Belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Enam siswa kelas IV SD Muhammadiyah 3 Ikrom membuktikan bahwa pengalaman langsung di lapangan dapat menjadi cara menyenangkan untuk mengenal keterampilan, proses produksi, dan dunia usaha. Melalui kegiatan Student Scout Camp (HW Camp) and Real Life, Regu Banteng berkesempatan belajar menjadi pengrajin gypsum di kawasan Pinus Prigen Camp.
Keenam siswa tersebut adalah Arga, Byram, Alif, Fatih, Rezka, dan Ibrahim. Dalam kegiatan ini, mereka mendapatkan pengalaman baru dengan mengenal proses pembuatan kerajinan gypsum secara langsung bersama Pak Budi dan Pak Kasmu, pelaku usaha gypsum yang mendampingi mereka selama kegiatan.
Dengan penuh antusias, para siswa mengamati sekaligus mencoba proses pengerjaan gypsum. Mereka diperkenalkan terlebih dahulu dengan bahan dan peralatan yang akan digunakan untuk membuat gypsum. Kemudian mencampur bahan tersebut dan menghasilkan sebuah produk. Semua proses tersebut membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan keterampilan.
Experiental Learning
Pengalaman tersebut memberikan gambaran nyata kepada siswa tentang pekerjaan seorang pengrajin. Mereka tidak hanya melihat hasil akhir sebuah produk, tetapi juga mengenal proses di balik pembuatannya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), yaitu pendekatan pembelajaran yang mengajak siswa belajar melalui keterlibatan langsung dalam suatu aktivitas. Melalui pengalaman tersebut, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada teori, tetapi terhubung dengan kehidupan sehari-hari.
Selain keterampilan praktis, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menumbuhkan karakter mandiri, tanggung jawab, kerja sama, dan sikap menghargai pekerjaan orang lain. Saat mengikuti proses pembuatan gypsum, para siswa belajar bahwa setiap pekerjaan memiliki tantangan dan membutuhkan usaha untuk menghasilkan sesuatu yang berkualitas.
Pendampingan dari Pak Budi dan Pak Kasmu turut memperkenalkan siswa pada dunia usaha secara sederhana. Dari kegiatan ini, siswa dapat mulai memahami bahwa sebuah produk lahir melalui proses kerja, keterampilan, dan ketekunan.
Pengalaman tersebut juga membuka wawasan mereka tentang beragam profesi yang dapat dipelajari sejak usia sekolah dasar.
Kegiatan Student Scout Camp and Real Life menjadi kesempatan bagi siswa untuk keluar dari rutinitas pembelajaran di kelas dan berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar.
Pengalaman Regu Banteng di Pinus Prigen Camp menunjukkan bahwa lingkungan masyarakat dapat menjadi sumber belajar yang bermakna. Ketika siswa diberi kesempatan untuk mencoba, mengamati, dan terlibat secara langsung, proses belajar terasa lebih dekat dengan realitas kehidupan.
Bagi Arga, Byram, Alif, Fatih, Rezka, dan Ibrahim, pengalaman menjadi pengrajin gypsum bukan sekadar aktivitas dalam perkemahan. Mereka mendapatkan pelajaran bahwa setiap keterampilan membutuhkan proses, setiap pekerjaan layak dihargai, dan setiap pengalaman dapat menjadi bekal untuk memahami kehidupan dengan lebih baik. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments