah mewarnai kegiatan Student Scout Camp 2026 SD Muhammadiyah 3 Ikrom Wage, Sidoarjo, saat para siswa menghadapi tantangan mendirikan tenda secara berkelompok di The Pinus Prigen, Kamis (22/10/2026).
Bagi sebagian siswa, mendirikan tenda menjadi pengalaman pertama yang penuh tantangan. Meski belum memiliki pengalaman, mereka tetap berusaha, saling membantu, dan belajar bekerja sama agar tenda kelompoknya dapat berdiri kokoh.
Rombongan Student Scout Camp 2026 berangkat dari SD Muhammadiyah 3 IKROM Wage pukul 08.30 WIB dan tiba di lokasi perkemahan sekitar pukul 10.30 WIB.
Setibanya di lokasi, seluruh peserta segera turun dari truk tentara yang mengangkut rombongan. Dengan penuh semangat, mereka membantu ustadz dan ustadzah menurunkan barang-barang bawaan dari truk.
Setelah seluruh barang diturunkan, para siswa bersama-sama memindahkannya ke area perkemahan. Tak berselang lama, suara peluit terdengar sebagai tanda seluruh peserta harus berkumpul untuk menerima arahan kegiatan selanjutnya.
Ketika pembina menyampaikan tantangan mendirikan tenda untuk setiap grup, para siswa spontan bersorak, “Hore!”
Sorakan tersebut menunjukkan tingginya antusiasme mereka menghadapi tantangan baru dalam kegiatan perkemahan.
Setelah menerima informasi mengenai nomor tenda masing-masing, para siswa segera membuka perlengkapan tenda dan mulai berusaha merangkai bagian-bagiannya.
Belum Pernah Mendirikan Tenda, Tetap Berani Mencoba
Suasana penuh semangat itu perlahan bercampur dengan kebingungan. Beberapa anggota grup Lily mengaku belum pernah mendirikan tenda sebelumnya.
“Waduh, bagaimana ini? Aku belum pernah sama sekali mendirikan tenda,” ungkap Sheza, salah satu anggota grup Lily.
“Aku juga, aku juga,” sahut beberapa temannya yang ternyata memiliki pengalaman serupa.
Tantangan itu ternyata tidak hanya dirasakan oleh para siswa. Nova Dia Ningtyas, SM, pembimbing regu tim Lily, juga mengakui bahwa dirinya belum pernah mendirikan tenda secara mandiri meskipun sudah beberapa kali mengikuti kegiatan camping.
“Maaf ya, Nak. Ustadzah beberapa kali camping, tetapi juga belum pernah mendirikan tenda sendiri,” ungkapnya kepada para siswa.
Pengakuan tersebut justru menjadi awal pembelajaran bersama. Pembimbing dan siswa sama-sama menghadapi tantangan yang belum pernah mereka selesaikan sebelumnya.
Alih-alih menyerah, anggota grup Lily tetap berusaha menyusun bagian-bagian tenda. Mereka mencoba merangkai frame atau kerangka tenda, meskipun hasilnya belum sesuai harapan.
Tenda yang awalnya berdiri kurang kokoh bahkan harus mengalami dua kali pergantian frame karena kesalahan pemasangan. Namun, usaha mereka tidak berhenti sampai di situ.
Dengan bantuan panitia, para siswa akhirnya berhasil mendirikan tenda yang berdiri kokoh.
Keberhasilan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi anggota grup Lily. Mereka belajar bahwa sebuah tantangan tidak harus langsung ditaklukkan dengan sempurna. Proses mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki, dan meminta bantuan merupakan bagian penting dari pembelajaran.
Belajar Pantang Menyerah dari Pengalaman Nyata
Nova Dia Ningtyas merasa bahwa keberhasilan mendirikan tenda bukan satu-satunya hal penting dalam pengalaman tersebut. Baginya, proses yang dilalui bersama para siswa justru menjadi ruang untuk menanamkan nilai-nilai karakter.
Meski merasa belum berhasil sepenuhnya mendirikan tenda bersama timnya, Nova menilai pengalaman itu telah membuka kesempatan bagi siswa untuk belajar menghadapi kesulitan secara langsung.
Melalui tantangan tersebut, siswa belajar tentang pantang menyerah, kerja sama, dan kemampuan menjaga ketenangan ketika menghadapi situasi yang tidak nyaman.
Pengalaman mendirikan tenda mengajarkan bahwa keberanian bukan berarti harus selalu mengetahui cara menyelesaikan persoalan. Keberanian juga berarti bersedia mencoba, belajar dari kesalahan, dan tidak malu meminta bantuan ketika menghadapi kesulitan.
Di alam terbuka, para siswa tidak hanya belajar mendirikan tempat berteduh. Mereka juga belajar membangun ketangguhan diri, menghargai kerja sama, serta memahami bahwa keberhasilan sering kali membutuhkan proses dan kesabaran. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments