Sebuah diskusi menarik terjadi di antara bapak ibu guru di ruang rapat, ketika kepala sekolah melontarkan pertanyaan pemantik terkait hasil Sulingjar (Survei Lingkungan Belajar) yang dirilis oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Hasil capaian literasi siswa SMP (Sekolah Menengah Pertama) pada tahun 2025 menunjukkan penurunan sebesar 4,59 poin dibandingkan tahun 2024. Sontak, hal tersebut bagai petir di siang bolong.
Ruang rapat yang awalnya tenang mendadak riuh dengan berbagai argumen. Satu per satu peserta rapat mulai mengutarakan sudut pandang mereka terhadap fenomena tersebut.
Seperti halnya guru mata pelajaran Bahasa Indonesia yang menekankan pentingnya mengintensifkan gerakan membaca di perpustakaan dalam proses pembelajaran. Tidak hanya itu, ia juga menyoroti perlunya peningkatan kemampuan menulis siswa berdasarkan materi yang dibaca, mengingat hasil observasinya menunjukkan masih ada siswa SMP yang sedang berproses dalam membaca dan menulis.
Opini lain disampaikan oleh guru senior pengampu mata pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Berdasarkan pengamatannya di kelas, rata-rata siswa saat ini menginginkan materi yang disampaikan secara instan dan padat. Untuk mengakomodasi hal tersebut, ia mengemas materi dalam bentuk infografis, yaitu penyajian informasi kompleks melalui kombinasi visual seperti grafik, gambar, ilustrasi, dan tipografi agar lebih mudah dipahami.
Diskusi pun terus berlanjut. Para guru menanggapi fenomena yang sudah menjadi rahasia umum, yakni krisis literasi peserta didik. Tidak ada pendapat yang salah dalam diskusi tersebut. Semua pandangan memiliki dasar yang kuat dan sesuai dengan kaidah pedagogik pembelajaran. Berbagai upaya tersebut telah dilakukan dengan satu tujuan, yaitu agar peserta didik memperoleh hasil belajar yang maksimal, terutama dalam aspek literasi.
Lalu, mengapa penurunan indikator Sulingjar menjadi perhatian utama tenaga pendidik di Indonesia? Sepenting apakah hal tersebut?
Perlu dipahami bahwa Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar) merupakan alat ukur untuk mengevaluasi dan memetakan aspek pendukung kualitas pembelajaran di satuan pendidikan. Sulingjar mengukur berbagai aspek, mulai dari input hingga proses belajar-mengajar yang berdampak pada hasil belajar peserta didik.
Hasil Sulingjar dilaporkan sebagai bagian dari profil dan rapor pendidikan setiap satuan pendidikan serta pemerintah daerah. Data ini memberikan gambaran kualitas pendidikan, termasuk indikator kemampuan literasi peserta didik. Oleh karena itu, ketika terjadi penurunan literasi, hal tersebut menjadi perhatian serius yang harus segera dicarikan solusi.
Krisis literasi saat ini menjadi isu yang semakin mendesak. Hal ini ditandai dengan menurunnya kemampuan membaca, menulis, dan memahami teks secara komprehensif. Dampaknya sangat signifikan terhadap prestasi akademik siswa serta menghambat akses mereka terhadap pengetahuan yang esensial.
Literasi sendiri merupakan kemampuan untuk memahami, menggunakan, merefleksikan, dan terlibat dengan berbagai jenis teks untuk mencapai tujuan. Hal ini menjadi indikator penting dalam meningkatkan prestasi peserta didik (Christie, Stella. 2024).
Menurut data UNESCO, indeks literasi Indonesia pada tahun 2023 berada di angka 0,001%, yang berarti hanya 1 dari 1.000 peserta didik memiliki minat baca. Data ini diperkuat oleh penelitian Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Medan yang menunjukkan bahwa minat baca harian siswa masih rendah, yakni 1 dari 5 orang, dan 37% remaja usia 13–15 tahun memiliki kebiasaan membaca yang sangat kurang (Tesalonika Simbolon, Nadya et al. 2025).
Tidak dapat dipungkiri, peserta didik saat ini juga mengalami dampak learning loss selama pandemi COVID-19. Pada masa tersebut, pembelajaran tatap muka beralih menjadi daring, sehingga media digital menjadi aktor utama pengganti guru.
Sayangnya, dominasi media digital membuat peserta didik cenderung menghabiskan waktu untuk bermain game, menonton video, atau berselancar di media sosial. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan bahwa peserta didik menghabiskan rata-rata 8 jam 42 menit per hari untuk mengakses internet, tetapi hanya sekitar 8 menit untuk membaca. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan.
Memasuki era Society 5.0 yang berpusat pada manusia (human centric), dunia pendidikan dituntut untuk serba cepat dan praktis. Namun demikian, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan pemecahan masalah kompleks tetap harus menjadi fokus utama.
Menurut penulis yang juga guru PJOK (Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan), berbagai metode pembelajaran seperti project based learning, problem based learning, discovery learning, role play, inquiry, hingga peer teaching dapat digunakan. Namun, yang terpenting adalah bagaimana guru mampu mendesain pembelajaran yang menyenangkan (joyful), bermakna (meaningful), dan berkesadaran (mindful) sesuai dengan pendekatan deep learning.
Tujuan utamanya adalah memindahkan informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang.
Siswa yang terbiasa membaca, menulis kembali materi, lalu menjelaskan kepada orang lain merupakan contoh peserta didik yang mampu menginternalisasi pengetahuan secara optimal (Nurhabibah, P. et al. 2023).
Perlu dipahami bahwa kegiatan membaca dan menulis melibatkan berbagai area otak yang bekerja secara sinergis. Aktivitas ini mengaktifkan korteks motorik serta area Broca dan Wernicke yang berperan dalam pembentukan dan pemahaman bahasa. Selanjutnya, informasi tersebut diproses dan disimpan dalam hippocampus sebagai memori jangka panjang.
Dengan demikian, melalui inovasi pembelajaran dan penguatan literasi yang dilakukan secara konsisten, terarah, dan berkesinambungan, peserta didik diharapkan mampu menjadi generasi yang cerdas, kritis, dan kreatif.
Upaya ini diharapkan dapat membalikkan tren penurunan minat baca, membentuk masyarakat yang lebih literat di masa depan, serta membawa bangsa menuju kemajuan yang gemilang.





0 Tanggapan
Empty Comments