Dalam sejarah peradaban manusia, kesombongan kerap menjadi awal kehancuran, baik bagi individu maupun suatu bangsa. Dalam Islam, sombong merupakan penyakit hati yang ditandai dengan keangkuhan, meremehkan orang lain, serta merasa diri lebih mulia.
Rasulullah SAW bersabda:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim no. 91).
Sifat sombong sejatinya berakar dari dalam hati manusia. Ulama besar Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa kesombongan yang tampak secara lahir merupakan cerminan kondisi batin. Jika tampak dalam tindakan disebut takabur (التَّكَبُّرُ), sedangkan yang tersembunyi di dalam hati disebut kibr (الْكِبْرُ).
Kesombongan sebagai Penyakit Hati
Kesombongan muncul dari dorongan hawa nafsu untuk diakui dan dipuji. Ia hadir ketika seseorang memiliki sesuatu yang dibanggakan, sekaligus merendahkan pihak lain.
Sikap ini tidak hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga bertentangan dengan nilai Islam yang menjunjung tinggi kesetaraan dan tawadhu. Al-Qur’an menghadirkan berbagai kisah umat terdahulu sebagai pelajaran berharga.
Menariknya, pada zaman Musa, terdapat tiga bentuk kesombongan utama: kekuasaan, kekayaan, dan keilmuan.
1. Firaun: Kesombongan Kekuasaan
Tokoh Firaun menjadi simbol kesombongan dalam kekuasaan. Ia bukan hanya penguasa tiran, bahkan mengaku sebagai tuhan.
Allah Swt mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menyerunya kembali ke jalan kebenaran. Namun, Firaun justru menolak dan menghina mereka.
Puncak kesombongannya diabadikan dalam firman Allah:
“(Seraya) berkata, ‘Akulah tuhanmu yang paling tinggi’.”
Kesombongan Firaun lahir dari kekuasaan yang tidak tergoyahkan. Ia merasa seluruh negeri Mesir berada dalam genggamannya. Namun, akhir hidupnya tragis—ditenggelamkan di laut, menjadi bukti bahwa kekuasaan hanyalah titipan.
2. Qarun: Kesombongan Harta
Tokoh Qarun mewakili kesombongan karena kekayaan. Ia awalnya bagian dari kaum Nabi Musa, namun berubah setelah dianugerahi harta melimpah.
Bahkan, kunci-kunci gudang hartanya begitu banyak hingga harus dipikul oleh orang-orang kuat.
Kesombongan Qarun tampak saat ia mengklaim bahwa kekayaannya diperoleh dari ilmunya sendiri, tanpa mengakui karunia Allah.
Dalam QS. Al-Ankabut ayat 39, Allah menyebut Qarun bersama Firaun dan Haman sebagai golongan yang berlaku sombong di muka bumi.
Akhirnya, Qarun beserta hartanya ditenggelamkan ke dalam bumi. Kisah ini menjadi peringatan agar manusia tidak menjadikan harta sebagai sumber kesombongan.
3. Nabi Musa As: Pelajaran dari Ilmu
Berbeda dengan Firaun dan Qarun, kisah Nabi Musa memberikan pelajaran bahwa kesombongan juga bisa menyentuh orang saleh.
Kisah ini bermula ketika beliau ditanya:
“Wahai Nabi Musa, adakah di muka bumi ini orang yang lebih alim darimu?”
Beliau menjawab bahwa tidak ada. Jawaban ini kemudian mendapat teguran dari Allah.
Allah menunjukkan bahwa ada seorang hamba-Nya, yaitu Khidir, yang memiliki ilmu yang tidak dimiliki Nabi Musa.
Peristiwa ini menjadi pelajaran penting bahwa ilmu harus disertai kerendahan hati. Sebab, di atas langit masih ada langit.
Penutup
Dari tiga kisah tersebut, terdapat pelajaran penting bahwa kesombongan muncul ketika manusia lupa bahwa segala yang dimilikinya hanyalah titipan.
Firaun lupa bahwa kekuasaan adalah amanah. Qarun lupa bahwa harta adalah pemberian Allah. Bahkan ilmu pun dapat menjadi sumber kesombongan jika tidak disertai ketawadhuan.
Sebagai manusia, kita perlu terus bermuhasabah agar terhindar dari sifat sombong. Belajar dari kisah Firaun dan Qarun, serta meneladani sikap Nabi Musa yang mau menerima teguran, menjadi langkah penting dalam menjaga hati tetap rendah dan bersih.





0 Tanggapan
Empty Comments